Bima Sebut 27 Pegawai Positif Covid-19 Berasal dari Kasus OTG
Rabu, 12 Agustus 2020 - 12:11 WIB
loading...
Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto. Foto/Dok/SINDOnews
A
A
A
BOGOR - Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto menjelaskan delapan Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) itu ada 27 orang positif Covid-19 terdiri dari dokter, bidan dan beberapa petugas non medis, seperti juru parkir dan resepsionis.Ia menegaskan, belum tentu mereka tertular dari para pasien yang berobat ke fasilitas kesehatan tingkat pertama atau kecamatan itu.
"Ada beberapa yang tertular di keluarganya sendiri. Jadi, ini sebetulnya penularan yang masih dalam klaster rumah tangga atau keluarga,” kata Bima di Bogor, Rabu (12/8/2020). (Baca juga: Kepala Daerah Jabodetabekjur Berkumpul, Bima Arya Minta Perkuat Tiga Aspek Ini )
Bima mengatakan, saat ini Pemkot Bogor tengah menggencarkan swab test massif. Target awalnya 8.000 swab test menjadi 11.000 swab test atau 1 persen dari jumlah penduduk Kota Bogor. "Nah, saat ini sudah hampir 9.000, targetnya satu bulan lagi tuntas. Dari sini kemudian ditemukan banyak kasus positif dari tempat yang beresiko, seperti kantor dan faskes," sebutnya.
Menurut dia, orang-orang yang ditemukan positif Covid-19 banyak berasal dari faskes OTG (Orang Tanpa Gejala). Ketika di swab ditemukan 27 orang dinyatakan positif yang bekerja di faskes. (Baca juga: Kasus Positif Covid-19 di Bogor Raya Hampir Tembus 1.000 orang )
“Sebetulnya protokol kesehatan sudah dijalankan dengan baik. Jadi, ketika melayani warga, berinteraksi dengan pasien APD dipakai lengkap, cuma yang perlu diperbaiki tempat dan memasang APD harus dipastikan steril."
"Ketika tidak bertugas ini harus sama-sama menjaga dengan sesama staf, ketika makan, rapat. Makanya Pemkot mengeluarkan larangan untuk rapat secara tatap muka dalam waktu yang lama, dibatasi maksimal 30 menit dan dihadiri maksimal 20 orang,” katanya.
Atas temuan kasus baru ini, Pemkot akan mengambil langkah menutup 4 puskesmas yang dianggap beresiko atau kategori merah, yaitu orang yang terpapar ada riwayat kontak langsung di puskesmas. “Bagi puskesmas yang lain yang ditemukan ada yang positif, tapi tidak bersinggungan dengan pelayanan itu tetap buka, misalnya ditemukan di juru parkir dan lain-lain,” tuturnya.
"Ada beberapa yang tertular di keluarganya sendiri. Jadi, ini sebetulnya penularan yang masih dalam klaster rumah tangga atau keluarga,” kata Bima di Bogor, Rabu (12/8/2020). (Baca juga: Kepala Daerah Jabodetabekjur Berkumpul, Bima Arya Minta Perkuat Tiga Aspek Ini )
Bima mengatakan, saat ini Pemkot Bogor tengah menggencarkan swab test massif. Target awalnya 8.000 swab test menjadi 11.000 swab test atau 1 persen dari jumlah penduduk Kota Bogor. "Nah, saat ini sudah hampir 9.000, targetnya satu bulan lagi tuntas. Dari sini kemudian ditemukan banyak kasus positif dari tempat yang beresiko, seperti kantor dan faskes," sebutnya.
Menurut dia, orang-orang yang ditemukan positif Covid-19 banyak berasal dari faskes OTG (Orang Tanpa Gejala). Ketika di swab ditemukan 27 orang dinyatakan positif yang bekerja di faskes. (Baca juga: Kasus Positif Covid-19 di Bogor Raya Hampir Tembus 1.000 orang )
“Sebetulnya protokol kesehatan sudah dijalankan dengan baik. Jadi, ketika melayani warga, berinteraksi dengan pasien APD dipakai lengkap, cuma yang perlu diperbaiki tempat dan memasang APD harus dipastikan steril."
"Ketika tidak bertugas ini harus sama-sama menjaga dengan sesama staf, ketika makan, rapat. Makanya Pemkot mengeluarkan larangan untuk rapat secara tatap muka dalam waktu yang lama, dibatasi maksimal 30 menit dan dihadiri maksimal 20 orang,” katanya.
Atas temuan kasus baru ini, Pemkot akan mengambil langkah menutup 4 puskesmas yang dianggap beresiko atau kategori merah, yaitu orang yang terpapar ada riwayat kontak langsung di puskesmas. “Bagi puskesmas yang lain yang ditemukan ada yang positif, tapi tidak bersinggungan dengan pelayanan itu tetap buka, misalnya ditemukan di juru parkir dan lain-lain,” tuturnya.
Lihat Juga :