Kisah Tokoh PKI Nyono Buka Tabir Misteri Gerakan 30 September 1965

Sabtu, 21 September 2024 - 06:47 WIB
loading...
Kisah Tokoh PKI Nyono...
Partai Komunis Indonesia (PKI) kerap membuat acara-acara untuk menarik perhatian masyarakat di Indonesia. Foto/Istimewa
A A A
GERAKAN 30 September 1965 (G30S PKI) dipimpin Dewan Revolusi diredam dengan cepat oleh pasukan RPKAD di bawah komando Sarwo Edhie Wibowo. Pasukan ini merebut Radio Republik Indonesia (RRI) yang dikuasai Dewan Revolusi, menghentikan propaganda mereka.

Beberapa pemimpin penting Partai Komunis Indonesia (PKI) seperti DN Aidit, Njoto, dan Letkol Untung Sutopo yang sempat melarikan diri, akhirnya ditangkap dan dieksekusi untuk mempertanggungjawabkan perbuatan keji mereka.

Di sisi lain, jenazah para perwira tinggi Angkatan Darat yang diculik dan dituduh oleh Dewan Revolusi sebagai anggota Dewan Jenderal ditemukan di sumur Lubang Buaya.

Bagaimana gerakan ini pertama kali diungkap? Menurut bukuJenderal Yoga: Loyalis di Balik Layar(2018), salah satu kunci pengungkapan G30S PKI adalah penangkapan Nyono, seorang tokoh terkemuka dari CC PKI (Central Committee).

Baca juga: Kisah Tragis Lettu Sudaryanto, Gugur dalam Pelukan Prabowo Subianto di Operasi Seroja Timor Timur

Nyono, yang merupakan Ketua Serikat Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI), menjadi salah satu pimpinan PKI pertama yang ditangkap setelah peristiwa tersebut. Ia berusaha menyamar dengan mengaku sebagai Tugimin, tetapi usahanya gagal.

Nyono ditangkap di Jakarta Pusat bersama beberapa anggota Pemuda Rakyat. Saat diinterogasi, ia mengakui bahwa dirinya mengikuti beberapa diskusi yang dihadiri oleh DN Aidit, Njoto, Lukman, Sanusi, Sudisman, dan Ir. Sakirman menjelang terjadinya G30S.

Beberapa tokoh Politbiro yang tidak hadir dalam diskusi itu adalah Rewang, yang berada di Jawa Tengah, serta Jusuf Adjitorop, yang berada di Beijing.

Menurut Nyono, Dewan CC PKI menugaskan berbagai komite, termasuk Commite Jakarta Raya, untuk melaksanakan perebutan kekuasaan secara konsisten. Tugas serupa juga diberikan kepada komite-komite di daerah lain.

Baca juga: Kisah Cinta Idjon Djanbi, Legenda Kopassus yang Ceraikan Wanita Inggris demi Mojang Sunda

Dalam pengakuannya, Nyono mengungkap bahwa PKI telah merancang tiga tahap operasi yang dikenal sebagai Ampera I, Ampera II, dan Ampera III sebagai bagian dari strategi kudeta, yakni: Gerakan Ampera I berfokus pada upaya kudeta di pusat pemerintahan.

Kedua, Gerakan Ampera II melibatkan pembunuhan besar-besaran terhadap tokoh-tokoh dari golongan lain, dengan daftar nama yang sudah disusun oleh PKI di setiap daerah. Mereka menyiapkan lubang-lubang yang disebut sebagai "kolam ikan" untuk menguburkan para korban.

Terakhir, Gerakan Ampera IIIbertujuan untuk membentuk pemerintahan baru yang sepenuhnya dikuasai oleh PKI. Nyono sendiri diangkat sebagai pelaksana operasi di Jakarta, sementara DN Aidit ditunjuk sebagai panglima tertinggi operasi militer G30S PKI.

Aidit juga yang menyusun Dewan Revolusi dan menentukan hari pelaksanaan gerakan tersebut. Nyono bertanggung jawab atas perekrutan sukarelawan, dengan sedikitnya 5.000 orang yang telah digalang untuk membantu pelaksanaan aksi di berbagai sektor.

Baca juga: Kisah Hidup Jenderal Dudung, Mantan KSAD yang Pernah Ditempeleng Mayor Gegara Koran Jatuh

Namun, rencana besar ini akhirnya gagal. Menurut Nyono, kegagalan terjadi karena terhambatnya pelaksanaan instruksi di lapangan. Pada akhirnya, gerakan ini berakhir dengan penangkapan para pemimpin, kader, dan simpatisan PKI.

Pada 12 Maret 1966, PKI secara resmi dibubarkan dinyatakan sebagai partai terlarang. Peristiwa ini menandai titik balik penting dalam sejarah politik Indonesia, sekaligus menutup lembaran kelam dari usaha perebutan kekuasaan oleh PKI.
(ams)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
196 Tahun Keris Kanjeng...
196 Tahun Keris Kanjeng Kiai Nogo Siluman, Pusaka Pangeran Diponegoro Simbol Kepemimpinan Tanah Jawa
Kisah Jenderal Kopassus...
Kisah Jenderal Kopassus Soegito Pertaruhkan Nyawa saat Hadapi Pemberontak Fretilin
Kisah Pasukan Legiun...
Kisah Pasukan Legiun Mangkunegaran Mampu Menandingi Kekuatan Militer Eropa
Kisah Jenderal Sjafrie...
Kisah Jenderal Sjafrie Kawal Soeharto yang Tolak Pakai Rompi Anti Peluru saat Kunjungan ke Bosnia
Sepak Terjang Matah...
Sepak Terjang Matah Ati, Istri Pangeran Sambernyawa yang Jadi Panglima Pasukan Khusus Wanita Mangkunegaran
Pasukan Intelijen Mematikan...
Pasukan Intelijen Mematikan Dom Sumurup Ing Banyu, Telik Sandi Mataram yang Habisi Jenderal VOC JP Coen
G30S/PKI Cukup Jadi...
G30S/PKI Cukup Jadi Sejarah, Hasnuryadi: Tak Boleh Terjadi Lagi
Ini Perbedaan Sejarah...
Ini Perbedaan Sejarah Hari Kesaktian Pancasila dan Hari Lahir Pancasila yang Sering Disalahpahami
Diiringi Lagu Gugur...
Diiringi Lagu Gugur Bunga, Prabowo-Gibran Tinjau Sumur Maut Lubang Buaya
Rekomendasi
The Rain Ajak Pengunjung...
The Rain Ajak Pengunjung PRJ 2026 Bernostalgia lewat Lagu 'Di Perantauan'
Israel Marah setelah...
Israel Marah setelah Presiden Belarusia Samakan Pembantaian Gaza dengan Holocaust Nazi
Resmi Masuk Daftar Belanja...
Resmi Masuk Daftar Belanja TNI AU, Ini Spesifikasi Chengdu J-10C Buatan China yang Akan Perkuat Langit Indonesia
Berita Terkini
Pemerintah Bakal Data...
Pemerintah Bakal Data Barang-Karyawan Hotel Sultan, Wamensesneg: Tak Ada yang Dikorbankan
Yayasan Bangun Ekosistem...
Yayasan Bangun Ekosistem Bahari Resmi Tercatat di Kementerian Hukum
Eksekusi Hotel Sultan...
Eksekusi Hotel Sultan Ricuh, Simpatisan Lempari Polisi dan TNI dengan Batu
Eksekusi Hotel Sultan,...
Eksekusi Hotel Sultan, Wamensesneg: Kita Harus Tarik Aset yang Dikuasai Pihak Lain
Akses Masuk Kawasan...
Akses Masuk Kawasan GBK Dibatasi Jelang Eksekusi Hotel Sultan
Jelang Eksekusi Hotel...
Jelang Eksekusi Hotel Sultan, Spanduk Penolakan hingga Kawat Berduri Terpasang di Sekitar Lokasi
Infografis
5 Manfaat Makan Kurma...
5 Manfaat Makan Kurma Saat Sahur dan Buka Puasa
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved