Hayam Wuruk, Kisah Titisan Dewa dan Kejayaan Majapahit yang Digambarkan dalam Nagarakretagama
Jum'at, 09 Agustus 2024 - 06:11 WIB
loading...
A
A
A
Sampai di atas pohon di Desa Palungan, Mpu Baradha terhenti karena jubahnya terkait pada puncak pohon asam dan kendinya jatuh di desa itu.
Kedatangan Hayam Wuruk dari Desa Simping usai memperbaiki candi makam diuraikan Mpu Prapanca di pupuh LXX-LXXVIII.
Di bagian itu pula digambarkan bagaimana sepeninggal Gajah Mada sebagai mahapatih, jabatannya diembang oleh enam menteri, dan tidak akan digantikan oleh satu sosok karena tidak ada yang sanggup.
Prapanca juga menyebut nama-nama candi makam, tanah perdikan, asrama, desa kebuddhaan, dan kesiwaan di Majapahit, terutama di Pulau Jawa dan Bali pada pupuh LXXIV-LXXXII. Kebesaran Hayam Wuruk juga digambarkan di Pupuh LXXXII.
Tak lupa pula kesejahteraan masyarakat di Pulau Jawa saat Hayam Wuruk memimpin. Konon saat itu banyak tamu berkunjung ke Majapahit, bahkan pada bagian 5 dan 6 memuat kisah kirap tahunan yang berlangsung dalam bulan Palguna.
Pupuh LXXXIV lanjutan pupuh LXXXIII 5 / 6, dikisahkan pada bulan 14 petang Hayam Wuruk berkeliling kota dengan naik tandu kuning.
Ia diiringi para pembesar, pendeta, sarjana, dalam pakaian seragam. Penghormatan kepada beliau berupa pembacaan puja sloka, gubahan kawiraja dari berbagai kota untuk menyambut baginda raja setibanya di Manguntur.
Musyawarah di dalam Kerajaan Majapahit juga dituliskan pada Pupuh LXXXV. Dimana musyawarah ini melibatkan semua orang yang memiliki tanggung jawab dalam pemerintahan Majapahit di bulan caitra antara Maret sampai April.
Pesta Perang Bubat dihadiri oleh Hayam Wuruk dijelaskan pada pupuh LXXXVI-XCII. Perayaan ini kemudian ditutup oleh pembagian hadiah kepada para pemenang oleh raja.
Pada pupuh XCIII - XCIV diuraikan bagaimana banyaknya pendeta yang menciptakan kakawin puja sastra untuk baginda raja. Salah satu di antara mereka adalah Buddha Sri Aditya yang menggubah Shogawali dalam sloka. Pendeta tersebut berasal dari Jambudwipa India, dari kota Kancanapuri, dari asrama Sadwihara.
Terakhir di Kakawin Negarakertagama pada pupuh XCV - XCVIII menguraikan bagaimana sang pencipta sudah mulai bosan tinggal di dusun itu. Prapanca kemudian bertekad bertapa di lereng gunung.
Kedatangan Hayam Wuruk dari Desa Simping usai memperbaiki candi makam diuraikan Mpu Prapanca di pupuh LXX-LXXVIII.
Di bagian itu pula digambarkan bagaimana sepeninggal Gajah Mada sebagai mahapatih, jabatannya diembang oleh enam menteri, dan tidak akan digantikan oleh satu sosok karena tidak ada yang sanggup.
Prapanca juga menyebut nama-nama candi makam, tanah perdikan, asrama, desa kebuddhaan, dan kesiwaan di Majapahit, terutama di Pulau Jawa dan Bali pada pupuh LXXIV-LXXXII. Kebesaran Hayam Wuruk juga digambarkan di Pupuh LXXXII.
Tak lupa pula kesejahteraan masyarakat di Pulau Jawa saat Hayam Wuruk memimpin. Konon saat itu banyak tamu berkunjung ke Majapahit, bahkan pada bagian 5 dan 6 memuat kisah kirap tahunan yang berlangsung dalam bulan Palguna.
Pupuh LXXXIV lanjutan pupuh LXXXIII 5 / 6, dikisahkan pada bulan 14 petang Hayam Wuruk berkeliling kota dengan naik tandu kuning.
Ia diiringi para pembesar, pendeta, sarjana, dalam pakaian seragam. Penghormatan kepada beliau berupa pembacaan puja sloka, gubahan kawiraja dari berbagai kota untuk menyambut baginda raja setibanya di Manguntur.
Musyawarah di dalam Kerajaan Majapahit juga dituliskan pada Pupuh LXXXV. Dimana musyawarah ini melibatkan semua orang yang memiliki tanggung jawab dalam pemerintahan Majapahit di bulan caitra antara Maret sampai April.
Pesta Perang Bubat dihadiri oleh Hayam Wuruk dijelaskan pada pupuh LXXXVI-XCII. Perayaan ini kemudian ditutup oleh pembagian hadiah kepada para pemenang oleh raja.
Pada pupuh XCIII - XCIV diuraikan bagaimana banyaknya pendeta yang menciptakan kakawin puja sastra untuk baginda raja. Salah satu di antara mereka adalah Buddha Sri Aditya yang menggubah Shogawali dalam sloka. Pendeta tersebut berasal dari Jambudwipa India, dari kota Kancanapuri, dari asrama Sadwihara.
Terakhir di Kakawin Negarakertagama pada pupuh XCV - XCVIII menguraikan bagaimana sang pencipta sudah mulai bosan tinggal di dusun itu. Prapanca kemudian bertekad bertapa di lereng gunung.
(shf)
Lihat Juga :