Kegarangan Mantan Danjen Kopassus Letjen TNI I Nyoman Cantiasa Lawan Perusuh Bersenjata saat Tenangkan Ambon
Kamis, 01 Agustus 2024 - 06:49 WIB
loading...
A
A
A
“Kami terkejut mendengar letusan senjata sangat bervariasi. Peluru ukuran 9mm, 5,56mm, rentetan senapan mesin 7,62mm, dan mortar terdengar bersahutan. Belum lagi serangan panah, tombak, parang, golok, klewang hingga bom molotov,” kata Nyoman.
Baca Juga: Serka Bayani, Prajurit Kopassus Pembisik Jenderal Prabowo yang Rebut 100 Senapan OPM
Bahkan, perusuh juga menggunakan alat pelontar bom yang bisa menjangkau jarak 250 meter. Tim Kosektor-1 segera menganalisa situasi untuk dapat meredakan konflik secepat mungkin berbekal pengalaman tugas di Timor Timur, Aceh, dan Papua.
Malam hari tanggal 19 Januari 2001, saat tim berpatroli menggunakan panser tua Saraccen dan Saladin di dekat pos keamanan Hotel Aman, tiba-tiba serangan bom dan tembakan muncul kembali. Melalui komunikasi HT diketahui posisi musuh berada di sekitar Hotel Wijaya II.
Beberapa pos aparat diserang segera mendapat bantuan. Naluri seorang Prajurit Kopassus mendorong Nyoman untuk menganalisa cepat situasi lapangan. Sepuluh prajurit diperintahkan untuk naik ke gedung-gedung untuk memantau asal pancaran senjata api di tengah kegelapan.
Setelah posisi diketahui, perintah serangan diberikan dan tembakan gencar aparat selama 5 menit menghantam posisi perusuh berhasil membungkam mereka untuk sementara waktu. Tiba-tiba di saluran HT terdengar makian perusuh, “Arjuna-2, Arjuna-2, anjing, babi kamu!!”
Rupanya saluran komunikasi TNI-Polri telah disadap oleh perusuh. (Arjuna-2: Panggilan sandi Nyoman Cantiasa sebagai Kepala Seksi Operasi Kosektor-1) Situasi kemudian mereda selama dua hari yang ternyata digunakan perusuh untuk menggalang kekuatan kembali.
Baca Juga: Kisah Cinta Siu Ban Ci, Selir Raja Majapahit Terakhir yang Mengubah Sejarah Jawa
Menjelang malam 21 Januari 2001, mereka menyerang lagi pos-pos dari berbagai arah. Dari hasil observasi, para perusuh menempati gedung-gedung kosong yang telah rusak dikoyak kerusuhan.
Aparat mengedepankan kegiatan pembinaan warga, belum menguasai teknik perang kota.
Tetapi, rapat tetap segera digelar Kosektor-1 dengan aparat setempat untuk menyerang perusuh di gedung-gedung kosong. Tanggal 22 Januari 2001, pukul 02.00 dini hari, Nyoman Cantiasa segera menghadap Panglima Kodam XVI Pattimura Mayor Jenderal M. Yasa.
Dilaporkan perkembangan situasi terakhir karena perusuh semakin berani dan brutal. Ketika itu, Kodam sedang mendapat bantuan Batalyon Gabungan (Yon Gab) Kopassus-Paskhas-Marinir di bawah pimpinan perwira Kopassus Mayor Ricky Samuel.
Baca Juga: Serka Bayani, Prajurit Kopassus Pembisik Jenderal Prabowo yang Rebut 100 Senapan OPM
Bahkan, perusuh juga menggunakan alat pelontar bom yang bisa menjangkau jarak 250 meter. Tim Kosektor-1 segera menganalisa situasi untuk dapat meredakan konflik secepat mungkin berbekal pengalaman tugas di Timor Timur, Aceh, dan Papua.
Malam hari tanggal 19 Januari 2001, saat tim berpatroli menggunakan panser tua Saraccen dan Saladin di dekat pos keamanan Hotel Aman, tiba-tiba serangan bom dan tembakan muncul kembali. Melalui komunikasi HT diketahui posisi musuh berada di sekitar Hotel Wijaya II.
Beberapa pos aparat diserang segera mendapat bantuan. Naluri seorang Prajurit Kopassus mendorong Nyoman untuk menganalisa cepat situasi lapangan. Sepuluh prajurit diperintahkan untuk naik ke gedung-gedung untuk memantau asal pancaran senjata api di tengah kegelapan.
Setelah posisi diketahui, perintah serangan diberikan dan tembakan gencar aparat selama 5 menit menghantam posisi perusuh berhasil membungkam mereka untuk sementara waktu. Tiba-tiba di saluran HT terdengar makian perusuh, “Arjuna-2, Arjuna-2, anjing, babi kamu!!”
Rupanya saluran komunikasi TNI-Polri telah disadap oleh perusuh. (Arjuna-2: Panggilan sandi Nyoman Cantiasa sebagai Kepala Seksi Operasi Kosektor-1) Situasi kemudian mereda selama dua hari yang ternyata digunakan perusuh untuk menggalang kekuatan kembali.
Baca Juga: Kisah Cinta Siu Ban Ci, Selir Raja Majapahit Terakhir yang Mengubah Sejarah Jawa
Menjelang malam 21 Januari 2001, mereka menyerang lagi pos-pos dari berbagai arah. Dari hasil observasi, para perusuh menempati gedung-gedung kosong yang telah rusak dikoyak kerusuhan.
Aparat mengedepankan kegiatan pembinaan warga, belum menguasai teknik perang kota.
Tetapi, rapat tetap segera digelar Kosektor-1 dengan aparat setempat untuk menyerang perusuh di gedung-gedung kosong. Tanggal 22 Januari 2001, pukul 02.00 dini hari, Nyoman Cantiasa segera menghadap Panglima Kodam XVI Pattimura Mayor Jenderal M. Yasa.
Dilaporkan perkembangan situasi terakhir karena perusuh semakin berani dan brutal. Ketika itu, Kodam sedang mendapat bantuan Batalyon Gabungan (Yon Gab) Kopassus-Paskhas-Marinir di bawah pimpinan perwira Kopassus Mayor Ricky Samuel.
Lihat Juga :