Kisah Pangeran Diponegoro Menolak Jenazah Adiknya Diautopsi karena Tak Sesuai Syariat Islam
Selasa, 12 Desember 2023 - 07:54 WIB
loading...
Pangeran Diponegoro. Foto/Ilustrasi/Ist
A
A
A
Kematian Sultan Hamengkubuwono IV membuat geger para petinggi keraton. Bahkan Pangeran Diponegoro terpaksa dipanggil menghadap ke Keraton Yogyakarta karena kondisi Sultan Yogya yang tengah kritis itu. Apalagi sebelum tiba-tiba sakit, Sultan Hamengkubuwono IV baru saja tiba dari rumah Pangeran Diponegoro di Tegalrejo.
Di sana sang sultan meminta dokumen penting peninggalan warisan ayah Pangeran Diponegoro yakni Sultan Hamengkubuwono III. Sultan Hamengkubuwono IV saat itu memang mengendarai kudanya menuju rumah Pangeran Diponegoro kemudian kembali pulang.
Kesehatannya tiba-tiba memburuk setibanya di istana kesultanan. Alhasil Pangeran Diponegoro pun juga diminta cepat-cepat dipanggil dari rumahnya di Tegalrejo. Tetapi setibanya di keraton, saudara mudanya itu sudah tiada.
Drama pun kembali muncul setelah itu. Dokter Karasidenan Belanda menyarankan agar dibuat sayatan di paha jenazah sultan. Langkah ini semacam pemeriksaan visum guna memastikan kondisi tubuh Sultan Hamengkubuwono IV.
Baca Juga: Kisah Pangeran Diponegoro dan Karomah Para Kiai Kharismatik
Selain itu, langkah itu dikisahkan Peter Carey pada bukunya "Takdir Riwayat Pangeran Diponegoro : 1785 - 1855" untuk memastikan apakah sirkulasi darahnya masih bekerja atau tidak. Namun Pangeran Diponegoro mencegahnya.
Alasannya cukup simpel karena Pangeran Diponegoro menganggap tindakan seperti visum dan autopsi itu bertentangan dengan praktek Islam, bahwa tubuh orang yang sudah meninggal tidak boleh dicederai. Orang lalu teringat akan penolakan Pangeran terhadap praktik perdukunan tradisional yang bertujuan melepaskan daya hidup saat ayahnya sendiri, Sultan Hamengku Buwono III, wafat pada 3 November 1814.
Di sana sang sultan meminta dokumen penting peninggalan warisan ayah Pangeran Diponegoro yakni Sultan Hamengkubuwono III. Sultan Hamengkubuwono IV saat itu memang mengendarai kudanya menuju rumah Pangeran Diponegoro kemudian kembali pulang.
Kesehatannya tiba-tiba memburuk setibanya di istana kesultanan. Alhasil Pangeran Diponegoro pun juga diminta cepat-cepat dipanggil dari rumahnya di Tegalrejo. Tetapi setibanya di keraton, saudara mudanya itu sudah tiada.
Drama pun kembali muncul setelah itu. Dokter Karasidenan Belanda menyarankan agar dibuat sayatan di paha jenazah sultan. Langkah ini semacam pemeriksaan visum guna memastikan kondisi tubuh Sultan Hamengkubuwono IV.
Baca Juga: Kisah Pangeran Diponegoro dan Karomah Para Kiai Kharismatik
Selain itu, langkah itu dikisahkan Peter Carey pada bukunya "Takdir Riwayat Pangeran Diponegoro : 1785 - 1855" untuk memastikan apakah sirkulasi darahnya masih bekerja atau tidak. Namun Pangeran Diponegoro mencegahnya.
Alasannya cukup simpel karena Pangeran Diponegoro menganggap tindakan seperti visum dan autopsi itu bertentangan dengan praktek Islam, bahwa tubuh orang yang sudah meninggal tidak boleh dicederai. Orang lalu teringat akan penolakan Pangeran terhadap praktik perdukunan tradisional yang bertujuan melepaskan daya hidup saat ayahnya sendiri, Sultan Hamengku Buwono III, wafat pada 3 November 1814.
Lihat Juga :