Prevalensi Stunting Jawa Timur Dekati Angka Nasional
Kamis, 30 Juli 2020 - 21:02 WIB
loading...
A
A
A
Dalam kesempatan tersebut, Emil Dardak juga menyampaikan apresiasi terhadap YAICI dan PP Aisyiyah atas konsistensinya menggalakkan edukasi dan literasi gizi untuk masyarakat. Ia berharap target dari literasi gizi tidak hanya menyasar ibu dan anak, namun juga lingkungan sekitar yang mempengaruhi ibu.
(Baca juga: Diduga Zina, Oknum ASN dan Bidan Asal Sumenep Dituntut 5 Bulan Penjara )
“Ibu-ibu muda saat ini yang rata-rata kelahiran 1990 - 2000, adalah generasi millenial yang pastinya melek teknologi dan informasi. Tapi terkadang, pengambilan keputusan juga dipengaruhi oleh orang-orang disekitarnya, orang tua, mertua/ nenek. Karena itu, edukasi mengenai gizi dan kental manis juga harus diberikan kepada generasi yang lebih tua ini,” tegasnya.
Dalam kesempatan yang sama, anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani, menuturkan pembicaraan mengenai gizi anak harus berawal dari keluarga. Tingkat edukasi orang tua sangat mempengaruhi kualitas anak dan keluarga tersebut.
Sayangnya, berdasarkan profil keluarga BKKBN, sebanyak 16,95% atau kurang lebih 10 juta keluarga Indonesia masuk kategori prasejahtera. Sementara berdasarkan tingkat pendidikan kepada keluarga, terdapat 51,5% kepala keluarga yang menginjak pendidikan hanya sampai jenjang SD.
“Bisa dibayangkan, dengan situasi seperti ini bagaimana tumbuh kembang anak-anak kita. Belum lagi saat ini kita memasuki masa pandemi,” ungkap Netty.
Menurutnya, dibutuhkan kerjasama multi stakeholder untuk mengadvokasi keluarga keluarga prasejahtera dan keluarga rentan miskin, agar kebutuhan gizi anak dan keluarga tetap tercukupi.
(Baca juga: Diduga Zina, Oknum ASN dan Bidan Asal Sumenep Dituntut 5 Bulan Penjara )
“Ibu-ibu muda saat ini yang rata-rata kelahiran 1990 - 2000, adalah generasi millenial yang pastinya melek teknologi dan informasi. Tapi terkadang, pengambilan keputusan juga dipengaruhi oleh orang-orang disekitarnya, orang tua, mertua/ nenek. Karena itu, edukasi mengenai gizi dan kental manis juga harus diberikan kepada generasi yang lebih tua ini,” tegasnya.
Dalam kesempatan yang sama, anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani, menuturkan pembicaraan mengenai gizi anak harus berawal dari keluarga. Tingkat edukasi orang tua sangat mempengaruhi kualitas anak dan keluarga tersebut.
Sayangnya, berdasarkan profil keluarga BKKBN, sebanyak 16,95% atau kurang lebih 10 juta keluarga Indonesia masuk kategori prasejahtera. Sementara berdasarkan tingkat pendidikan kepada keluarga, terdapat 51,5% kepala keluarga yang menginjak pendidikan hanya sampai jenjang SD.
“Bisa dibayangkan, dengan situasi seperti ini bagaimana tumbuh kembang anak-anak kita. Belum lagi saat ini kita memasuki masa pandemi,” ungkap Netty.
Menurutnya, dibutuhkan kerjasama multi stakeholder untuk mengadvokasi keluarga keluarga prasejahtera dan keluarga rentan miskin, agar kebutuhan gizi anak dan keluarga tetap tercukupi.
Lihat Juga :