Sejarah dan Asal-usul Bireuen, Kota Juang yang Pernah Jadi Ibu Kota Indonesia

Selasa, 28 November 2023 - 15:28 WIB
loading...
Sejarah dan Asal-usul...
Bireuen merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Aceh yang terletak di pesisir timur. Foto/Dok. Pemerintah Kabupaten Bireuen
A A A
JAKARTA - Bireuen merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Aceh yang terletak di pesisir timur. Daerah ini baru menjadi wilayah otonom sejak tahun 1999 sebagai hasil pemekaran dari Kabupaten Aceh Utara.

Perlu diketahui jika kabupaten yang satu ini terkenal akan julukan Kota Juang. Selain itu, Bireuen juga ternyata pernah menjadi salah satu basis wilayah Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Baca Juga Sejarah dan Asal-usul Nama Sabang, Kota di Ujung Barat Indonesia

Bireuen juga pernah ditetapkan sebagai ibu kota Indonesia ketiga selama seminggu. Adapun sejarah dan asal-usul Bireuen sebagai berikut.

Sejarah dan Asal-usul Bireuen


Dalam sejarahnya, nama Bireuen berasal dari kata “Biruhen”, yang berarti “tempat bertemu” dalam bahasa Aceh. Hal ini karena Bireuen merupakan tempat pertemuan antara dua sungai besar, yaitu Sungai Krueng Peusangan dan Sungai Krueng Jreu.

Bireuen juga menjadi tempat pertemuan antara berbagai suku, agama, dan budaya yang hidup di Aceh. Kabupaten Bireuen dikenal sebagai daerah yang toleran dan harmonis, meskipun pernah mengalami konflik dan bencana.

Baca Juga Sejarah dan Asal-usul Meulaboh, Kota yang Paling Parah Terkena Tsunami Aceh 2004

Sejarah Bireuen tidak dapat dilepaskan dari sejarah Aceh, yang merupakan salah satu kerajaan besar di Nusantara. Bireuen dahulu dikenal sebagai daerah Jeumpa, yang merupakan salah satu kerajaan kecil di Aceh.

Menurut catatan sejarah, Kerajaan Jeumpa terletak di Desa Blang Seupeung, Kecamatan Jeumpa, Kabupaten Bireuen. Kerajaan ini pernah menjadi bagian dari Kesultanan Aceh Darussalam.

Pada masa penjajahan Belanda, Aceh menjadi salah satu daerah yang paling lama dan gigih melawan. Bireuen menjadi salah satu pusat perlawanan rakyat Aceh terhadap Belanda, yang dipimpin oleh para ulama dan pemimpin adat.

Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, Bireuen menjadi bagian dari Provinsi Sumatera Utara, yang tergabung dalam Negara Bagian Sumatera Timur dalam Republik Indonesia Serikat (RIS). Menilik riwayatnya, Bireuen rupanya pernah menjadi ibu kota Republik Indonesia.

Daerah ini pernah ditetapkan sebagai ibu kota negara Indonesia pada 18 Juni 1948, yakni tepat pada saat Agresi Militer Belanda II (1947-1948). Akibatnya, PDRI yang semula menetap di Kota Bukittinggi berpindah lokasi ke Kabupaten Bireuen (a.k.a. Kota Juang).

Selain menjadi ibu kota negara, Bireuen juga pernah menjadi salah satu basis utama GAM, yang memiliki banyak simpatisan dan pendukung di kalangan rakyat. Gerakan tersebut terjadi pada tahun 1976.

Pada tahun 1998, terjadi reformasi politik di Indonesia, yang mengakhiri era Orde Baru. Pemerintah pusat mengadakan dialog dengan GAM, yang menghasilkan beberapa kesepakatan damai, seperti Perjanjian Damai Humaniter pada tahun 2000 dan Perjanjian Damai Malino pada tahun 2002.

Namun, kesepakatan-kesepakatan ini gagal dilaksanakan karena adanya ketidakpercayaan dan pelanggaran dari kedua belah pihak. Konflik di Aceh kembali memanas, dan pemerintah pusat kembali menetapkan status Darurat Militer di Aceh pada tahun 2003.

Pada tahun 2005, pemerintah pusat dan GAM menandatangani Perjanjian Damai Helsinki, yang mengakhiri konflik di Aceh dan memberikan otonomi khusus kepada Aceh, termasuk Bireuen dalam berbagai bidang.

Kabupaten Bireuen kini terkenal di bidang kulinernya di antaranya ada Mie Kocok Geurugok (Gandapura), Rujak Manis dan Bakso Gatok (Kuta Blang), Sate Matang (Peusangan) Bu Sie Itek dan hingga Nagasari (Kota Juang/Bireuen).
(okt)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Jelang Musda Partai...
Jelang Musda Partai Demokrat Aceh, Nurdiansyah Alasta Dapat Dukungan dari Mualem
18 DPC Beri Dukungan,...
18 DPC Beri Dukungan, Nurdiansyah Alasta Siap Pimpin Demokrat Aceh
Gerakan Solidaritas...
Gerakan Solidaritas BEM UI untuk Bencana Aceh
Gerakan Kurbanlah Salurkan...
Gerakan Kurbanlah Salurkan Hewan Kurban untuk 3.000 Keluarga di Aceh
15 Ribu Hektare Lahan...
15 Ribu Hektare Lahan Hangus Akibat Karhutla di Aceh dan Riau
Listrik Padam, Aceh,...
Listrik Padam, Aceh, Sumut, Sumbar, dan Riau Blackout
Butuh 7 Hari, CQF Bangun...
Butuh 7 Hari, CQF Bangun Masjid Pertama Asmaul Husna di Aceh Tamiang
Asbabun Nuzul 2 Ayat...
Asbabun Nuzul 2 Ayat Terakhir Surat Al Baqarah: Kisah Turunnya Ayat yang Menenangkan Para Sahabat
Museum ITB Diresmikan,...
Museum ITB Diresmikan, Ruang Baru Membaca Masa Lalu dan Merajut Masa Depan
Rekomendasi
Panda Bond Indonesia...
Panda Bond Indonesia Raih Rating AAA, Purbaya: Ada yang Bilang Saya Bohong
Proses Pemeliharaan...
Proses Pemeliharaan dan Pengisian Galon Bermerek Dipastikan Penuhi Standar Industri
Tembus Blokade Laut...
Tembus Blokade Laut Merah, Tanker Raksasa China Bawa Pulang 4 Juta Barel Minyak Arab Saudi
Berita Terkini
Suami Istri Pemilik...
Suami Istri Pemilik Hanania Travel Ditetapkan Jadi Tersangka Penipuan Jemaah Umrah
Wali Kota Semarang:...
Wali Kota Semarang: Butuh Komitmen Bersama dalam Pemberantasan Korupsi
Kasus Debt Collector...
Kasus Debt Collector dan Nasabah Digerebek di Purworejo Berakhir Damai
Tidar Jakarta Barat...
Tidar Jakarta Barat Yakin Sudaryono Mampu Perkuat Tata Kelola Program MBG
Ketua HMI Merauke: PSN...
Ketua HMI Merauke: PSN Harus Tingkatkan Pendidikan dan Kesejahteraan Orang Asli Papua
Polisi Sudah Periksa...
Polisi Sudah Periksa 10 Saksi di Kasus Dugaan Penghinaan Profesi Wartawan oleh Hotman Paris
Infografis
Sudaryono, Anak Petani...
Sudaryono, Anak Petani Grobogan yang Dipercaya Jadi Ketua BGN
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved