alexa snippet

Cerita Pagi

Syekh Ahmad Surkati, Sang Guru dan Sahabat Para Tokoh Pejuang

Syekh Ahmad Surkati, Sang Guru dan Sahabat Para Tokoh Pejuang
Syekh Ahmad Surkari.Foto/Istimewa
A+ A-
Sejarah umat Islam Indonesia, bahkan sejarah bangsa dan negara Indonesia, mungkin akan berbeda bila Syekh Ahmad Surkati tidak memutuskan hijrah ke negeri yang dulu dikenal dengan nama Hindia Belanda ini pada 1911. Dia menerima undangan Jamiat Khair untuk pindah dari Mekkah -pusat Islam dunia- untuk memimpin dan mengajar di sekolah-sekolah milik organisasi pendidikan modern tertua di Indonesia itu.

Kedatangan Syekh Ahmad Surkati berawal dari niat para pemimpin Jamiat Khair yang hendak mencari guru terbaik. Sebab, Jamiat Khair yang berdiri pada 13 Jumadil Awwal (Ula) 1323 H atau Senin Kliwon 17 Juli 1905 di Batavia (Jakarta), sebagai gerakan kebangkitan pendidikan, sudah memiliki sekolah di Tanah Abang dan Krukut.

Para pelopor Jamiat Khair, di antaranya Sayid Al Fachri bin Abdoerrahman al Masjhoer, Sayid Mohammad bin Abdoellah bin Shihab, Sayid Idroes bin Achmad bin Shihab, dan Sayid Sjehan bin Shihab, sepakat mencari guru terbaik dari Timur Tengah, seperti Al-Azhar, Kairo, Mesir; dan juga Mekkah. Akhirnya, setelah enam tahun mereka berhasil mendatangkan Syekh Ahmad Surkati, seorang allamah dan mufti di kota suci Mekkah serta pengajar resmi di Masjidil Haram.

Tak heran kalau sahabat dan saudaranya berusaha mencegahnya hijrah ke Indonesia yang saat itu masih dikenal dengan nama Hindia Belanda. Namun, Surkati menjawab dengan heroik, “Bagi saya, mati di Jawa dengan berjihad (berjuang) lebih mulia daripada mati di Mekkah tanpa jihad.”

Ahmad Surkati lahir pada 1875 di Dungulah, Sudan bagian utara. Ayahnya seorang ulama, lulusan Universitas Al-Azhar, Kairo. Dia pun sempat belajar di Al-Azhar, kemudian menimba ilmu di Mekkah dan Madinah sampai meraih gelar dan kedudukan tinggi di sana.

Syekh Ahmad Surkati mendarat di Batavia (Jakarta) pada Rabiul Awwal 1329 H atau Maret 1911 bersama beberapa kawan dekatnya yang mendampinginya sebagai guru. Dia tak butuh waktu lama menjadikan Jamiat Khair sebagai sekolah Islam berkualitas dan favorit.

Namun, konservatisme di kalangan mayoritas petingginya akhirnya membuat hubungan mereka retak, terutama setelah kasus fatwa kafaah di Solo. Akhirnya, Surkati pun hengkang dan bersama sahabat-sahabatnya di Batavia mendirikan Madrasah Al-Irsyad Al-Islamiyyah pada 15 Syawal 1332 H atau 6 September 1914.

Sejak awal berdirinya, Al-Irsyad dan Syekh Ahmad Surkati sudah bergulat dengan gerakan nasional Islam dan kebangsaan di Indonesia. Seperti dalam Kongres Al-Islam I di Cirebon pada 1922 bersama Sarekat Islam dan Muhammadiyah. Begitu pula dengan Kongres-Kongres Al-Islam berikutnya.

Syekh Ahmad Surkati mampu menjalin hubungan baik dengan para tokoh pergerakan bangsa dan umat, seperti KH Mas Mansur, HOS Tjokroaminoto, H Agus Salim, bahkan kemudian Bung Karno. Meski lahir dan besar di tengah gurun Afrika dan Arabia, Ahmad Surkati sudah menyatu jiwa dengan Indonesia, tanah air barunya.

“Aku merasa telah bertahun-tahun berkecimpung memimpin Al-Irsyad di Indonesia. Bahwa tiap-tiap dzarrah (atom) dari badan saya telah berganti dengan unsur-unsur Indonesia. Aku akan tetap hidup di Indonesia sampai akhir hayatku,” katanya seperti diungkapkan HM Rasyidi, salah satu murid utamanya yang kemudian menjadi menteri agama pertama RI.

Rasa keindonesiaannya itu telah menuntun Syekh Ahmad Surkati terlibat aktif dalam membimbing perjuangan golongan Islam Indonesia menghadapi penjajahan Belanda. Surkati pun dikenal sebagai “guru spiritual” Jong Islamieten Bond, sebuah organisasi intelektual muda Muslim berpendidikan Barat yang berdiri 1 Januari 1925.

Para aktivis JIB, seperti Mohammad Natsir, Mohammad Roem, Kasman Singodimedjo dan lainnya sering belajar kepada Syekh Ahmad Surkati. Kepada para pemuda JIB, Surkati tegas mengajarkan keyakinan Qur’ani bahwa setiap manusia dilahirkan dalam keadaan bebas dan merdeka. Belanda bukan hanya menjajah fisik namun juga menindas harkat dan jiwa bangsa Indonesia.

Syekh Ahmad Surkati sangat membenci penjajahan dan tidak mau umat Islam Indonesia diperbudak oleh orang-orang Belanda. Sikap anti penjajahan itu diperlihatkan dengan memperjuangkan persamaan derajat sesama manusia (Al-Musawa). Menurut Ahmad Surkati, ”Mencapai kebebasan dari penjajahan tidak dapat diraih dengan jiwa yang rendah.”
halaman ke-1 dari 2
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top