Kisah Amangkurat III Marah Besar dan Mengebiri Adipati Ponorogo hingga Tewas
Jum'at, 01 Desember 2023 - 17:15 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Wanita-Wanita Disekeliling Amangkurat I Raja Mataram Islam
Naiknya Raden Mas Sutikna menempati tahta ayahnya, yakni Amangkurat II setelah tutup usia (1703), tidak berjalan mulus. Kenaikan Amangkurat III diiringi sikap pro dan kontra di lingkungan dalam Keraton Mataram.
Sejumlah pihak menginginkan Pangeran Puger yang menggantikan Amangkurat II mengingat ia adalah adik kandung Amangkurat II. Selain itu, konon Pangeran Puger lah yang telah mendapat restu melanjutkan kekuasaan Mataram.
Dukungan rakyat dan sejumlah pejabat keraton yang tidak menyukai kepemimpinan Amangkurat III terus mengalir kepada Pangeran Puger. Dukungan itu membuat Raja Mataram Amangkurat III resah sekaligus marah.
Sang paman, yakni Pangeran Puger dan keluarganya diburu, namun berhasil kabur ke Semarang. Di Semarang Pangeran Puger mendapat dukungan kekuatan dari VOC Belanda.
Ia pun mengangkat diri sebagai Susuhunan Mataram bergelar Pakubuwono I. Serangan pasukan Pangeran Puger bersama tentara VOC Belanda berhasil memaksa Amangkurat III angkat kaki dari istana.
Raja Mataram itu menyelamatkan diri ke wilayah Ponorogo. “Kangjeng Sunan tidak mampu menghadapi kekuatan pamannya”.
Amangkurat III menemui Adipati Ponorogo, Martowongso. Adipati Martowongso yang juga dikenal dengan nama Pangeran Kuning merupakan keturunan Batara Katong.
Martowongso dipaksa merebut Kota Mataram yang dikuasai Pangeran Puger, namun ditolak. Amangkurat III sontak murka. Peneliti asing Lucien Adam dalam Lawu dan Wilis menyebut Adipati Ponorogo itu dianiaya secara mengerikan.
Naiknya Raden Mas Sutikna menempati tahta ayahnya, yakni Amangkurat II setelah tutup usia (1703), tidak berjalan mulus. Kenaikan Amangkurat III diiringi sikap pro dan kontra di lingkungan dalam Keraton Mataram.
Sejumlah pihak menginginkan Pangeran Puger yang menggantikan Amangkurat II mengingat ia adalah adik kandung Amangkurat II. Selain itu, konon Pangeran Puger lah yang telah mendapat restu melanjutkan kekuasaan Mataram.
Dukungan rakyat dan sejumlah pejabat keraton yang tidak menyukai kepemimpinan Amangkurat III terus mengalir kepada Pangeran Puger. Dukungan itu membuat Raja Mataram Amangkurat III resah sekaligus marah.
Sang paman, yakni Pangeran Puger dan keluarganya diburu, namun berhasil kabur ke Semarang. Di Semarang Pangeran Puger mendapat dukungan kekuatan dari VOC Belanda.
Ia pun mengangkat diri sebagai Susuhunan Mataram bergelar Pakubuwono I. Serangan pasukan Pangeran Puger bersama tentara VOC Belanda berhasil memaksa Amangkurat III angkat kaki dari istana.
Raja Mataram itu menyelamatkan diri ke wilayah Ponorogo. “Kangjeng Sunan tidak mampu menghadapi kekuatan pamannya”.
Amangkurat III menemui Adipati Ponorogo, Martowongso. Adipati Martowongso yang juga dikenal dengan nama Pangeran Kuning merupakan keturunan Batara Katong.
Martowongso dipaksa merebut Kota Mataram yang dikuasai Pangeran Puger, namun ditolak. Amangkurat III sontak murka. Peneliti asing Lucien Adam dalam Lawu dan Wilis menyebut Adipati Ponorogo itu dianiaya secara mengerikan.
Lihat Juga :