Asal Usul Raden Patah, Pendiri Kesultanan Islam Demak Kelahiran Palembang Trah Majapahit

Jum'at, 22 Maret 2024 - 07:38 WIB
loading...
A A A
Itu artinya, waktu kelahiran Raden Fatah, jatuh pada tahun 1455 atau 1456 Masehi. Setelah Raden Fatah lahir, Arya Damar kemudian menikahi Sui Ban Cin. Dari pernikahan ini kemudian lahirlah seorang putra bernama Raden Kusen (Kin San) dalam naskah Klenteng Sam Po Kong.

Dengan demikian, bisa diasumsikan bahwa Raden Patah sudah menjadi Muslim sejak bayi. Adapun madrasah pertamanya, tidak lain adalah ibunya sendiri. Selanjutnya, urusan pendidikan Raden Fatah sepenuhnya merujuk pada ayah tirinya, yaitu Arya Damar.

Raden Patah tinggal dan dididik oleh Arya Damar sekitar 15 tahun, yaitu dari tahun 1456 sampai 1471. Dalam kurun waktu tersebut, Raden Fatah tidak hanya belajar ilmu agama, tapi juga ilmu pemerintahan kepada Arya Damar.

Baca Juga: Petuah Kiai Mojo ke Pangeran Diponegoro Bakar Perang Jawa Makin Berkobar

Raden Fatah mendapat didikan langsung dari sosok yang memiliki kedalaman ilmu agama di satu sisi, dan kemampuan memerintah di sisi lain. Bisa dimaklumi bila di kemudian hari, Raden Fatah terlihat demikian tangkas dalam memanjat struktur sosial dan politik di tengah masyarakat.

Hingga akhirnya berhasil mendirikan sebuah kekuatan politik baru nan mandiri, yang dikenal sebagai Kesultanan Demak. Tapi setelah sudah cukup dewasa, terjadi perdebatan sengit antara Raden Patah dengan Arya Damar mengenai sebuah topik keilmuan.

Hal itu membuat Raden Patah memutuskan pergi dari Palembang dan hijrah ke Pulau Jawa. Agus Sunyoto mengutip salah satu babak cerita dalam Serat Kadaning Ringgit Purwa yang mengisahkan sebab kepergian Raden Fatah dari Palembang, sebagai berikut:

“Sudah dewasa keduanya (Raden Fatah dan Raden Kusen). Raden Fatah bertukar pandangan dengan sang kakak, Arya Damar, memperbincangkan ilmu (agama).

Arya Damar memiliki dasar ilmu Buddha (Hindu-Buddha) dan Raden Fatah memiliki dasar ilmu Islam. Lalu pergilah Raden Patah.

Mengasingkan diri (uzlah) ke Gunung Sumirang, gunung di seberang sungai. Puasa mutih. Yang disantap hanya Yang Mahakuasa. Berhasrat untuk menegakkan agama yang mulia. Karena malu di hati telah disalahkan oleh Arya Damar dalam perbincangan ilmu.

Putra Arya Damar, Raden Kusen, enggan ikut ayahnya. Kemana pun Raden Patah pergi, Raden Kusen selalu ikut. Ketika Raden Patah pergi bertapa (Uzlah) di gunung, Raden Kusen menyusul. Raden Fatah meminta agar Raden Kusen pulang.

Karena perjalanan yang akan dilakukan sangat berat, akan pergi ke Jawa. Namun, Raden Kusen telah menyatakan tekad, hidup dan matinya akan diabdikan kepada Raden Patah. Lalu mereka berdua pergi mengembara keluar dan masuk hutan, melangkah sepanjang tepian sungai.

Bahkan, lupa makan dan lupa tidur, sampai mereka berdua berada di pinggir laut. Agus Sunyoto mengasumsikan bahwa perdebatan tersebut terkait dengan pokok-pokok ajaran agama Islam. Karena Raden Patah merasakan ketidakpuasan mendapat pelajaran agama dari Arya Dama.

Padahal, ketika itu, kebutuhan Raden Patah akan pendalaman ilmu-ilmu keislaman terasa kian mendesak. Dia butuh pemecahannya.

Berbeda dengan yang dituturkan oleh Serat Kadaning Ringgit Purwa, menurut Babad Tanah Jawi, alasan kepergian Raden Fatah dan Raden Kusen dari Palembang, karena mereka tidak mau menggantikan posisi ayahnya sebagai Adipati Palembang.

Bisa jadi, alasan penolakan itu karena Raden Fatah masih ingin menimba banyak ilmu. Sebab sebagaimana dikatakan Agus Sunyoto, semakin dewasa, kebutuhan Raden Fatah akan ilmu kian bertambah. Dia butuh pemuasannya.

Maka pergilah Raden Patah dari negeri Palembang ditemani oleh adik tirinya, Raden Kusen. Dalam pengembaraannya mencari ilmu, Raden Patah dan Raden Kusen dikisahkan sampai ke pinggir laut dan berjumpa dengan seorang pelaut China yang membawa mereka berdua ke Jawa.

Menurut naskah Klenteng Sam Po Kong di Semarang, dalam perjalanannya, Raden Patah sempat singgah dulu di Semarang dan salat di dalam masjid. Dia meratap ketika melihat di dalam masjid ada patung Sam Po Kong.

Dia berdoa, mudah-mudahan kelak ketika dia mampu mendirikan masjid, tempat itu tidak akan berubah menjadi klenteng sepeninggalnya. Setelah dari Semarang, Raden Patah dan Raden Kusen terus berjalan lagi, hingga tiba di Surabaya.

Di Surabaya, mereka berdua dihadapkan ke Sunan Ampel guna menyampaikan keinginan untuk berguru Agama Islam. Raden Fatah dan Raden Kusen kemudian diterima menjadi murid oleh Sunan Ampel.

Bahkan, Raden Fatah kemudian dinikahkan dengan putri Sunan Ampel yang bernama Dewi Murthosimah dan Raden Kusen dinikahkan dengan cucu Sunan Ampel yang bernama Nyai Willis.

Demikianlah, kabar putra dan cucu raja Majapahit asal Palembang yang berguru kepada Sunan Ampel itu tersiar sampai ibu kota dan dilaporkan pada Raja Majapahit.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Kedipan Mata Komandan...
Kedipan Mata Komandan Brimob Bikin Tawanan Tewas Ditembak dari Jarak 5 Meter
Kisah Cinta Sutan Sjahrir...
Kisah Cinta Sutan Sjahrir dan Maria Mieske, Dipisahkan Penjara hingga Politik Kolonial Belanda
196 Tahun Keris Kanjeng...
196 Tahun Keris Kanjeng Kiai Nogo Siluman, Pusaka Pangeran Diponegoro Simbol Kepemimpinan Tanah Jawa
Kisah Jenderal Kopassus...
Kisah Jenderal Kopassus Soegito Pertaruhkan Nyawa saat Hadapi Pemberontak Fretilin
Kisah Pasukan Legiun...
Kisah Pasukan Legiun Mangkunegaran Mampu Menandingi Kekuatan Militer Eropa
Kisah Jenderal Sjafrie...
Kisah Jenderal Sjafrie Kawal Soeharto yang Tolak Pakai Rompi Anti Peluru saat Kunjungan ke Bosnia
Indonesia di Antara...
Indonesia di Antara Quantum Warfare dan Multipolaritas
Urgensi Indonesia Maritime...
Urgensi Indonesia Maritime Policy
Ketupat Lebaran, Asal-usul...
Ketupat Lebaran, Asal-usul dan Filosofisnya
Rekomendasi
Deretan Pasal Menjerat...
Deretan Pasal Menjerat Roy Suryo dan Dokter Tifa di Kasus Ijazah Jokowi
MUI Tegaskan LGBT adalah...
MUI Tegaskan LGBT adalah Penyimpangan: Wajib Disembuhkan
Hasil Piala Dunia 2026:...
Hasil Piala Dunia 2026: Belgia Dipaksa Bermain Imbang Lawan Iran
Berita Terkini
Saleh Husin, Retno Marsudi,...
Saleh Husin, Retno Marsudi, Triawan Munaf, Tantowi Yahya, hingga Mari Pangestu Latihan Menuju UI Green Marathon
Creavibe Fest 2026:...
Creavibe Fest 2026: Mahasiswa Desain Produk UMB Tampilkan Karya Fesyen Berkelanjutan
Festival Anak Pancasila...
Festival Anak Pancasila 2026 Perkuat Karakter Kebangsaan Generasi Muda
Pramono Bangun Pedestrian...
Pramono Bangun Pedestrian Deck Dukuh Atas untuk Tingkatkan Konektivitas
Kadishub DKI Sangkal...
Kadishub DKI Sangkal Anak Buahnya Minta Duit Rp250 Ribu ke Ojol yang Motornya Diangkut
Gempa Magnitudo 4,1...
Gempa Magnitudo 4,1 Kembali Guncang Sigi, BMKG Catat 1.163 Gempa Susulan Pascagempa M6,7
Infografis
Kronologi Kasus Perdagangan...
Kronologi Kasus Perdagangan 25 Bayi Asal Jabar ke Singapura
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved