Kisah Pencarian Emas Hitam Rempah-rempah Maluku oleh Portugis Berujung Perang dengan Sultan Baabullah
Senin, 16 Desember 2024 - 07:28 WIB
loading...
A
A
A
Awal peperangan itu adalah pembunuhan Sultan Khairun yang memerintah 1537-1570 yang dikhianati oleh seorang prajurit Portugis di Benteng Gamalama.
Pengkhianatan dari pihak Portugis itu membangkitkan perlawanan Sultan Baabullah (1570-1584), putra Khairun. Baabulah mengepung benteng Portugis tersebut selama lima tahun.
Selain itu, Baabullah juga berhasil mengerahkan daerah-daerah lainnya di Maluku (kecuali Tidore) untuk melawan Portugis.
Wilayah-wilayah yang melawannya, seperti Bacan, dihancurkannya. Berkali-kali ia mengirim armada-armada kora-kora Ternate ke kepulauan Ambon untuk menyerang desa-desa yang penduduknya telah beragama Kristen Katolik.
Benteng Gamalama dikepungnya secara ketat, sehingga tidak seorang Portugis pun dapat memasuki atau meninggalkannya.
Sejak pemerintahan Baabullah, Ternate menjadi pusat perdagangan yang paling ramai di Maluku. Hak monopoli Portugis dihapus, dan Ternate dijadikan pelabuhan bebas.
Para pedagang Cina, Jawa, Melayu, dan lainnya, dengan bebas berdagang di Ternate. Sementara itu, benteng Gamalama yang dikepung rapat sejak tahun 1570 itu menyebabkan penghuni benteng kekurangan makanan serta berjangkitnya penyakit.
Pengkhianatan dari pihak Portugis itu membangkitkan perlawanan Sultan Baabullah (1570-1584), putra Khairun. Baabulah mengepung benteng Portugis tersebut selama lima tahun.
Selain itu, Baabullah juga berhasil mengerahkan daerah-daerah lainnya di Maluku (kecuali Tidore) untuk melawan Portugis.
Wilayah-wilayah yang melawannya, seperti Bacan, dihancurkannya. Berkali-kali ia mengirim armada-armada kora-kora Ternate ke kepulauan Ambon untuk menyerang desa-desa yang penduduknya telah beragama Kristen Katolik.
Benteng Gamalama dikepungnya secara ketat, sehingga tidak seorang Portugis pun dapat memasuki atau meninggalkannya.
Sejak pemerintahan Baabullah, Ternate menjadi pusat perdagangan yang paling ramai di Maluku. Hak monopoli Portugis dihapus, dan Ternate dijadikan pelabuhan bebas.
Para pedagang Cina, Jawa, Melayu, dan lainnya, dengan bebas berdagang di Ternate. Sementara itu, benteng Gamalama yang dikepung rapat sejak tahun 1570 itu menyebabkan penghuni benteng kekurangan makanan serta berjangkitnya penyakit.
(shf)
Lihat Juga :