Kisah Petani Muda Aceh Utara Hidup Sejahtera dari Pertanian Modern
Rabu, 11 Desember 2024 - 18:53 WIB
loading...
Marwan, petani muda asal Lhoksukon, Aceh Utara berhasil meningkatkan kesejahteraan setelah menerapkan pertanian modern. Foto/istimewa
A
A
A
ACEH - Marwan, petani muda asal Lhoksukon, Aceh Utara berhasil meningkatkan kesejahteraan setelah menerapkan pertanian modern. Petani berusia 24 tahun petani muda asal Lhoksukon, Aceh Utara, mengaku mendapat penghasilan Rp20-30 juta per bulan dari kegiatannya sebagai operator alat mesin pertanian .
Hal diungkapkannya di hadapan Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman saat apel Brigade Pangan di Lhoksukon, Aceh Utara, Selasa,10 Desember 2024.
Menurut Marwan, dalam sehari ia bisa menyelesaikan 2 hektare lahan, dengan penghasilan kotor Rp6 juta atau penghasilan bersihnya perhari mencapai Rp1,5 juta. "Saya tidak menghitung rincinya, tapi kalau tidak ada kendala, sebulan bisa Rp20-30 juta," ungkapnya.
Meski demikian, Marwan mengaku ada sejumlah kendala yang dihadapi. Di antaranya kondisi alam yang tidak menentu, seperti jika datang hujan. Menurut pengakuannya, jika hujan turun, padi akan basah dan dirinya tidak bisa mengoperasikan combine harvester untuk memanen padi.
Baca juga: Dukung Ketahanan Pangan, Pertanian Bawang Merah Dikembangkan di Malang
Marwan merasa sangat bersyukur, bisa bergabung dengan brigade pangan. Pemuda asal Lhoksukon ini mengaku baru 6 bulan menjadi operator alsintan. "Sebelumnya saya cuma menganggur," sebutnya.
Sementara itu, Mentan Amran mengapresiasi anak muda seperti Marwan mau terjun ke sektor pertanian. Apa yang ditunjukkan Marwan membuktikan sektor pertanian semakin menjanjikan untuk meningkatkan kesejahteraan.
Hal diungkapkannya di hadapan Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman saat apel Brigade Pangan di Lhoksukon, Aceh Utara, Selasa,10 Desember 2024.
Menurut Marwan, dalam sehari ia bisa menyelesaikan 2 hektare lahan, dengan penghasilan kotor Rp6 juta atau penghasilan bersihnya perhari mencapai Rp1,5 juta. "Saya tidak menghitung rincinya, tapi kalau tidak ada kendala, sebulan bisa Rp20-30 juta," ungkapnya.
Meski demikian, Marwan mengaku ada sejumlah kendala yang dihadapi. Di antaranya kondisi alam yang tidak menentu, seperti jika datang hujan. Menurut pengakuannya, jika hujan turun, padi akan basah dan dirinya tidak bisa mengoperasikan combine harvester untuk memanen padi.
Baca juga: Dukung Ketahanan Pangan, Pertanian Bawang Merah Dikembangkan di Malang
Marwan merasa sangat bersyukur, bisa bergabung dengan brigade pangan. Pemuda asal Lhoksukon ini mengaku baru 6 bulan menjadi operator alsintan. "Sebelumnya saya cuma menganggur," sebutnya.
Sementara itu, Mentan Amran mengapresiasi anak muda seperti Marwan mau terjun ke sektor pertanian. Apa yang ditunjukkan Marwan membuktikan sektor pertanian semakin menjanjikan untuk meningkatkan kesejahteraan.
Lihat Juga :