Kisah Jenderal Kopassus Letjen Sutiyoso Menyamar Jadi Sopir untuk Tangkap Pimpinan GAM di Pedalaman Aceh
Selasa, 08 Oktober 2024 - 18:34 WIB
loading...
A
A
A
Tanpa rasa curiga pengusaha tersebut memenuhi permintaan Sutiyoso. Pada hari yang ditetapkan, pengusaha bersama sekretarisnya seorang pria akhirnya datang ke kediaman Sutiyoso.
Saat pertemuan baru dimulai, Sutiyoso yang didampingi Kapten Lintang Waluyo seorang perwira intel Kodam Iskandar Muda langsung menodongkan pistol kepada pengusaha tersebut. Sutiyoso kemudian mengorek keterangan mengenai keberadaan Hasan Tiro Cs.
Mendapat ancaman tersebut, pengusaha yang ketakutan kemudian membeberkan jika dirinya ditugaskan mengumpulkan dana untuk biaya Usman pergi ke Badan Keamanan PBB di New York, Amerika Serikat.
Sementara Usman sudah berada di rumah kakaknya di Medan, Sumatera Utara.
Sutiyoso bersama pengusaha dan sekretarisnya kemudian menyewa pesawat khusus yang langsung pergi ke Medan. Masalah kemudian muncul karena Medan bukan bagian dari Kodam Iskandar Muda tempat Sutiyoso menggelar operasi.
Setibanya di Polonia, Medan, Sutiyoso langsung menuju Guest House Kodam Iskandar Muda dan selanjutnya bergerak ke Kodam II/Bukit Barisan.
Kepada Asisten Intelijen, Sutiyoso mengaku sebagai perwira menengah pasukan Komando Sandiyudha dan memohon agar mendapat bantuan satu detasemen intelijen.
Akan tetapi, upaya Sutiyoso tidak mendapat respons karena Asisten Intelijen tersebut juga ingin menangkap sendiri petinggi GAM. Akhirnya Sutiyoso keluar dengan tangan hampa.
Sambil memutar otak, Sutiyoso ang berpengalaman dalam penumpasan gerilyawan PGRS/Paraku di belantara Kalimantan, Operasi Timor Timur (Timtim) sekarang bernama Timor Leste akhirnya memutuskan untuk menangkap petinggi GAM itu sendirian.
Sutiyoso yang dikenal sebagai "Jenderal Lapangan" kenyang dengan pengalaman tempur berpikir keras. Dia hanya membutuhkan dua mobil untuk menjalankan tugas operasinya tersebut.
Hingga akhirnya bisa mendapatkan mobil Toyota Hardtop dari LNG Lhokseumawe dan mobil sedan dari kenalannya di Medan. Sutiyoso pun kembali ke Guest House Iskandar Muda menemui pengusaha tersebut.
Strategi yang akan dijalankan pun dirancang. Sutiyoso meminta agar pengusaha tersebut menjadikan dirinya sebagai sopir pribadi yang baru dari Makassar dan belum menguasai bahasa Aceh.
Sutiyoso berpesan agar pengusaha tersebut benar-benar memperlakukannya sebagai sopir pribadi agar orang yang diburunya tidak curiga.
Dengan mengendarai dua mobil yang dipinjamnya, Sutiyoso didampingi tiga anggotanya bergerak menuju rumah kakak Usman. Selama dalam perjalanan, Sutiyoso kembali menekankan pengusaha dan sekretarisnya untuk tidak macam-macam.
”Kamu bilang saja duitnya sudah ada, tapi di hotel harus ambil sendiri karena takut membawanya. Jangan coba-coba melarikan diri, kamu berdua bisa mati sebab rumah tersebut sudah dikepung pasukan saya,” gertak Sutiyoso.
Setelah disepakati, Sutiyoso kemudian menjadi sopir pribadi si pengusaha bergerak menuju kediaman kakak Usman. Pengusaha duduk di sebelah kirinya, sedangkan sekretarisnya duduk di jok belakang mobil Toyota Hardtop.
Sementara Lintang, Darno dan seorang polisi penerjemah membuntutinya dengan mobil sedan dari belakang.
Kepada ketiga anggotanya, Sutiyoso memberitahu kode atau isyarat jika mobil yang dikendarainya mengedipkan lampu pendek dua kali dan lampu panjang sekali, itu artinya sasaran sudah masuk mobilnya.
Kode itu juga berarti memerintahkan mobil yang kendarai ketiga anggotanya untuk langsung memepet dan mereka harus segera masuk ke mobil untuk memborgol Usman.
Setibanya di rumah yang dituju, Sutiyoso parkir di seberang sementara Kapten Lintang parkir agar jauh di belakang sekitar 75 meter dan di tempat gelap.
Detik demi detik yang dilalui Sutiyoso cukup menegangkan. Bahkan, Sutiyoso mengaku deg-degan mengingat kekuatan untuk menangkap petinggi GAM hanya empat orang.
Sekitar 10 menit kemudian, Sutiyoso kaget karena sekretaris keluar rumah dengan tergesa-gesa.
Saat pertemuan baru dimulai, Sutiyoso yang didampingi Kapten Lintang Waluyo seorang perwira intel Kodam Iskandar Muda langsung menodongkan pistol kepada pengusaha tersebut. Sutiyoso kemudian mengorek keterangan mengenai keberadaan Hasan Tiro Cs.
Mendapat ancaman tersebut, pengusaha yang ketakutan kemudian membeberkan jika dirinya ditugaskan mengumpulkan dana untuk biaya Usman pergi ke Badan Keamanan PBB di New York, Amerika Serikat.
Sementara Usman sudah berada di rumah kakaknya di Medan, Sumatera Utara.
Sutiyoso bersama pengusaha dan sekretarisnya kemudian menyewa pesawat khusus yang langsung pergi ke Medan. Masalah kemudian muncul karena Medan bukan bagian dari Kodam Iskandar Muda tempat Sutiyoso menggelar operasi.
Setibanya di Polonia, Medan, Sutiyoso langsung menuju Guest House Kodam Iskandar Muda dan selanjutnya bergerak ke Kodam II/Bukit Barisan.
Kepada Asisten Intelijen, Sutiyoso mengaku sebagai perwira menengah pasukan Komando Sandiyudha dan memohon agar mendapat bantuan satu detasemen intelijen.
Akan tetapi, upaya Sutiyoso tidak mendapat respons karena Asisten Intelijen tersebut juga ingin menangkap sendiri petinggi GAM. Akhirnya Sutiyoso keluar dengan tangan hampa.
Sambil memutar otak, Sutiyoso ang berpengalaman dalam penumpasan gerilyawan PGRS/Paraku di belantara Kalimantan, Operasi Timor Timur (Timtim) sekarang bernama Timor Leste akhirnya memutuskan untuk menangkap petinggi GAM itu sendirian.
Sutiyoso yang dikenal sebagai "Jenderal Lapangan" kenyang dengan pengalaman tempur berpikir keras. Dia hanya membutuhkan dua mobil untuk menjalankan tugas operasinya tersebut.
Hingga akhirnya bisa mendapatkan mobil Toyota Hardtop dari LNG Lhokseumawe dan mobil sedan dari kenalannya di Medan. Sutiyoso pun kembali ke Guest House Iskandar Muda menemui pengusaha tersebut.
Strategi yang akan dijalankan pun dirancang. Sutiyoso meminta agar pengusaha tersebut menjadikan dirinya sebagai sopir pribadi yang baru dari Makassar dan belum menguasai bahasa Aceh.
Sutiyoso berpesan agar pengusaha tersebut benar-benar memperlakukannya sebagai sopir pribadi agar orang yang diburunya tidak curiga.
Dengan mengendarai dua mobil yang dipinjamnya, Sutiyoso didampingi tiga anggotanya bergerak menuju rumah kakak Usman. Selama dalam perjalanan, Sutiyoso kembali menekankan pengusaha dan sekretarisnya untuk tidak macam-macam.
”Kamu bilang saja duitnya sudah ada, tapi di hotel harus ambil sendiri karena takut membawanya. Jangan coba-coba melarikan diri, kamu berdua bisa mati sebab rumah tersebut sudah dikepung pasukan saya,” gertak Sutiyoso.
Setelah disepakati, Sutiyoso kemudian menjadi sopir pribadi si pengusaha bergerak menuju kediaman kakak Usman. Pengusaha duduk di sebelah kirinya, sedangkan sekretarisnya duduk di jok belakang mobil Toyota Hardtop.
Sementara Lintang, Darno dan seorang polisi penerjemah membuntutinya dengan mobil sedan dari belakang.
Kepada ketiga anggotanya, Sutiyoso memberitahu kode atau isyarat jika mobil yang dikendarainya mengedipkan lampu pendek dua kali dan lampu panjang sekali, itu artinya sasaran sudah masuk mobilnya.
Kode itu juga berarti memerintahkan mobil yang kendarai ketiga anggotanya untuk langsung memepet dan mereka harus segera masuk ke mobil untuk memborgol Usman.
Setibanya di rumah yang dituju, Sutiyoso parkir di seberang sementara Kapten Lintang parkir agar jauh di belakang sekitar 75 meter dan di tempat gelap.
Detik demi detik yang dilalui Sutiyoso cukup menegangkan. Bahkan, Sutiyoso mengaku deg-degan mengingat kekuatan untuk menangkap petinggi GAM hanya empat orang.
Sekitar 10 menit kemudian, Sutiyoso kaget karena sekretaris keluar rumah dengan tergesa-gesa.
Lihat Juga :