Kisah Sewa Tanah di Era Sultan HB IV Picu Kebencian Pribumi ke Tionghoa dan Eropa
Jum'at, 01 Desember 2023 - 05:54 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Kisah Kiai Bondoyudo, Pusaka Pangeran Diponegoro yang Menggetarkan Kolonial Belanda
Justru ekonomi kaum petani Jawa umumnya berbasis barter. Dengan demikian, inisiatif Raffles tersebut kian menjerumuskan kaum tani Jawa semakin jauh ke dalam cengkeraman para rentenir Tionghoa setempat.
Sementara itu, di saat yang sama, penyalahgunaan sistem pajak Jawa yang lama masih berlaku. Pajak-pajak tanah saat itu dipungut oleh pejabat-pejabat Jawa. Dimana kebanyakan dari mereka adalah bekas pejabat pemerintahan keraton, yang selalu menuntut pelayanan lebih secara tradisional, dan bila perlu dengan pengambilan paksa.
Persoalan ini paling mencolok terlihat di Kedu, daerah yang pernah menjadi salah satu daerah tanah jabatan keraton paling makmur di Jawa tengah.
Kedu merupakan daerah di mana pada masa setelah 1816 dibuka sejumlah perkebunan kopi yang sangat luas.
Pada tahun 1827, luas areal tanaman kopi ini sudah meliputi hampir tiga perlima dari seluruh dataran tinggi Kedu.
Berkembangnya kebencian para petani penggarap di distrik Kedu, disebabkan karena beratnya kerja rodi di perkebunan-perkebunan kopi, yang nanti akan berakibat pada luasnya dukungan lokal bagi Pangeran Diponegoro selama Perang Jawa.
Justru ekonomi kaum petani Jawa umumnya berbasis barter. Dengan demikian, inisiatif Raffles tersebut kian menjerumuskan kaum tani Jawa semakin jauh ke dalam cengkeraman para rentenir Tionghoa setempat.
Sementara itu, di saat yang sama, penyalahgunaan sistem pajak Jawa yang lama masih berlaku. Pajak-pajak tanah saat itu dipungut oleh pejabat-pejabat Jawa. Dimana kebanyakan dari mereka adalah bekas pejabat pemerintahan keraton, yang selalu menuntut pelayanan lebih secara tradisional, dan bila perlu dengan pengambilan paksa.
Persoalan ini paling mencolok terlihat di Kedu, daerah yang pernah menjadi salah satu daerah tanah jabatan keraton paling makmur di Jawa tengah.
Kedu merupakan daerah di mana pada masa setelah 1816 dibuka sejumlah perkebunan kopi yang sangat luas.
Pada tahun 1827, luas areal tanaman kopi ini sudah meliputi hampir tiga perlima dari seluruh dataran tinggi Kedu.
Berkembangnya kebencian para petani penggarap di distrik Kedu, disebabkan karena beratnya kerja rodi di perkebunan-perkebunan kopi, yang nanti akan berakibat pada luasnya dukungan lokal bagi Pangeran Diponegoro selama Perang Jawa.
Lihat Juga :