alexametrics

Fenomena Kecanduan Pembalut Rebus Bukan Kejadian Baru

loading...
Fenomena Kecanduan Pembalut Rebus Bukan Kejadian Baru
Foto: Ilustrasi/SINDOnews/Dok
A+ A-
SEMARANG - Maraknya anak-anak remaja yang kecanduan meminum air rebusan pembalut perempuan di Jawa Tengah, mengundang keprihatinan banyak pihak. Dan ternyata, kasus tersebut bukan baru kali ini terjadi.

“Saya sudah mendengar kasus-kasus semacam ini sekira dua atau tiga tahun lalu. Sepanjang yang saya tahu, hal demikian hilang dan timbul. Semacam tren challenge remaja, sehingga lebih terkesan semacam musiman dan luput dari perhatian,” ujar dokter yang fokus dalam dalam bidang adiksi di Institute of mental Health Addiction and Neuroscience (IMAN) Jakarta, dr Hari Nugraha, Jumat (9/11/2018).

Menurut dia, anak-anak yang menjadi pecandu berawal dari sekadar eksperimen. Mereka mendapat informasi dari senior atau kelompok lain bahwa air rebusan pembalut wanita bisa menimbulkan efek fly.

“Sebenarnya kalau dari kasus-kasusnya, lebih banyak yang sekadar eksperimen, karena informasi yang salah mereka terima. Sementara efek-efek high atau fly itu lebih banyak dari pengakuan. Bisa jadi karena zat-zat lain yg dicampurkan. Perlu pembuktian terlebih dahulu, betulkah setelah direbus ada zat-zat kimia yang berbahaya atau bikin gangguan secara neurofisiologis atau neurobehaviour,” bebernya.

Kasus anak-anak kecanduan pembalut rebus yang menghebohkan masyarakat ini awalnya ditemukan oleh Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jateng. Mereka berasal dari daerah-daerah pinggiran seperti Rembang, Pati, Purwodadi, Kudus, dan Semarang bagian timur.

Sebelum merambah ke Jawa Tengah, kasus serupa juga pernah ditemukan di Karawang, Yogyakarta, dan Belitung Timur. “Saya sendiri selama menangani pecandu narkoba, belum pernah dapat kasusnya secara langsung, karena memang kebanyakan terjadi di daerah-daerah,” tukasnya.
(thm)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak