Hayam Wuruk, Kisah Titisan Dewa dan Kejayaan Majapahit yang Digambarkan dalam Nagarakretagama
Jum'at, 09 Agustus 2024 - 06:11 WIB
loading...
Raja Majapahit Hayam Wuruk yang membawa kerajaan menjadi besar dan mencapai puncak kejayaan digambarkan sebagai titisan dewa dalam Kitab Negarakertagama. Foto/Ilustrasi/Instagram @ainusantara
A
A
A
RAJA Majapahit Hayam Wuruk yang membawa kerajaan menjadi besar dan disegani serta mencapai puncak kejayaan digambarkan sebagai titisan dewa dalam Kitab Negarakertagama.
Kitab karangan Mpu Prapanca ini terdiri dari 98 pupuh atau semacam bab, di mana setiap pupuh-pupuhnya tersusun sangat rapi dari beberapa spesifikasi menceritakan Kerajaan Majapahit.
Baca juga: Kisah Pujangga Mpu Prapanca dan Mpu Sutasoma Catat Sejarah Majapahit
Menariknya Kakawin Negarakertagama ini bersifat puja sastra menyanjung dan mengagungkan kebesaran raja, yang disusun Mpu Prapanca pada bulan Aswina tahun 1287.
Tetapi karya ini tidak disusun atas perintah Hayam Wuruk, sebagai tujuan politik pencitraan, maupun melegitimasi kekuasaan raja. Kitab ini murni sebagai kehendak Mpu Prapanca yang ingin menghaturkan bakti pada raja dan negaranya.
Prapanca menuju keagungan Raja Hayam Wuruk yang dipandang sebagai titisan ?iwa Buddha, untuk menentramkan kerajaan.
Hal ini tercantum pada Pupuh I Negarakretagama, dikutip dari buku "Hitam Putih Mahaputih Gajah Mada". Pada pupuh II-VI, digambarkan bagaimana hubungan kekerabatan Raja Hayam Wuruk.
Baca juga: Kisah Tragis Ronggolawe, Kesetiaan Bela Raja Majapahit Berujung Kematian dengan Cap Pemberontak
Prapanca memuji kecakapan nenek raja, yang bernama Rajapatni putri Gayatri. Putri bungsu Sri Kertanagara dari Kerajaan Singasari, beliau bertindak sebagai penasihat utama dalam pemerintahan.
Selanjutnya pada pupuh VIII, Hayam Wuruk dikisahkan sebagai titisan dewa.
Beliau mengusap duka si murba sebagai dewa Indra, yang menurunkan hujan di atas bumi. Sang raja menjaga negara seperti Pertiwi, meresap ke semua tempat laksana hawa, sedangkan rupa beliau laksana bulan. Semua orang tunduk kepada kuasa raja.
Kitab karangan Mpu Prapanca ini terdiri dari 98 pupuh atau semacam bab, di mana setiap pupuh-pupuhnya tersusun sangat rapi dari beberapa spesifikasi menceritakan Kerajaan Majapahit.
Baca juga: Kisah Pujangga Mpu Prapanca dan Mpu Sutasoma Catat Sejarah Majapahit
Menariknya Kakawin Negarakertagama ini bersifat puja sastra menyanjung dan mengagungkan kebesaran raja, yang disusun Mpu Prapanca pada bulan Aswina tahun 1287.
Tetapi karya ini tidak disusun atas perintah Hayam Wuruk, sebagai tujuan politik pencitraan, maupun melegitimasi kekuasaan raja. Kitab ini murni sebagai kehendak Mpu Prapanca yang ingin menghaturkan bakti pada raja dan negaranya.
Prapanca menuju keagungan Raja Hayam Wuruk yang dipandang sebagai titisan ?iwa Buddha, untuk menentramkan kerajaan.
Hal ini tercantum pada Pupuh I Negarakretagama, dikutip dari buku "Hitam Putih Mahaputih Gajah Mada". Pada pupuh II-VI, digambarkan bagaimana hubungan kekerabatan Raja Hayam Wuruk.
Baca juga: Kisah Tragis Ronggolawe, Kesetiaan Bela Raja Majapahit Berujung Kematian dengan Cap Pemberontak
Prapanca memuji kecakapan nenek raja, yang bernama Rajapatni putri Gayatri. Putri bungsu Sri Kertanagara dari Kerajaan Singasari, beliau bertindak sebagai penasihat utama dalam pemerintahan.
Selanjutnya pada pupuh VIII, Hayam Wuruk dikisahkan sebagai titisan dewa.
Beliau mengusap duka si murba sebagai dewa Indra, yang menurunkan hujan di atas bumi. Sang raja menjaga negara seperti Pertiwi, meresap ke semua tempat laksana hawa, sedangkan rupa beliau laksana bulan. Semua orang tunduk kepada kuasa raja.
Lihat Juga :