Sejarah Tamansari Yogyakarta, Dibangun Rakyat Madiun sebagai Ganti Pembebasan Pajak

Senin, 29 April 2024 - 08:00 WIB
loading...
Sejarah Tamansari Yogyakarta,...
Tamansari di Yogyakarta salah satu bangunan bersejarah peninggalan keagungan perjalanan kerajaan Mataram. Foto/Istimewa
A A A
Perjanjian Giyanti membawa konsekuensi pecahnya wilayah Mataram. Setelah perjanjian Giyanti itu muncullah daerah Mancanegara Timur yang berada di timur dari Yogyakarta. Daerah-daerah ini menjadi bagian dari Keraton Yogyakarta usai Perjanjian Giyanti.

Beberapa di antaranya Madiun, Magetan, Caruban, separuh Pacitan, Kertosono, Kalangbret (Tulungagung), Ngrowo (Tulungagung), Japan (pasca 1838 Mojokerto), Jipang (Bojonegoro), Teras Keras (Ngawen), Selo, Warung (Kuwu Wirasari), dan Grobogan (Jawa Tengah).

Raden Prawirodirjo I muncul sebagai salah satu bupati di Madiun.Konon rakyat di wilayah Mancanagera Timur pernah diminta untuk membuat bangunan di kompleks Keraton Yogyakarta. Kedua bangunan yakni Tamansari dan Benteng Baluwerti.

Baca Juga: Kisah Perjanjian Giyanti Bikin Pangeran Singosari Murka ke Sultan Hamengkubuwono I

Kedua bangunan ini berdiri atas jerih payah dan kucuran keringat rakyat mancanegara (wilayah terluar kerajaan) walaupun mengalami beberapa kali renovasi, dikisahkan pada “Banteng Terakhir Kesultanan Yogyakarta: Riwayat Raden Ronggo Prawirodirjo III dari Madiun sekitar 1779 – 1810”.

Rakyat mancanegara dibawa oleh para bupatinya ketika momen Garebek Maulud yang diadakan setahun sekali di ibu kota keraton. Garebek, selain sebagai bukti loyalitas para bupati terjadi Raja Yogyakarta, yang kala itu dijabat oleh Sultan Hamengkubuwono I.

Proses pembangunan kedua bangunan itu juga konon dikisahkan menjadi momen rakyat mancanagera, yang dibawa ke ibu kota memikul beban kerja rodi yang sangat berat melaksanakan aneka proyek pembangunan di sekitar ibu kota keraton, salah satunya Taman Sari.

Pembangunan Taman Sari sendiri dilakukan atas permintaan Sultan Hamengkubuwono I, yang disambut oleh Raden Ronggo Prawirodirjo I. Hal itu atas inisiatif permintaan keringanan pajak dari Raden Ronggo Prawirodirjo I yang harus disetorkan ke Sultan Hamengkubuwono I.

Baca Juga: Kisah Jenderal Gatot Subroto, Perisai Hidup Soekarno Pemberi Julukan Monyet ke Soeharto

Raden Ronggo Prawirodirjo I beranggapan bahwa tidak sedikit penduduk Madiun menjadi korban ketika Perang Giyanti. Alhasil Sultan Yogya kala itu langsung bermusyawarah dengan Raden Adipati Danurejo, saudara ipar sultan sekaligus Patih Yogyakarta.

Permintaan keringanan pajak dari Madiun akhirnya dikabulkan. Tapi sebagai gantinya, bupati wedana dan penduduk Madiun siap memberikan sumbangsih guna memperindah Keraton Yogyakarta.

Raden Ronggo Prawirodirjo I memenuhi permintaan Hamengkubuwono I itu. Komitmen tersebut dia tepati dengan mempersiapkan batu merah dan kelengkapannya, guna pembangunan Tamansari sejak 1758 hingga 1765/9.

Dalam perjalanannya, pembangunan Tamansari selama satu dasawarsa lebih, ternyata membutuhkan tenaga rakyat Madiun yang lebih banyak, dan menelan biaya lebih besar melebihi pajak yang harus diserahkan dalam setahun.

Oleh sebab itu, Raden Ronggo Prawirodirjo I menyampaikan keberatannya dan meminta untuk berhenti membantu menyelesaikan pembangunan.

Raden Ronggo Prawirodirjo I juga pernah diminta memimpin pembangunan Benteng Baluwarti yang awalnya hanya berupa pagar dari kayu. Pembangunan benteng dipimpin langsung oleh putra mahkota, yang kelak jadi Sultan Hamengkubuwono II.
(ams)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Di Balik Kesaktian Pangeran...
Di Balik Kesaktian Pangeran Diponegoro, Ada Keris Pusaka Bernama Kiai Bondoyudo
Kedipan Mata Komandan...
Kedipan Mata Komandan Brimob Bikin Tawanan Tewas Ditembak dari Jarak 5 Meter
Kisah Cinta Sutan Sjahrir...
Kisah Cinta Sutan Sjahrir dan Maria Mieske, Dipisahkan Penjara hingga Politik Kolonial Belanda
Data NIK Jadi Penentu,...
Data NIK Jadi Penentu, Warga Diimbau Cek Syarat Pembebasan PBB-P2
196 Tahun Keris Kanjeng...
196 Tahun Keris Kanjeng Kiai Nogo Siluman, Pusaka Pangeran Diponegoro Simbol Kepemimpinan Tanah Jawa
Bayar PBB-P2 hingga...
Bayar PBB-P2 hingga 31 Juli, Warga Jakarta Otomatis Dapat Potongan 7,5%
Pertamina Cetak Laba...
Pertamina Cetak Laba Bersih Rp55,2 Triliun di 2025, Setor ke Negara Rp360 Triliun
Raja Charles Inggris...
Raja Charles Inggris Akan Ungkap Tagihan Pajak Pribadinya, Berapa Besar?
Pemutakhiran NIK Jadi...
Pemutakhiran NIK Jadi Kunci Pembebasan PBB-P2 di Jakarta
Rekomendasi
Kantongi Pendanaan USD11,3...
Kantongi Pendanaan USD11,3 Juta, FLOQ Pacu Integrasi Teknologi Blockchain
Trump Ungkap Turki Siap...
Trump Ungkap Turki Siap Gabung Perang Bersama Iran tapi Dicegah AS
Komisi I Bangga TNI...
Komisi I Bangga TNI Ikut Urus Pertanian, Dave Laksono: Ini Bukan Kembali ke Dwifungsi
Berita Terkini
Anggota DPD RI Desak...
Anggota DPD RI Desak Pemkab Bima Atasi Krisis Air Bersih di Desa Bajo
Bea Cukai Soetta Gagalkan...
Bea Cukai Soetta Gagalkan Masuknya Uang Asing Senilai Rp6,3 Miliar Tanpa Izin
Padi Reborn hingga Mahalini...
Padi Reborn hingga Mahalini Bakal Hibur Warga pada Puncak HUT Jakarta
Gubernur Kaltim Resmikan...
Gubernur Kaltim Resmikan Pusat Layanan Jantung Modern di RSKD Balikpapan
Legislator PKB Minta...
Legislator PKB Minta Taufik Hidayat Dihukum Kebiri
Arus Peti Kemas Bandar...
Arus Peti Kemas Bandar Lampung Sepanjang 2026 Alami Peningkatan Signifikan
Infografis
Indonesia Demam Pajak,...
Indonesia Demam Pajak, 5 Negara Ini Bebas Pajak
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved