Kisah Pilu Kehidupan Warga Bedeng di Bawah Jembatan Arteri Semarang
Minggu, 09 Agustus 2020 - 17:47 WIB
loading...
A
A
A
Artinya, pendidikan seks bagi anak-anak begitu penting. Apalagi mereka tinggal di rumah bedeng, yang notabene menggunakan fasilitas umum seperti kamar mandi, toilet, tempat main, jemuran, dapur secara bersama-sama. Untuk memenuhi ratusan warga sebanyak itu, hanya ada sembilan kamar mandi di rumah bedeng di bawah jembatan arteri.
Meski masih anak-anak, namun mereka harus diberikan pengertian bahwa secara kodrat ada laki-laki dan perempuan. Masing-masing memiliki aurat yang tak boleh dilihat atau dipegang orang lain. Bahkan orang tua pun tak boleh memegang saat mereka dewasa kelak. Kecuali ada alasan tertentu, seperti sakit.
Hal itu mesti ditanamkan, jika tidak maka bisa saja ada kejadian bullying yang mengarah ke kekerasan seksual. Rohmadi pun kemudian mengajak anak-anak untuk bergabung di Tempat Pendidikan AlQuran (TPQ) di masjid yang berada di sekitar lokasi. Prosesnya memang panjang. Namun saat ini ada 120 santri yang tercatat.
Bermula dari pendidikan membaca Iqra (alif ba ta) kemudian berlanjut ke mendidik akidah dan norma-norma di kehidupan. Omongan kasar anak-anak mulai hilang, kata-kata umpatan juga tak lagi terdengar. "Kami bersyukur. Anak-anak sudah mapan. Ini harus kami jaga terus," ujarnya.
Meski masih anak-anak, namun mereka harus diberikan pengertian bahwa secara kodrat ada laki-laki dan perempuan. Masing-masing memiliki aurat yang tak boleh dilihat atau dipegang orang lain. Bahkan orang tua pun tak boleh memegang saat mereka dewasa kelak. Kecuali ada alasan tertentu, seperti sakit.
Hal itu mesti ditanamkan, jika tidak maka bisa saja ada kejadian bullying yang mengarah ke kekerasan seksual. Rohmadi pun kemudian mengajak anak-anak untuk bergabung di Tempat Pendidikan AlQuran (TPQ) di masjid yang berada di sekitar lokasi. Prosesnya memang panjang. Namun saat ini ada 120 santri yang tercatat.
Bermula dari pendidikan membaca Iqra (alif ba ta) kemudian berlanjut ke mendidik akidah dan norma-norma di kehidupan. Omongan kasar anak-anak mulai hilang, kata-kata umpatan juga tak lagi terdengar. "Kami bersyukur. Anak-anak sudah mapan. Ini harus kami jaga terus," ujarnya.
(shf)
Lihat Juga :