Kisah Mayor Inf Atang Sutresna, Diberondong Peluru saat Kibarkan Merah Putih Di Timor Timur
Rabu, 18 September 2024 - 06:02 WIB
loading...
A
A
A
Kapten Infanteri Bambang Mulyanto yang ikut dalam penerjunan mengaku sudah memiliki firasat. Saat itu, dirinya sempat beradu pandang dengan Mayor Atang Sutresna.
Dirinya terkesiap karena merasa pandangan Mayor Atang Sutresna yang biasanya tajam terlihat sayu dan kosong. Kejanggalan mulai dirasakan ketika Mayor Atang sempat menitipkan anak perempuannya, padahal keduanya sama-sama diberangkatkan untuk bertempur.
Mayor Atang Sutresna yang gugur dalam tugas mendapat kenaikan pangkat menjadi Letkol Infanteri (Anumerta) Atang Sutresna.
Setelah tujuh jam pertempuran, pada pukul 12.30 WIT Kota Dili sudah dapat dikuasai lewat operasi lintas udara (Linud) terbesar dalam sejarah TNI. Siang hari Kota Dili telah dibebaskan dari penguasaan Fretilin.
Mereka mundur ke daerah perbukitan di selatan Dili. Sebagian pemimpinnya lari ke daerah Aileu. Sedangkan Lobato dan Ramos Horta melarikan diri ke Australia.
Setelah Dili dikuasai dan dilakukan konsolidasi diketahui, sebanyak 16 prajurit Korps Baret Merah gugur sedangkan dari Batalyon 502/Raiders Kostrad yang gugur sebanyak 35 orang. Dari pihak musuh tercatat 122 Fretilin tewas and 365 orang ditawan
Operasi Seroja ini berawal dari keprihatinan pemerintah Indonesia terhadap situasi politik dan keamanan di Timor Leste yang semakin genting menyusul hengkangnya Portugis dari wilayah tersebut akibat Revolusi Bunga.
Berdasarkan buku biografi Letjen TNI (Purn) Sutiyoso berjudul “Sutiyoso The Field General, Totalitas Prajurit Para Komando” diceritakan, sepeninggal Portugis, konflik bersenjata di antara faksi-faksi yang bertikai yakni Uniao Democratica de Timorense (UDT), kemudian Fretilin, dan Associacao Popular Democratica de Timor (Apodeti) membuat pengungsi dari Timor Leste membanjiri daerah perbatasan di Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk meminta perlindungan kepada pemerintah Indonesia.
Sementara itu, partai-partai politik yang saling berkonflik belum mendapatkan titik temu untuk mengatasi permasalahan yang ada. Bahkan, Pemerintah Portugis telah beberapa kali mengadakan perundingan dengan sejumlah partai politik seperti UDT, Fretilin dan Apodeti. Namun upaya tersebut tidak membuahkan hasil.
Di bawah koordinasi Ketua G-1/Intelijen Hankam Mayjen TNI Leonardus Benny Moerdani atau dikenal LB Moerdani, dibentuklah Komando Tugas Gabungan (Kogasgab) Operasi Seroja untuk merebut Kota Dili, basis kekuatan Tropas yang merupakan pasukan bersenjata Fretilin.
“Adanya komunisme di Timor Portugis (Timor Leste) dan jika dibiarkan akan masuk ke Indonesia. Untuk itu Timor Portugis harus direbut dan informasi ini didukung oleh data-data intelijen Amerika Serikat dan Australia,” kata Jenderal TNI (Purn) Luhut Binsar Pandjaitan yang saat itu berpangkat Lettu Infanteri dan menjabat sebagai Dantim B untuk penerjunan di Dili dikutip dari buku berjudul “Kopassus untuk Indonesia”.
Dirinya terkesiap karena merasa pandangan Mayor Atang Sutresna yang biasanya tajam terlihat sayu dan kosong. Kejanggalan mulai dirasakan ketika Mayor Atang sempat menitipkan anak perempuannya, padahal keduanya sama-sama diberangkatkan untuk bertempur.
Mayor Atang Sutresna yang gugur dalam tugas mendapat kenaikan pangkat menjadi Letkol Infanteri (Anumerta) Atang Sutresna.
Setelah tujuh jam pertempuran, pada pukul 12.30 WIT Kota Dili sudah dapat dikuasai lewat operasi lintas udara (Linud) terbesar dalam sejarah TNI. Siang hari Kota Dili telah dibebaskan dari penguasaan Fretilin.
Mereka mundur ke daerah perbukitan di selatan Dili. Sebagian pemimpinnya lari ke daerah Aileu. Sedangkan Lobato dan Ramos Horta melarikan diri ke Australia.
Setelah Dili dikuasai dan dilakukan konsolidasi diketahui, sebanyak 16 prajurit Korps Baret Merah gugur sedangkan dari Batalyon 502/Raiders Kostrad yang gugur sebanyak 35 orang. Dari pihak musuh tercatat 122 Fretilin tewas and 365 orang ditawan
Operasi Seroja ini berawal dari keprihatinan pemerintah Indonesia terhadap situasi politik dan keamanan di Timor Leste yang semakin genting menyusul hengkangnya Portugis dari wilayah tersebut akibat Revolusi Bunga.
Berdasarkan buku biografi Letjen TNI (Purn) Sutiyoso berjudul “Sutiyoso The Field General, Totalitas Prajurit Para Komando” diceritakan, sepeninggal Portugis, konflik bersenjata di antara faksi-faksi yang bertikai yakni Uniao Democratica de Timorense (UDT), kemudian Fretilin, dan Associacao Popular Democratica de Timor (Apodeti) membuat pengungsi dari Timor Leste membanjiri daerah perbatasan di Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk meminta perlindungan kepada pemerintah Indonesia.
Sementara itu, partai-partai politik yang saling berkonflik belum mendapatkan titik temu untuk mengatasi permasalahan yang ada. Bahkan, Pemerintah Portugis telah beberapa kali mengadakan perundingan dengan sejumlah partai politik seperti UDT, Fretilin dan Apodeti. Namun upaya tersebut tidak membuahkan hasil.
Di bawah koordinasi Ketua G-1/Intelijen Hankam Mayjen TNI Leonardus Benny Moerdani atau dikenal LB Moerdani, dibentuklah Komando Tugas Gabungan (Kogasgab) Operasi Seroja untuk merebut Kota Dili, basis kekuatan Tropas yang merupakan pasukan bersenjata Fretilin.
“Adanya komunisme di Timor Portugis (Timor Leste) dan jika dibiarkan akan masuk ke Indonesia. Untuk itu Timor Portugis harus direbut dan informasi ini didukung oleh data-data intelijen Amerika Serikat dan Australia,” kata Jenderal TNI (Purn) Luhut Binsar Pandjaitan yang saat itu berpangkat Lettu Infanteri dan menjabat sebagai Dantim B untuk penerjunan di Dili dikutip dari buku berjudul “Kopassus untuk Indonesia”.
(shf)
Lihat Juga :