Sejarah dan Asal-usul Nama Sibolga, Kota Terkecil di Indonesia
Jum'at, 10 November 2023 - 10:41 WIB
loading...
Sibolga merupakan kota terkecil di Indonesia yang berada di Provinsi Sumatera Utara. Foto/Cagar Budaya Provinsi Sumatera Utara
A
A
A
JAKARTA - Sibolga merupakan salah satu kota yang berada di Provinsi Sumatera Utara . Kota ini dikenal sebagai kota terkecil di Indonesia karena hanya memiliki luas sekitar 10,77 km persegi.
Kota Sibolga menyimpan sejarah unik yang menarik untuk diketahui. Adapun sejarah dan asal-usul nama Sibolga sebagai berikut.
Dalam sejarahnya, nama Sibolga sendiri berasal dari kata “Sibolang”, yang merupakan nama salah satu anak Ompu Datu Hurinjom. Sibolang kemudian menikah dengan anak Datuk Bandar dan menjadi penguasa di Pulau Poncan Ketek.
Baca Juga Sejarah dan Asal-usul Nama Kabupaten Batu Bara di Sumatera Utara
Nama Sibolang kemudian berubah menjadi Sibolga karena pengaruh bahasa Melayu. Hingga kini nama Sibolga menjadi nama kota yang mempunyai pemerintahan sendiri dan diakui di Sumatera Utara.
Dilansir dari laman resmi pemerintahannya, sejarah Kota Sibolga dimulai dari sebuah bandar kecil di Teluk Tapian Nauli dan terletak di Pulau Poncan Ketek. Pulau kecil ini letaknya tidak jauh dari kota Sibolga yang sekarang ini.
Diperkirakan bandar tersebut berdiri sekitar abad ke-18 dan sebagai penguasa adalah Datuk Bandar. Namun pada masa kolonial Belanda, pulau tersebut dianggap tidak dapat berkembang dan mulai sepi.
Hal tersebut terjadi karena Pulau Poncan terlalu kecil sehingga tidak memungkinkan menjadi kota pelabuhan yang fungsinya bukan saja sebagai tempat bongkar muat barang, tetapi juga akan berkembang sebagai kota perdagangan.
Baca Juga Sejarah dan Asal-usul Binjai, Kota di Sumatera Utara yang Terkenal
Pada akhirnya, bandar Pulau Poncan pun mati, bahkan bekasnya pun tidak terlihat hingga saat ini. Sebaliknya, Bandar Baru, yaitu Kota Sibolga yang sekarang berkembang pesat menjadi pusat kota pelabuhan dan perdagangan.
Masuk zaman awal kemerdekaan Indonesia, Kota Sibolga menjadi ibu kota Keresidenan Tapanuli di bawah pimpinan seorang Residen dan membawahi beberapa "Luka atau Bupati".
Berbeda dengan sebelumnya, pada zaman revolusi fisik, Sibolga menjadi wilayah tempat kedudukan Gubernur Militer Wilayah Tapanuli dan Sumatera Timur Bagian Selatan. Kedudukan wilayah tersebut berlanjut hingga dikeluarkannya surat keputusan Gubernur yang menjadikan wilayah itu Daerah Otonom Tingkat "D".
Kemudian dengan dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1956 Sibolga ditetapkan menjadi Daerah Swatantra Tingkat II dengan nama Kotapraja Sibolga yang dipimpin oleh seorang Walikota dan daerah wilayahnya sama dengan Surat Keputusan Residen Tapanuli Nomor: 999 tanggal 19 November 1946.
Beralih pada Peraturan Pemerintah Nomor: 19 Tahun 1979 tentang pola dasar Pembangunan Daerah Sumatera Utara, Sibolga ditetapkan Pusat Pembangunan Wilayah I Pantai Barat Sumatera Utara.
Pada perkembangan yang terakhir, dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Daerah Nomor: 4 Tahun 2001, tentang Pembentukan Organisasi Kantor Kecamatan, Sibolga dibagi menjadi 4 (empat) Kecamatan, yaitu: Kecamatan Sibolga Utara, Kecamatan Sibolga Kota, Kecamatan Sibolga Selatan, dan Kecamatan Sibolga Sambas.
Kota Sibolga menyimpan sejarah unik yang menarik untuk diketahui. Adapun sejarah dan asal-usul nama Sibolga sebagai berikut.
Sejarah dan Asal-usul Nama Sibolga
Dalam sejarahnya, nama Sibolga sendiri berasal dari kata “Sibolang”, yang merupakan nama salah satu anak Ompu Datu Hurinjom. Sibolang kemudian menikah dengan anak Datuk Bandar dan menjadi penguasa di Pulau Poncan Ketek.
Baca Juga Sejarah dan Asal-usul Nama Kabupaten Batu Bara di Sumatera Utara
Nama Sibolang kemudian berubah menjadi Sibolga karena pengaruh bahasa Melayu. Hingga kini nama Sibolga menjadi nama kota yang mempunyai pemerintahan sendiri dan diakui di Sumatera Utara.
Dilansir dari laman resmi pemerintahannya, sejarah Kota Sibolga dimulai dari sebuah bandar kecil di Teluk Tapian Nauli dan terletak di Pulau Poncan Ketek. Pulau kecil ini letaknya tidak jauh dari kota Sibolga yang sekarang ini.
Diperkirakan bandar tersebut berdiri sekitar abad ke-18 dan sebagai penguasa adalah Datuk Bandar. Namun pada masa kolonial Belanda, pulau tersebut dianggap tidak dapat berkembang dan mulai sepi.
Hal tersebut terjadi karena Pulau Poncan terlalu kecil sehingga tidak memungkinkan menjadi kota pelabuhan yang fungsinya bukan saja sebagai tempat bongkar muat barang, tetapi juga akan berkembang sebagai kota perdagangan.
Baca Juga Sejarah dan Asal-usul Binjai, Kota di Sumatera Utara yang Terkenal
Pada akhirnya, bandar Pulau Poncan pun mati, bahkan bekasnya pun tidak terlihat hingga saat ini. Sebaliknya, Bandar Baru, yaitu Kota Sibolga yang sekarang berkembang pesat menjadi pusat kota pelabuhan dan perdagangan.
Masuk zaman awal kemerdekaan Indonesia, Kota Sibolga menjadi ibu kota Keresidenan Tapanuli di bawah pimpinan seorang Residen dan membawahi beberapa "Luka atau Bupati".
Berbeda dengan sebelumnya, pada zaman revolusi fisik, Sibolga menjadi wilayah tempat kedudukan Gubernur Militer Wilayah Tapanuli dan Sumatera Timur Bagian Selatan. Kedudukan wilayah tersebut berlanjut hingga dikeluarkannya surat keputusan Gubernur yang menjadikan wilayah itu Daerah Otonom Tingkat "D".
Kemudian dengan dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1956 Sibolga ditetapkan menjadi Daerah Swatantra Tingkat II dengan nama Kotapraja Sibolga yang dipimpin oleh seorang Walikota dan daerah wilayahnya sama dengan Surat Keputusan Residen Tapanuli Nomor: 999 tanggal 19 November 1946.
Beralih pada Peraturan Pemerintah Nomor: 19 Tahun 1979 tentang pola dasar Pembangunan Daerah Sumatera Utara, Sibolga ditetapkan Pusat Pembangunan Wilayah I Pantai Barat Sumatera Utara.
Pada perkembangan yang terakhir, dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Daerah Nomor: 4 Tahun 2001, tentang Pembentukan Organisasi Kantor Kecamatan, Sibolga dibagi menjadi 4 (empat) Kecamatan, yaitu: Kecamatan Sibolga Utara, Kecamatan Sibolga Kota, Kecamatan Sibolga Selatan, dan Kecamatan Sibolga Sambas.
(okt)
Lihat Juga :