Kisah Ki Ageng Ngaliman, Putra Sunan Giri Dihukum Mati usai Tantang Mataram

Minggu, 03 Desember 2023 - 14:58 WIB
loading...
Kisah Ki Ageng Ngaliman,...
Jamasan pusaka Ki Ageng Ngaliman di Desa Ngaliman, Kabupaten Nganjuk. Foto/Dok. nganjukkab.go.id
A A A
Salah satu putra Sunan Giri, yang diketahui bernama Aliman, dan kemudian hari dikenal dengan Ki Ageng Ngliman atau Ki Ageng Ngaliman, dibuang di sebuah bukit di sisi utara Gunung Wilis. Pembuangan terhadap Aliman ini, sebagai bentuk hukuman karena tabiatnya yang buruk.

Baca juga: Kisah Wali Songo Dikejutkan Baju Antakusuma Berlumuran Darah di Masjid Demak

"Dia mengejek pengetahuan santri, meremehkan ilmu para mutakalim," demikian dikutip dari buku Kisah Brang Wetan Berdasarkan Babad Alit dan Babade Nagara Patjitan (2021). Aliman dinilai telah menggerogoti ajaran syariat Islam, yang diajarkan Sunan Giri.



Sunan Giri yang bernama kecil Raden Paku, merupakan putra Syaikh Maulana Ishak. Sebagaimana Sunan Ampel, mertuanya, Sunan Giri mengembangkan Islam melalui jalur kekuasaan dan perniagaan.

Baca juga: 11 Orang Hilang Akibat Banjir Bandang Humbang Hasundutan, Butuh Anjing Pelacak untuk Pencarian

Dalam buku Atlas Wali Songo (2016) disebutkan, salah satu bidang dakwah yang digarap Sunan Giri adalah pendidikan, yakni mengembangkan sistem pesantren. Kemudian juga bidang politik dan kebudayaan yang itu tak lepas dari kebijaksanaan wali lainnya.

Gelar Prabu Satmata, yakni salah satu nama Dewa Siwa yang diberikan kepada Sunan Giri, adalah merujuk pada kekuasaan politik yang dimiliki. Catatan Literature of Java (1967-1980) Th.H.Th. Pigeaud menyebut, pada tahun 1485 Masehi, Sunan Giri membangun kedhaton di puncak bukit yang kemudian dikenal bernama Giri Kedhaton.

Sementara polah tingkah Aliman, secara tidak langsung telah menggerogoti ajaran Islam. Aliman tidak henti-henti mencemooh pengetahuan para santri. Ilmu para orang-orang alim (mutakalim) terus direndahkannya dan itu membuat keresahan di mana-mana.

Kisah Ki Ageng Ngaliman, Putra Sunan Giri Dihukum Mati usai Tantang Mataram


"Karena tindakan itu dapat merusak agama Islam, dan dapat mengakibatkan masjid pondok sepi". Ulah Aliman tidak bisa dibiarkan, dan dia diputuskan dibuang ke sebuah bukit yang kelak dikenal dengan nama Gunung Liman, yang letaknya bersebelahan dengan Gunung Wilis.

Di tempat barunya, Aliman mengangkat diri sebagai Ki Ageng, dan dikenal dengan nama Ki Ageng Ngliman atau Ngaliman. Ia mengajar ilmu kanuragan dan kedigdayaan kepada orang-orang Jawa yang ikut bertempat tinggal di sana.

Padepokan Ki Ageng Ngaliman dalam waktu singkat kesohor. Muridnya terus bertambah dan semakin banyak. Padepokan Ki Ageng Ngaliman berada di Kabupaten Berbeg. Pada masa kekuasaan Mataram Islam, di kawasan itu terdapat empat kabupaten, yakni Berbeg, Kertosono, Nganjuk dan Godean.

Baca juga: Di Hadapan Mahasiswa Unair, Angela Tanoesoedibjo Berbagi Tips Sukses UMKM

Pasca perang Jawa, atau Perang Diponegoro (1825-1830), di bawah gubernemen kolonial Belanda, empat kabupaten disatukan di bawah Kabupaten Berbeg, dan dalam perjalanannya pindah ke Nganjuk.

Sementara karena banyak pengikut dan merasa memiliki kekuasaan sendiri, Ki Ageng Ngaliman memperlihatkan sikap menantang Mataram. Dalam sekejap Ki Ageng Ngaliman dianggap sebagai tokoh yang membahayakan kekuasaan.

Kisah Brang Wetan Berdasarkan Babad Alit, dan Babade Nagara Patjitan menceritakan, Ki Ageng Ngaliman kemudian ditangkap dan dijatuhi hukuman mati. "Dia tertangkap dan dibawa ke Solo dan (kemudian) dihukum mati". Tamat sudah tiwayat Ki Ageng Ngaliman, pemimpin padepokan Gunung Liman Nganjuk yang dikenal sebagai putra Sunan Giri.
(eyt)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Kisah Cinta Sutan Sjahrir...
Kisah Cinta Sutan Sjahrir dan Maria Mieske, Dipisahkan Penjara hingga Politik Kolonial Belanda
196 Tahun Keris Kanjeng...
196 Tahun Keris Kanjeng Kiai Nogo Siluman, Pusaka Pangeran Diponegoro Simbol Kepemimpinan Tanah Jawa
Kisah Jenderal Kopassus...
Kisah Jenderal Kopassus Soegito Pertaruhkan Nyawa saat Hadapi Pemberontak Fretilin
Kisah Pasukan Legiun...
Kisah Pasukan Legiun Mangkunegaran Mampu Menandingi Kekuatan Militer Eropa
Kisah Jenderal Sjafrie...
Kisah Jenderal Sjafrie Kawal Soeharto yang Tolak Pakai Rompi Anti Peluru saat Kunjungan ke Bosnia
Sepak Terjang Matah...
Sepak Terjang Matah Ati, Istri Pangeran Sambernyawa yang Jadi Panglima Pasukan Khusus Wanita Mangkunegaran
Prabowo Resmikan Museum...
Prabowo Resmikan Museum Marsinah di Nganjuk: Ini Peristiwa Langka
Prabowo Tiba di Museum...
Prabowo Tiba di Museum Marsinah, Lihat Kamar hingga Sepeda Tua
Krisis Moral: Membongkar...
Krisis Moral: Membongkar Lapisan Kebohongan di Dunia Modern
Rekomendasi
Di Dua Waktu Istimewa...
Di Dua Waktu Istimewa Ini, Malaikat Pengawas Saling Bertemu
Lewat Platform Digital...
Lewat Platform Digital Elevate, SIG Perkuat Pengelolaan SDM dan Budaya Inovasi
Gelar Pertemuan di Ponpes...
Gelar Pertemuan di Ponpes Al Falah Ploso Kediri, Ini Tiga Seruan Masyayikh NU
Berita Terkini
GKSI Berdayakan Peternak...
GKSI Berdayakan Peternak dan Koperasi Susu untuk Perkuat Program MBG
Bangun Sinergitas, Pemkot...
Bangun Sinergitas, Pemkot Bogor Bersama Pelaku Usaha Ikuti Kompetisi Padel
HUT ke-499 DKI, Parade...
HUT ke-499 DKI, Parade Mobil Hias hingga Tarian Khas Jakarta Meriahkan Jakfestival di Ancol
13 Kiai Berkumpul di...
13 Kiai Berkumpul di Ponpes Al Falah Ploso, Serukan Muktamar NU Digelar di Pesantren
Jakarta Rawan Sinkhole,...
Jakarta Rawan Sinkhole, Wagub DKI Rano: Ada Daerah Berpotensi Ambles
Pramono Dampingi Megawati...
Pramono Dampingi Megawati Hadiri Bung Karno Festival di Taman Proklamasi
Infografis
6 Brigjen Naik Pangkat...
6 Brigjen Naik Pangkat Jadi Mayjen TNI usai Dapat Promosi Jabatan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved