Kisah Sifat Tegas Sultan Agung yang Berani Hukum Putra Mahkota
Rabu, 17 April 2024 - 06:14 WIB
loading...
A
A
A
Pangeran Adipati Anom mengira bahwa kekuasaan dan keagungannya sebagai putra seorang raja akan membuat Tumenggung Wiraguna tidak akan melaporkan kesalahannya kepada ayahnya. Namun Pangeran Adipati Anom ternyata salah mengira karena Tumenggung Wiraguna beserta para pembantunya melaporkan perbuatan Pangeran kepada Sultan Agung.
la sangat terkejut mendengarnya, sehingga selama 30-40 hari, ia mengurung diri. Putra mahkota dihukum dengan cara dikucilkan, tidak boleh bertatap muka dengan ayahnya, walaupun pada akhirnya ia memaafkan setelah Putra Mahkota menyadari kesalahannya. Setelah 3 tahun menjalani hukuman, ia dipanggil kembali ke istana, dan segala sesuatu berjalan seakan-akan tidak pernah terjadi.
Baca Juga: Biografi Sultan Agung: Kelahiran, Kesaktian, dan Kematiannya
Sifat amarah Sultan Agung juga menimbulkan rasa takut bagi para pejabat kerajaan. Hal ini digambarkan ketika ia mendengar pemberontakan di Sumedang dan Ukur. Semua pejabat kerajaan duduk terpaku karena takut dan tidak seorang pun yang berani berkutik.
Saat itu, Sultan Agung tidak segan-segan memberi perintah kepada pasukan-pasukan yang ditugaskan untuk menumpas adanya pemberontakan untuk memusnahkan penduduk, membunuh laki-laki, merampas wanita - wanita dan anak-anak, merampok harta benda yang bergerak, dan membakar rumah-rumah penduduk. Hukuman tegas ke pengkhianat atau para prajurit yang meninggalkan medan perang juga tidak segan-segan diberi hukuman mati.
la sangat terkejut mendengarnya, sehingga selama 30-40 hari, ia mengurung diri. Putra mahkota dihukum dengan cara dikucilkan, tidak boleh bertatap muka dengan ayahnya, walaupun pada akhirnya ia memaafkan setelah Putra Mahkota menyadari kesalahannya. Setelah 3 tahun menjalani hukuman, ia dipanggil kembali ke istana, dan segala sesuatu berjalan seakan-akan tidak pernah terjadi.
Baca Juga: Biografi Sultan Agung: Kelahiran, Kesaktian, dan Kematiannya
Sifat amarah Sultan Agung juga menimbulkan rasa takut bagi para pejabat kerajaan. Hal ini digambarkan ketika ia mendengar pemberontakan di Sumedang dan Ukur. Semua pejabat kerajaan duduk terpaku karena takut dan tidak seorang pun yang berani berkutik.
Saat itu, Sultan Agung tidak segan-segan memberi perintah kepada pasukan-pasukan yang ditugaskan untuk menumpas adanya pemberontakan untuk memusnahkan penduduk, membunuh laki-laki, merampas wanita - wanita dan anak-anak, merampok harta benda yang bergerak, dan membakar rumah-rumah penduduk. Hukuman tegas ke pengkhianat atau para prajurit yang meninggalkan medan perang juga tidak segan-segan diberi hukuman mati.
(hri)
Lihat Juga :