alexametrics

Ternyata Ritual Keraton Agung Sejagat Ganggu Ibadah Salat Warga

loading...
Ternyata Ritual Keraton Agung Sejagat Ganggu Ibadah Salat Warga
Tertangkapnya Raja dan Ratu Keraton Agung Sejagat disambut gembira warga Purworejo Jawa Tengah. Mereka mengaku bersyukur, karena selama ini ibadah warga terganggu dengan aktivitas keraton yang dinilai tak mengenal waktu. Foto Dok SINDOnews
A+ A-
PURWOREJO - Tertangkapnya Raja dan Ratu Keraton Agung Sejagat disambut gembira warga Purworejo Jawa Tengah. Mereka mengaku bersyukur, karena selama ini terganggu dengan aktivitas keraton yang dinilai tak mengenal waktu. Keraton itu berdiri di Desa Pogung Jurutengah, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo. Ratusan pengikut dari berbagai daerah berdatangan untuk mengikuti ritual yang dilakukan hingga malam hari.

"Kegiatan mereka itu tidak mengenal waktu. Saat Maghrib dia masih ada kegiatan, waktu Asar, hingga Isya juga tetap melanjutkan kegiatan," kata ibu muda Tri Widati, Kamis (16/1/2020). (Baca: Ini Jumlah Uang Tabungan Raja Keraton Agung Sejagat di Bank)

Perempuan yang akrab disapa Wiwik itu menyampaikan, meski Azan berkumandang namun kegiatan tetap berjalan. Akibatnya, warga merasa terganggu karena tak dapat beribadah dengan nyaman dan tenang.



"Dia (pihak keraton) tidak menghormati kami sebagai yang muslim pada waktu Asar, Isya juga mereka tetap melanjutkan kegiatan tersebut. Padahal Azan itu berkumandang dekat sekali," terangnya.

"Mohon kepada aparat keamanan untuk segera menindaklanjuti ini, supaya semuanya tuntas dan desa kami kembali aman dan damai. Kami bisa beribadah dengan tenang dan saudara-saudara kami juga bisa tenang kembali," harap dia.

Keraton itu berdiri di Desa Pogung Jurutengah, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo. Ratusan pengikut dari berbagai daerah berdatangan untuk mengikuti ritual yang dilakukan hingga malam hari.

"Kegiatan mereka itu tidak mengenal waktu. Saat Maghrib dia masih ada kegiatan, waktu Asar, hingga Isya juga tetap melanjutkan kegiatan," kata ibu muda Tri Widati, Kamis (16/1/2020).

Perempuan yang akrab disapa Wiwik itu menyampaikan, meski Azan berkumandang namun kegiatan tetap berjalan. Akibatnya, warga merasa terganggu karena tak dapat beribadah dengan nyaman dan tenang.

"Dia (pihak keraton) tidak menghormati kami sebagai yang muslim pada waktu Asar, Isya juga mereka tetap melanjutkan kegiatan tersebut. Padahal Azan itu berkumandang dekat sekali," terangnya.

"Mohon kepada aparat keamanan untuk segera menindaklanjuti ini, supaya semuanya tuntas dan desa kami kembali aman dan damai. Kami bisa beribadah dengan tenang dan saudara-saudara kami juga bisa tenang kembali," harap dia.
(sms)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak