Taman Makam Yayasan Sinar Bumi Jonggol Sambut Peziarah Ceng Beng
Selasa, 26 Maret 2024 - 16:40 WIB
loading...
A
A
A
“Persiapan tersebut termasuk pembersihan areal umum, penataan lahan, serta pengaturan fasilitas parkir dan akses bagi peziarah. Semua ini dilakukan untuk memastikan kunjungan para peziarah berjalan lancar,” katanya.
Bagi mereka yang akan berziarah, ada tiga persiapan untuk dibawa ke makam:
1. Perlengkapan yang baru/bersih untuk merapikan kuburan
2. Penyembahan berupa dupa dan kertas dupa ataupun persembahan sebagai simbolisasi hadiah
3. Makanan dan minuman yang dinikmati bersama
Di sisi lain ada juga keriuhan dari kegiatan yang terjadi selama Ceng Beng, yang juga membawa makna yang mendalam. Perayaan ini mengingatkan para kerabat akan keterhubungan antara generasi masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Ketika mereka mengunjungi makam leluhur, mereka yang berziarah tidak hanya memperingati mereka yang telah tiada, tetapi juga menyatukan diri dengan sejarah keluarga dan menghormati warisan yang telah ditinggalkan untuk penerusnya.
Perayaan Ceng Beng ini mengingatkan keseimbangan antara kesedihan dan kebahagiaan, antara kematian dan kelahiran baru. Menghabiskan waktu di alam terbuka yang “cerah bening” menjadi kesempatan berefleksi dalam kedamaian dan membuka diri akan kesempatan dan peluang baru ke depannya.
Festival Ceng Beng (Qing Ming) telah dijalani selama lebih dari 2.500 tahun. Konon, festival ini diawali upacara ziarah kubur para kaisar dan jenderal Tiongkok kuno yang belakangan menjadi salah satu festival penting dalam budaya Tiongkok.
Festival ini dinamai dari kata "Qing” (bersih) dan “Ming" (jernih), yang melambangkan harapan baik saat melakukan ziarah kubur. Tradisi ini merupakan perwujudan sikap masyarakat Tionghoa yang sangat menghormati leluhurnya.
Bagi mereka yang akan berziarah, ada tiga persiapan untuk dibawa ke makam:
1. Perlengkapan yang baru/bersih untuk merapikan kuburan
2. Penyembahan berupa dupa dan kertas dupa ataupun persembahan sebagai simbolisasi hadiah
3. Makanan dan minuman yang dinikmati bersama
Di sisi lain ada juga keriuhan dari kegiatan yang terjadi selama Ceng Beng, yang juga membawa makna yang mendalam. Perayaan ini mengingatkan para kerabat akan keterhubungan antara generasi masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Ketika mereka mengunjungi makam leluhur, mereka yang berziarah tidak hanya memperingati mereka yang telah tiada, tetapi juga menyatukan diri dengan sejarah keluarga dan menghormati warisan yang telah ditinggalkan untuk penerusnya.
Perayaan Ceng Beng ini mengingatkan keseimbangan antara kesedihan dan kebahagiaan, antara kematian dan kelahiran baru. Menghabiskan waktu di alam terbuka yang “cerah bening” menjadi kesempatan berefleksi dalam kedamaian dan membuka diri akan kesempatan dan peluang baru ke depannya.
Festival Ceng Beng (Qing Ming) telah dijalani selama lebih dari 2.500 tahun. Konon, festival ini diawali upacara ziarah kubur para kaisar dan jenderal Tiongkok kuno yang belakangan menjadi salah satu festival penting dalam budaya Tiongkok.
Festival ini dinamai dari kata "Qing” (bersih) dan “Ming" (jernih), yang melambangkan harapan baik saat melakukan ziarah kubur. Tradisi ini merupakan perwujudan sikap masyarakat Tionghoa yang sangat menghormati leluhurnya.
Lihat Juga :