Serangan Mengerikan Sriwijaya Picu Pertumpahan Darah dan Penaklukan Bangka
Rabu, 10 Januari 2024 - 07:15 WIB
loading...
Prasastii Kerajaan Sriwijaya menggambarkan sebuah serangan mengerikan pernah dilakukan yang membuat banjir darah dan disebut sebagai kutukan kala itu. Foto/Ilustrasi/Ist
A
A
A
PRASASTI Kerajaan Sriwijaya menggambarkan bagaimana sebuah serangan mengerikan pernah dilakukan kala itu. Serangan dahsyat yang membuat banjir darah itu disebut sebagai kutukan yang dialami oleh daerah kekuasaan.
Fragmen prasasti Kerajaan Sriwijaya ditemukan tahun 1928 di Bukit Seguntang. Fragmen itu terdiri dari 21 baris dan menyebut adanya peperangan, seperti yang tertera pada baris ke-10 yang berbunyi tidak tahu pira marvya (ha) atau tidak tahu berapa banyak yang berperang.
Baca juga: 5 Prasasti Kutukan yang Berasal dari Kerajaan Sriwijaya
Kemudian baris ke-5 yang berbunyi vañak pramirahña, atau banyak darah tertumpah. Lalu baris ke-9 yaitu pauravirakta atau merah (oleh darah) penduduknya, serta mamañcak yam praj ini yang diduga berkenaan dengan peperangan itu sendiri.
Fragmen ini juga memuat kutukan kepada mereka yang berbuat salah, sebagaimana dikutip dari "Sejarah Nasional Indonesia II : Zaman Kuno".
Prasasti singkat lainnya berupa dua buah fragmen prasasti dari tanah liat. Bahasa yang dipakai bahasa Sanskerta. Prasasti pertama disimpan di Museum Nasional, Jakarta dengan nomor D162, asalnya dari kampung Sabukingking, 2 Ilir bagian timur kota Palembang.
Fragmen prasasti Kerajaan Sriwijaya ditemukan tahun 1928 di Bukit Seguntang. Fragmen itu terdiri dari 21 baris dan menyebut adanya peperangan, seperti yang tertera pada baris ke-10 yang berbunyi tidak tahu pira marvya (ha) atau tidak tahu berapa banyak yang berperang.
Baca juga: 5 Prasasti Kutukan yang Berasal dari Kerajaan Sriwijaya
Kemudian baris ke-5 yang berbunyi vañak pramirahña, atau banyak darah tertumpah. Lalu baris ke-9 yaitu pauravirakta atau merah (oleh darah) penduduknya, serta mamañcak yam praj ini yang diduga berkenaan dengan peperangan itu sendiri.
Fragmen ini juga memuat kutukan kepada mereka yang berbuat salah, sebagaimana dikutip dari "Sejarah Nasional Indonesia II : Zaman Kuno".
Prasasti singkat lainnya berupa dua buah fragmen prasasti dari tanah liat. Bahasa yang dipakai bahasa Sanskerta. Prasasti pertama disimpan di Museum Nasional, Jakarta dengan nomor D162, asalnya dari kampung Sabukingking, 2 Ilir bagian timur kota Palembang.
Lihat Juga :