Air Diputus Caleg Gagal, Warga Cilegon Terpaksa Naik Turun Bukit 2 Km
Jum'at, 15 Maret 2024 - 09:34 WIB
loading...
Warga Cisurup, Kelurahan Suralaya, Cilegon harus menempuh perjalanan 2 km untuk mencari sumber air. Foto/Iskandar Nasution/iNewsTV
A
A
A
CILEGON - Ironis, seorang calon anggota legislatif (caleg) di Cilegon tega memutus aliran air bersih ke rumah warga. Akibatnya, warga Cisurup, Kelurahan Suralaya, harus menempuh perjalanan 2 km untuk mencari sumber air.
Para warga di Kelurahan Suralaya, Kecamatan Pulomerak, Kota Cilegon, terpaksa melakukan perjalanan yang melelahkan untuk mendapatkan air bersih setiap hari. Pasca pemutusan aliran air oleh Caleg yang tidak berhasil terpilih, mereka harus mencari sumber air di bukit yang jaraknya tidak kurang dari 2 kilometer.
"Air ini diputus tanggal 18 Februari 2024, 4 hari setelah penghitungan suara. Semenjak itu kami dan keluarga lain ya harus mengambil air di sumber mata air, itu sejauh 2 kilometer," ucap Saibah, warga Cisuruh.
Situasi ini semakin memburuk saat musim kemarau tiba, di mana warga harus melakukan perjalanan yang jauh untuk mendapatkan air. Bahkan saat musim penghujan, mereka masih harus berebutan dengan warga lain untuk mendapatkan air dari sumber-sumber yang tersedia.
Baca Juga: Ricuh! Caleg Gagal Ngamuk Tutup Akses Jalan Kota Uneng di Sikka
"Kondisi kampung kami di dataran tinggi, jadi kami agak kesulitan (mendapat air bersih. Terlebih kalau musim kemarau, kami harus mencari air ke landoh (bawah), itu hampir 4 sampai 5 kilometer jauhnya untuk mendapat air bersih, tak jarang itu pun sering rebutan," ungkap Jumani. warga lainnya.
Selain masalah jarak yang harus ditempuh, warga yang tinggal di perbukitan juga menghadapi kesulitan dalam melakukan penggalian sumur bor untuk mencari sumber air. Teknologi khusus diperlukan agar air dapat ditemukan, tetapi hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi mereka.
Para warga di Kelurahan Suralaya, Kecamatan Pulomerak, Kota Cilegon, terpaksa melakukan perjalanan yang melelahkan untuk mendapatkan air bersih setiap hari. Pasca pemutusan aliran air oleh Caleg yang tidak berhasil terpilih, mereka harus mencari sumber air di bukit yang jaraknya tidak kurang dari 2 kilometer.
"Air ini diputus tanggal 18 Februari 2024, 4 hari setelah penghitungan suara. Semenjak itu kami dan keluarga lain ya harus mengambil air di sumber mata air, itu sejauh 2 kilometer," ucap Saibah, warga Cisuruh.
Situasi ini semakin memburuk saat musim kemarau tiba, di mana warga harus melakukan perjalanan yang jauh untuk mendapatkan air. Bahkan saat musim penghujan, mereka masih harus berebutan dengan warga lain untuk mendapatkan air dari sumber-sumber yang tersedia.
Baca Juga: Ricuh! Caleg Gagal Ngamuk Tutup Akses Jalan Kota Uneng di Sikka
"Kondisi kampung kami di dataran tinggi, jadi kami agak kesulitan (mendapat air bersih. Terlebih kalau musim kemarau, kami harus mencari air ke landoh (bawah), itu hampir 4 sampai 5 kilometer jauhnya untuk mendapat air bersih, tak jarang itu pun sering rebutan," ungkap Jumani. warga lainnya.
Selain masalah jarak yang harus ditempuh, warga yang tinggal di perbukitan juga menghadapi kesulitan dalam melakukan penggalian sumur bor untuk mencari sumber air. Teknologi khusus diperlukan agar air dapat ditemukan, tetapi hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi mereka.
Lihat Juga :