Kisah 4 Srikandi di Balik Kebesaran Kerajaan Mataram Kuno
Jum'at, 22 November 2024 - 07:55 WIB
loading...
A
A
A
Sedangkan, sosok Ibu ni Paduka Sri Maharaja adalah ibunda raja. Namanya disebut dalam Prasasti Jayapattra yang merupakan prasasti berisi penegasan hukum atau Desa Waharu sebagai desa perdikan yang telah memiliki penduduknya sejak lama.
Sosok Rakryan Anakbi dan Samgat Anakbi, kata anakbi yang berarti istri atau perempuan, jadi keduanya merupakan Rakryan Anakbi dijumpai di antara deretan para Rakai dan Samgat Sarangan di dalam Prasasti Sarangan. Pada silsilah pejabat di era Kerajaan Mataram Kuno, Rakryan berarti pejabat tingkat dua di mana kedudukannya di bawah raja dan rakai.
Kemudian, sosok Samgat Anakbi Dyah Pendel disebut dalam Prasasti Hring pada tahun 851 saka. Dari gelar Samgat yang dicantumkan pada namanya, dia tentu seorang pejabat keagamaan atau kehakiman. Dia mendapat pasak-pasak sejumlah lima suwarna emas, jumlah yang sama dengan yang diterima oleh raja.
Namun, sebenarnya keberadaan tokoh perempuan di tingkat wanua sudah diawali jauh sebelum masa pemerintahan Mpu Sindok. Sejak masa pemerintahan Raja Rakai Kayuwangi kurang lebih 802 saka, beberapa pekerjaan penting telah dipegang perempuan, misalnya marhyang atau pengurus bangunan suci, huler atau petugas irigasi, tuha banua atau petugas administrasi desa.
Sosok Rakryan Anakbi dan Samgat Anakbi, kata anakbi yang berarti istri atau perempuan, jadi keduanya merupakan Rakryan Anakbi dijumpai di antara deretan para Rakai dan Samgat Sarangan di dalam Prasasti Sarangan. Pada silsilah pejabat di era Kerajaan Mataram Kuno, Rakryan berarti pejabat tingkat dua di mana kedudukannya di bawah raja dan rakai.
Kemudian, sosok Samgat Anakbi Dyah Pendel disebut dalam Prasasti Hring pada tahun 851 saka. Dari gelar Samgat yang dicantumkan pada namanya, dia tentu seorang pejabat keagamaan atau kehakiman. Dia mendapat pasak-pasak sejumlah lima suwarna emas, jumlah yang sama dengan yang diterima oleh raja.
Namun, sebenarnya keberadaan tokoh perempuan di tingkat wanua sudah diawali jauh sebelum masa pemerintahan Mpu Sindok. Sejak masa pemerintahan Raja Rakai Kayuwangi kurang lebih 802 saka, beberapa pekerjaan penting telah dipegang perempuan, misalnya marhyang atau pengurus bangunan suci, huler atau petugas irigasi, tuha banua atau petugas administrasi desa.
(jon)
Lihat Juga :