Kisah si Gigi Ompong Keturunan Mandiminyak yang Gagal Naik Takhta Jadi Raja Galuh
Rabu, 23 Agustus 2023 - 07:09 WIB
loading...
Raja Mandiminyak di Galuh. Foto/Ist
A
A
A
CIAMIS - Kemunculan dua kerajaan di barat Pulau Jawa tak lepas dari pecahnya Kerajaan Tarumanegara. Kedua kerajaan ini yakni Galuh dan Sunda, sebenarnya masih saling terkait dan memiliki hubungan kekeluargaan jika ditarik garis lurus.
Kerajaan Sunda mendapat warisan dari Kerajaan Tarumanegara berupa keturunan raja dan sistem pemerintahan kerajaan. Peristiwa pecahan ini terjadi pada tahun 670 M. Hal ini dibuktikan pada tahun 669 M, Tarusbawa mengirimkan utusan yang memberitahukan penobatannya kepada Kaisar Tiongkok.
Sedangkan Tarusbawa sendiri dinobatkan sebagai raja pada 18 Mei 669 M (menurut tahun saka berarti 9 bagian terang bulan Jesta tahun 591 Saka). Tarusbawa adalah sahabat baik Bratasena (Sena) yang memimpin Kerajaan Galuh periode ketiga pada tahun 709- 716 M.
Sebagaimana dikutip dari "Hitam Putih Pajajaran: Dari Kejayaan Hingga Keruntuhan Kerajaan Pajajaran", disebutkan Prasasti Canggal yang tertulis pada tahun 732 M, menjelaskan bahwa Bratasena memiliki nama lain Sanna. Ia merupakan paman dari Sanjaya. Persahabatan inilah yang mendorong Tarusbawa memutuskan memungut Sanjaya untuk dijadikan menantu.
Baca Juga: Kisah Runtuhnya Kerajaan Sunda, Raja Galuh Langgar Nikahi Wanita dari Majapahit
Sedangkan Bratasena harus turun takhta akibat dikudeta oleh Purbasora pada tahun 716 M. Purbasora merupakan cucu Wretikandayun, pendiri sekaligus raja pertama Kerajaan Galuh dari putra sulungnya, Batara Danghyang Guru Sempakwaja, pendiri Kerajaan Galunggung. Sedangkan Sena adalah cucu Wretikandayun dari putra bungsunya bernama Mandiminyak Raja Galuh kedua yang memimpin selama 7 tahun yakni 702 M hingga 709 M.
Dari garis keturunan tersebut bisa disimpulkan bahwa sebenarnya Purbasora dan Bratasena adalah saudara satu ibu, yang berhubungan gelap antara Mandiminyak dengan istri Sempakwaja. Sayang, sosok Sempakwaja tidak diperbolehkan menggantikan ayahnya menjabat sebagai raja Galuh dikarenakan gigi ompong.
Kerajaan Sunda mendapat warisan dari Kerajaan Tarumanegara berupa keturunan raja dan sistem pemerintahan kerajaan. Peristiwa pecahan ini terjadi pada tahun 670 M. Hal ini dibuktikan pada tahun 669 M, Tarusbawa mengirimkan utusan yang memberitahukan penobatannya kepada Kaisar Tiongkok.
Sedangkan Tarusbawa sendiri dinobatkan sebagai raja pada 18 Mei 669 M (menurut tahun saka berarti 9 bagian terang bulan Jesta tahun 591 Saka). Tarusbawa adalah sahabat baik Bratasena (Sena) yang memimpin Kerajaan Galuh periode ketiga pada tahun 709- 716 M.
Sebagaimana dikutip dari "Hitam Putih Pajajaran: Dari Kejayaan Hingga Keruntuhan Kerajaan Pajajaran", disebutkan Prasasti Canggal yang tertulis pada tahun 732 M, menjelaskan bahwa Bratasena memiliki nama lain Sanna. Ia merupakan paman dari Sanjaya. Persahabatan inilah yang mendorong Tarusbawa memutuskan memungut Sanjaya untuk dijadikan menantu.
Baca Juga: Kisah Runtuhnya Kerajaan Sunda, Raja Galuh Langgar Nikahi Wanita dari Majapahit
Sedangkan Bratasena harus turun takhta akibat dikudeta oleh Purbasora pada tahun 716 M. Purbasora merupakan cucu Wretikandayun, pendiri sekaligus raja pertama Kerajaan Galuh dari putra sulungnya, Batara Danghyang Guru Sempakwaja, pendiri Kerajaan Galunggung. Sedangkan Sena adalah cucu Wretikandayun dari putra bungsunya bernama Mandiminyak Raja Galuh kedua yang memimpin selama 7 tahun yakni 702 M hingga 709 M.
Dari garis keturunan tersebut bisa disimpulkan bahwa sebenarnya Purbasora dan Bratasena adalah saudara satu ibu, yang berhubungan gelap antara Mandiminyak dengan istri Sempakwaja. Sayang, sosok Sempakwaja tidak diperbolehkan menggantikan ayahnya menjabat sebagai raja Galuh dikarenakan gigi ompong.
Lihat Juga :