alexametrics

Empat Catatan Sudirman Said-Ida Fauziyah dalam Pilgub Jateng

loading...
Empat Catatan Sudirman Said-Ida Fauziyah dalam Pilgub Jateng
Sudirman Said-Ida Fauziyah saat menyampaikan pernyataan sikap atas hasil pleno KPU tentang rekapitulasi suara Pilgub Jateng di Hotel Patra Semarang, Senin (9/7/2018). FOTO/SINDOnews/AHMAD ANTONI
A+ A-
SEMARANG - Sehari setelah KPU Jawa Tengah mengumumkan hasil rekapitulasi hasil suara Pilgub Jateng 2018, pasangan calon (paslon) gubernur-wakil gubernur, Sudirman Said-Ida Fauziyah mengakui keunggulan paslon nomor 1, Ganjar Pranowo-Taj Yasin. Dalam rapat pleno KPU Jateng menunjukkan paslon Ganjar-Yasin meraih 10.362.694 suara atau 58,78%, sedangkan Sudirman-Ida mendapatkan 7.267.993 suara pemilih atau 41,22%.

Namun demikian, Sudirman-Ida menyampaikan sejumlah catatan atas raihan hasil di Pilgub Jateng. Ada empat catatan dalam pernyataan sikap yang dibacakan Sudirman Said seusai menggelar acara silaturahim dan berdialog dengan para relawan pendukungnya di Hotel Patra Semarang, Jawa Tengah, Senin (9/7/2018).

Catatan pertama, ungkap Sudirman, Pilkada Jawa Tengah 2018 menyisakan tanda tanya tentang Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang bermasalah. "Hasil kajian kami, ada potensi sebanyak 3,7 juta nama-nama pemilih memberi indikasi tidak akuratnya jumlah dan identitas pemilih Jawa Tengah," ungkap Pak Dirman.



Menurutnya, jumlah tersebut lebih besar dari selisih perolehan suara antara pasangan nomor 1 dan pasangan nomor 2. Terhadap hal yang amat serius ini, pihaknya memandang belum ada penanganan yang cukup serius oleh pihak-pihak yang berwenang.

Kemudian catatan kedua adalah banyak pihak yang menyayangkan sangat terbatasnya sosialisasi pasangan calon. Hal ini disebabkan oleh kegagalan lelang alat peraga kampanye berulang-ulang. "Kita mencatat KPU Jawa Tengah mengalami tiga kali gagal lelang, baik lelang pencetakan brosur, pemasangan baliho, maupun pemasangan iklan di media cetak dan elektronik," katanya.

Pihaknya memandang menarik untuk mengkaitkan antara minimnya sosialisasi dan tingkat partisipasi yang amat tinggi, dibandingkan dengan pilkada dua periode sebelumya. "Menjadi tanda tanya, mengapa dalam suasana "adem ayem" minim sosialisasi, tetapi partisipasi pemilih mencapai 67,97%, jauh di atas tingkat partisipasi dua Pilkada sebelumnya yang hanya 58,46% (2008), dan 54,25% (2013)," katanya.

Untuk catatan ketiga adalah tidak dapat ditutupi bahwa sejumlah lembaga survei terus bersahut-sahutan membangun persepsi yang merugikan pasangan calon nomor 2. Hal ini telah mengakibatkan persepsi masyarakat tergiring sedemikian rupa, dan yang lebih penting, para pihak yang berpotensi mendukung paslon nomor 2, satu per satu menarik diri.
"Belakangan menjadi pembahasan publik bahwa prediksi lembaga-lembaga survei itu jauh sekali dari kenyataan lapangan yang dibuktikan dengan perolehan suara kita," ujar mantan menteri ESDM ini.

Catatan keempat yakni disinyalir terjadi tekanan kepada sejumlah pihak yang akan memberikan bantuan. Bahkan pada saat-saat terakhir yang amat menentukan, uang konsumsi untuk saksi pun mengalami semacam "sabotase". "Tidak berlebihan bila kami catatkan di sini bahwa tanpa pertolongan Allah SWT, Pilkada Jawa Tengah hampir saja merenggut nyawa tim pemenangan paslon nomor 2," katanya.

Sudirman menyatakan bahwa catatan tersebut bukanlah dimaksudkan sebagai pernyataan sikap tidak menerima kekalahan, tapi justru dalam keterbatasan dan tekanan yang dialami, jumlah suara yang diperoleh sejatinya adalah suatu "kemenangan intrinsik".

"Kemenangan dalam tata kerja dan kemenangan suara nurani rakyat Jawa Tengah yang didapatkan dengan cara-cara luhur, tanpa sedikit pun berniat membalas fitnah, dan tekanan yang kami rasakan," katanya.
(amm)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak