Kisah Heroik Kapten Harun Kabir, Pejuang Kemerdekaan dan Kemanusiaan dari Cianjur
Minggu, 04 Agustus 2024 - 07:54 WIB
loading...
A
A
A
Di Cianjur, perjuangan Kapten Harun Kabir mencapai akhirnya. Di tengah penyakit yang dideritanya, ia tetap memimpin gerilya sampai akhirnya dieksekusi oleh pasukan Belanda. Kisah heroik ini diulas secara mendalam dalam buku "Demi Republik, Perjuangan Kapten Harun Kabir 1942-1947" karya Hendi Jo, yang dibedah oleh sejarawan Prof. Anhar Gonggong di Bale Prayoga Pendopo Kabupaten Cianjur pada 2 Agustus 2024.
Prof. Anhar Gonggong menyebutkan bahwa ketabahan Harun Kabir dan keluarganya luar biasa. Istrinya, Soekrati, dan anak-anaknya harus menyaksikan eksekusi Harun Kabir oleh tentara Belanda. "Harun Kabir mengorbankan masa depannya dan hidupnya untuk keluarga dan bangsa. Untuk kita semua yang hari ini bisa duduk di sini sebagai orang-orang yang merdeka," kata Anhar.
Hendi Jo menambahkan bahwa Harun Kabir menolak segala tindakan kekejaman terhadap warga sipil tak bersenjata. "Dia adalah manusia langka di zamannya. Dengan bakat kepemimpinan yang baik, dan lurus, Harun Kabir tetap berusaha ‘waras’ di tengah badai revolusi," ujarnya.
Harun Kabir tidak hanya memimpin gerilya, tetapi juga menolong orang Indo dan Eropa yang membutuhkan pertolongan, menunjukkan teladan langka dari seorang komandan gerilya saat itu. "Harun Kabir selalu berkata, kalau kita tidak manusiawi, lalu apa bedanya kita dengan para penjajah yang kita perangi?" tambah Hendi Jo, mengutip ucapan sang pahlawan.
Mokhamad Irfan Sofyan, Kabag Hukum Setda Kabupaten Cianjur, mewakili Bupati H. Herman Suherman, mengapresiasi acara bedah buku tersebut. Irfan berharap perjuangan dan pengorbanan Kapten Harun Kabir bisa menjadi inspirasi bagi generasi penerus. Wina Rezky Agustina dari Lokatmala Foundation berharap diskusi dan bedah buku ini memantik kesadaran kolektif akan pentingnya penghargaan terhadap nilai-nilai perjuangan para pahlawan kemerdekaan.
Prof. Anhar Gonggong menyebutkan bahwa ketabahan Harun Kabir dan keluarganya luar biasa. Istrinya, Soekrati, dan anak-anaknya harus menyaksikan eksekusi Harun Kabir oleh tentara Belanda. "Harun Kabir mengorbankan masa depannya dan hidupnya untuk keluarga dan bangsa. Untuk kita semua yang hari ini bisa duduk di sini sebagai orang-orang yang merdeka," kata Anhar.
Hendi Jo menambahkan bahwa Harun Kabir menolak segala tindakan kekejaman terhadap warga sipil tak bersenjata. "Dia adalah manusia langka di zamannya. Dengan bakat kepemimpinan yang baik, dan lurus, Harun Kabir tetap berusaha ‘waras’ di tengah badai revolusi," ujarnya.
Harun Kabir tidak hanya memimpin gerilya, tetapi juga menolong orang Indo dan Eropa yang membutuhkan pertolongan, menunjukkan teladan langka dari seorang komandan gerilya saat itu. "Harun Kabir selalu berkata, kalau kita tidak manusiawi, lalu apa bedanya kita dengan para penjajah yang kita perangi?" tambah Hendi Jo, mengutip ucapan sang pahlawan.
Mokhamad Irfan Sofyan, Kabag Hukum Setda Kabupaten Cianjur, mewakili Bupati H. Herman Suherman, mengapresiasi acara bedah buku tersebut. Irfan berharap perjuangan dan pengorbanan Kapten Harun Kabir bisa menjadi inspirasi bagi generasi penerus. Wina Rezky Agustina dari Lokatmala Foundation berharap diskusi dan bedah buku ini memantik kesadaran kolektif akan pentingnya penghargaan terhadap nilai-nilai perjuangan para pahlawan kemerdekaan.
(hri)
Lihat Juga :