Pertama di Indonesia, Menteri Kelautan Luncurkan Model Penangkapan Ikan Terukur di Tual
Senin, 03 Juni 2024 - 17:13 WIB
loading...
A
A
A
Menurut Trenggono, penangkapan terukur itu adalah jawaban untuk memberikan keyakinan kepada market di dunia bahwa ikan ditangkap dengan cara yang lebih baik. "Ikan lebih bisa dideteksi dari mana, jenisnya seperti apa, peralatan tangkap seperti apa, dan lebih efisien," katanya.
Trenggono menyebut, Tual merupakan salah satu titik pengembangan modelling PIT di Indonesia Timur sehingga PT Samudera Indo Sejahtera (SIS) telah memenuhi syarat untuk melaksanakan penangkapan Ikan Terukur secara profesional efektif efisien dan modern.
"PIT diharapkan meningkatkan produktivitas di daerah sehingga dapat menjadi katalisator dalam mendongkrak perekonomian Indonesia khusunya di daerah Tual," ucapnya.
Trenggono menjelaskan, ekonomi daerah bisa didorong melalui langkah pemusatan produktivitas, di mana penangkapan hingga pengolahan hasil tangkapan akan dilakukan langsung di Tual dan Kabupaten Maluku Tenggara.
“Hal ini sering dipertanyakan ke saya oleh nelayan atau pelaku industri di Pantura, 'Pak kalau di Jawa butuh ikan gimana? Ya dikirim aja, dia beli dari Tual dan dikirim ke Jawa. Akan jauh lebih efisien dibandingkan dengan kapalnya dari Jawa nangkap sini balik lagi, ongkosnya sudah double sehingga tidak efisien," jelasnya.
Plt. Direktur Jenderal Perikanan Tangkap (DJPT) KKP TB Haeru Rahay mengatakan, dalam proses implementasi model PIT di zona 3, total sebanyak 187 kapal yang sebelumnya menyetor ikan ke zona 6 Jakarta kini telah disinergikan untuk menjaring dan menyetor ikan di Tual dan Kepulauan Aru. Diestimasikan transaksi bisa dihasilkan Rp48,4 miliar.
Trenggono menyebut, Tual merupakan salah satu titik pengembangan modelling PIT di Indonesia Timur sehingga PT Samudera Indo Sejahtera (SIS) telah memenuhi syarat untuk melaksanakan penangkapan Ikan Terukur secara profesional efektif efisien dan modern.
"PIT diharapkan meningkatkan produktivitas di daerah sehingga dapat menjadi katalisator dalam mendongkrak perekonomian Indonesia khusunya di daerah Tual," ucapnya.
Trenggono menjelaskan, ekonomi daerah bisa didorong melalui langkah pemusatan produktivitas, di mana penangkapan hingga pengolahan hasil tangkapan akan dilakukan langsung di Tual dan Kabupaten Maluku Tenggara.
“Hal ini sering dipertanyakan ke saya oleh nelayan atau pelaku industri di Pantura, 'Pak kalau di Jawa butuh ikan gimana? Ya dikirim aja, dia beli dari Tual dan dikirim ke Jawa. Akan jauh lebih efisien dibandingkan dengan kapalnya dari Jawa nangkap sini balik lagi, ongkosnya sudah double sehingga tidak efisien," jelasnya.
Plt. Direktur Jenderal Perikanan Tangkap (DJPT) KKP TB Haeru Rahay mengatakan, dalam proses implementasi model PIT di zona 3, total sebanyak 187 kapal yang sebelumnya menyetor ikan ke zona 6 Jakarta kini telah disinergikan untuk menjaring dan menyetor ikan di Tual dan Kepulauan Aru. Diestimasikan transaksi bisa dihasilkan Rp48,4 miliar.
Lihat Juga :