Kisah Jenderal Yoga Sugomo, Sedulur Sinorowedi yang Berani Minta Presiden Soeharto Tak Nyalon di Pilpres 1988
Selasa, 05 September 2023 - 13:23 WIB
loading...
A
A
A
Pada tahun 1988, Soeharto sudah berusia 67 tahun dan telah berkuasa selama 22 tahun. Jika kembali berkuasa, Jenderal Yoga khawatir Soeharto akan jenuh dan lelah.Di sisi lain sumber dan jaringan informasi Soeharto menurut Yoga juga semakin menyempit.
Bisnis keluarga dan anak-anak Soeharto yang semakin besar dan berpotensi jadi sasaran tembak juga menjadi pertimbangan. Jenderal Yoga ingin Soeharto di masa tuanya dalam keadaan baik-baik. Ia pun memberanikan diri mengungkapkan keinginannya.
Dalam pertemuan kecil di Jalan Cendana Jakarta Pusat bersama Benny Moerdani dan Sudharmono, Jenderal Yoga menyampaikan langsung kepada Soeharto.
Baca Juga: Kisah PKI Kocar-kacir Digebuk GP Ansor usai Rampas Tanah Muslimat NU Surabaya
Yoga juga menyatakan siapapun kader yang ditunjuk sebagai pengganti Soeharto dirinya siap mendukung dan mengamankan.Situasi sontak tegang. Perdebatan antara Yoga dan mereka yang menolak usulan pikirannya berlangsung keras.
“Sementara Pak Harto (Soeharto) terlihat lebih banyak diam dan tidak mengambil sikap”.
Situasi pro kontra itu disaksikan Ibu Tien Soeharto yang kebetulan melintasi ruang pertemuan. Ibu Tien Soeharto diam-diam mengamati dan memberi isyarat cenderung mendukung Yoga. Namun Soeharto dan dua rekan sejawatnya menolak semua usulan Jenderal Yoga.
Bisnis keluarga dan anak-anak Soeharto yang semakin besar dan berpotensi jadi sasaran tembak juga menjadi pertimbangan. Jenderal Yoga ingin Soeharto di masa tuanya dalam keadaan baik-baik. Ia pun memberanikan diri mengungkapkan keinginannya.
Dalam pertemuan kecil di Jalan Cendana Jakarta Pusat bersama Benny Moerdani dan Sudharmono, Jenderal Yoga menyampaikan langsung kepada Soeharto.
Baca Juga: Kisah PKI Kocar-kacir Digebuk GP Ansor usai Rampas Tanah Muslimat NU Surabaya
Yoga juga menyatakan siapapun kader yang ditunjuk sebagai pengganti Soeharto dirinya siap mendukung dan mengamankan.Situasi sontak tegang. Perdebatan antara Yoga dan mereka yang menolak usulan pikirannya berlangsung keras.
“Sementara Pak Harto (Soeharto) terlihat lebih banyak diam dan tidak mengambil sikap”.
Situasi pro kontra itu disaksikan Ibu Tien Soeharto yang kebetulan melintasi ruang pertemuan. Ibu Tien Soeharto diam-diam mengamati dan memberi isyarat cenderung mendukung Yoga. Namun Soeharto dan dua rekan sejawatnya menolak semua usulan Jenderal Yoga.
Lihat Juga :