Pilkada Jakarta, Bakal Muncul Calon Boneka agar Ridwan Kamil Tak Melawan Kotak Kosong?
Kamis, 15 Agustus 2024 - 11:58 WIB
loading...
A
A
A
Skenario pertama yang mungkin terjadi di Pilkada Jakarta nanti adalah Ridwan Kamil dan pasangannya akan diusung KIM Plus. Pasangan ini kabarnya akan diumumkan 19 Agustus 2024. Lawannya bisa calon perseorangan atau kotak kosong.
Jika pada 19 Agustus 2024 calon perseorangan Dharma Pongrekun-Kun Wardana lolos verifikasi faktual oleh KPU DKI Jakarta, berarti Ridwan Kamil dan pasangannya punya calon lawan. Namun, jika Dharma-Kun tak lolos, kemungkinan Ridwan Kamil dan pasangannya terpaksa melawan kotak kosong.
Baca Juga: Sosok Suswono, Mentan Era SBY yang Diusulkan Menjadi Cawagub Ridwan Kamil di Pilkada Jakarta
Skenario lainnya yang mungkin muncul adalah KIM Plus dibelah sehingga Ridwan Kamil akan punya lawan, bukan melawan kotak kosong. Pasangan ini bisa disebut calon boneka.
"Kalau Dharma-Kun tidak lolos atau tidak diloloskan verifikasinya, mungkin akan muncul calon boneka, KIM dibelah dua, untuk menghindari melawan kotak kosong. Karena kotak kosong ini juga akan menjadi pukulan telak bagi rezim dalam mengelola demokrasi di Indonesia," ujar pengamat politik dari Universitas Nasional (Unas) Robi Nurhadi kepada SINDOnews, Kamis (15/8/2024).
Jika pada 19 Agustus 2024 calon perseorangan Dharma Pongrekun-Kun Wardana lolos verifikasi faktual oleh KPU DKI Jakarta, berarti Ridwan Kamil dan pasangannya punya calon lawan. Namun, jika Dharma-Kun tak lolos, kemungkinan Ridwan Kamil dan pasangannya terpaksa melawan kotak kosong.
Baca Juga: Sosok Suswono, Mentan Era SBY yang Diusulkan Menjadi Cawagub Ridwan Kamil di Pilkada Jakarta
Skenario lainnya yang mungkin muncul adalah KIM Plus dibelah sehingga Ridwan Kamil akan punya lawan, bukan melawan kotak kosong. Pasangan ini bisa disebut calon boneka.
"Kalau Dharma-Kun tidak lolos atau tidak diloloskan verifikasinya, mungkin akan muncul calon boneka, KIM dibelah dua, untuk menghindari melawan kotak kosong. Karena kotak kosong ini juga akan menjadi pukulan telak bagi rezim dalam mengelola demokrasi di Indonesia," ujar pengamat politik dari Universitas Nasional (Unas) Robi Nurhadi kepada SINDOnews, Kamis (15/8/2024).
Lihat Juga :