Santri di Sekitar Bantar Gebang Bekasi Diajari Ubah Sampah Kulit Telur Jadi Produk Bernilai Ekonomi
Sabtu, 28 September 2024 - 21:04 WIB
loading...
A
A
A
Rahmi optimistis program ini dapat menciptakan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dari tingkat RT hingga provinsi. Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi untuk membangun sirkulasi ekonomi yang berdampak positif bagi lingkungan.
Pesantren Tunas Mulia menyambut baik inisiatif ini. Renaldi, Dewan Pengarah Pesantren, menyatakan bahwa program ini membangun pola pikir santri tentang pentingnya pendidikan dan keterampilan untuk meningkatkan kompetensi diri. Ia berharap kegiatan ini dapat mendorong para santri untuk melihat potensi lain selain menjadi pemulung.
Selain pengelolaan sampah kulit telur, program ini juga menyoroti pentingnya menjaga kualitas air dan lingkungan di sekitar TPA. Heru Dwi dan Nur Fadillah mengungkapkan bahwa salah satu masalah yang dihadapi adalah pencemaran air oleh lindi, cairan berbahaya yang terbentuk ketika air hujan meresap melalui tumpukan sampah. Oleh karena itu, pemantauan kualitas air perlu dilakukan oleh warga setempat dengan dukungan dari Dinas Lingkungan Hidup.
Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan bahwa pada 2022, timbunan sampah nasional mencapai 21,1 juta ton, dengan 34,29% sampah belum terkelola dengan baik. Oleh karena itu, pentingnya pengelolaan sampah yang bernilai ekonomi melalui penerapan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) semakin relevan. Program pengmas Vokasi UI ini diharapkan menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat di sekitar TPA Bantar Gebang.
Dengan adanya inisiatif ini, diharapkan dapat tercipta kesadaran yang lebih luas tentang pentingnya pengelolaan sampah, sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Pesantren Tunas Mulia menyambut baik inisiatif ini. Renaldi, Dewan Pengarah Pesantren, menyatakan bahwa program ini membangun pola pikir santri tentang pentingnya pendidikan dan keterampilan untuk meningkatkan kompetensi diri. Ia berharap kegiatan ini dapat mendorong para santri untuk melihat potensi lain selain menjadi pemulung.
Selain pengelolaan sampah kulit telur, program ini juga menyoroti pentingnya menjaga kualitas air dan lingkungan di sekitar TPA. Heru Dwi dan Nur Fadillah mengungkapkan bahwa salah satu masalah yang dihadapi adalah pencemaran air oleh lindi, cairan berbahaya yang terbentuk ketika air hujan meresap melalui tumpukan sampah. Oleh karena itu, pemantauan kualitas air perlu dilakukan oleh warga setempat dengan dukungan dari Dinas Lingkungan Hidup.
Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan bahwa pada 2022, timbunan sampah nasional mencapai 21,1 juta ton, dengan 34,29% sampah belum terkelola dengan baik. Oleh karena itu, pentingnya pengelolaan sampah yang bernilai ekonomi melalui penerapan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) semakin relevan. Program pengmas Vokasi UI ini diharapkan menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat di sekitar TPA Bantar Gebang.
Dengan adanya inisiatif ini, diharapkan dapat tercipta kesadaran yang lebih luas tentang pentingnya pengelolaan sampah, sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
(abd)
Lihat Juga :