alexa snippet

Cerita Pagi

Mengenal RE Martadinata, Mantan Orang Nomor Satu di AL

Mengenal RE Martadinata, Mantan Orang Nomor Satu di AL
RE Martadinata. Foto/id.wikipedia.org
A+ A-
Dari sederetan tokoh yang pernah menjabat Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL), Laksamana TNI (Anumerta) Raden Eddy Martadinata adalah salah satunya.

Pria yang dilahirkan di Bandung, Jawa Barat, pada 29 Maret 1921 ini adalah putra pertama dari R Ruchijat Martadinata, seorang pegawai Departemen Peperangan Pemerintah Hindia Belanda (Department van Oorlog) dan Nyi R Soekaeni.

Sebenarnya, oleh kakeknya dia diberi nama Muchammad Zuchdi. Namun, oleh orangtunya dia diberi nama Eddy. Tahun 1927, Eddy memasuki masa sekolah di Hollandsch lnlandsche School (HIS) Kertapati. Dia terdaftar dengan nama Eddy Martadinata. 

Sikap kepemimpinannya sudah terlihat sejak dia sekolah di HIS. Oleh teman-teman sepermainannya, dia digelari 'Pesirah' atau disamakan dengan kedudukan lurah.

Saat bersekolah di Palembang, perhatian Eddy Martadinata sering tertuju kepada jurumudi motorboat, yang menyeberangkannya setiap hari jika pergi dan pulang sekolah. la sangat tertarik dan memerhatikan secara khusus segala gerak gerik juru mudi.

Tamat HIS pada 1934, Eddy Martadinata melanjutkan ke sekolah Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Palembang. Saat keluarganya pindah ke Bandung, Eddy melanjutkan ke MULO setempat. Tahun 1938 dia melanjutkan pendidikan ke Algemeene Middelbare School (AMS) di Jakarta.

Demi mewujudkan cita-cita menjadi pelaut, ia membujuk ayahnya agar diizinkan masuk ke Zeevaart Technische School (ZTS), yang kemudian menjadi Sekolah Teknik Pelayaran (STP). Setelah diizinkan, dia pun bersekolah di situ. Meski sempat terputus karena Jepang menutup semua sekolah di seluruh Indonesia, Eddy akhirnya lulus. Semua siswa STP yang lulus sebagian besar diminta bekerja pada pelayaran Jepang.

Eddy Martadinata sendiri sejak tanggal 1 Agustus 1943 diangkat menjadi guru tetap di STP Jakarta. Hal ini dilatarbelakangi nilai-nilai ujiannya sangat memuaskan dan budi pekertinya baik.

Pada 1 September 1944, Eddy Martadinata berhenti jadi guru karena mendapat kepercayaan untuk menjadi Nakhoda Kapal Latih Dai 28 Sakura Maru. Inilah jabatan yang sudah lama dia dambakan. Saat menjadi komandan kapal itu, Eddy menikah dengan gadis bernama Sutijarsih, anak dari teman bapaknya, Suryaputra.

Jelang Proklamasi 17 Agustus 1945, para pelaut seperti Eddy Martadinata, R Suryadi, Adam, Daryaatmaka, Suparlan, Achmad Hadi, Untoro Kusmardjo, dan Jasanatakusumah menggalang persatuan dan kekuatan untuk menyongsong kemerdekaan. Mereka mengadakan hubungan dengan kelompok pemuda pejuang lainnya, di antaranya dengan kelompok pemuda Sukarni dan Chaerul Saleh.

Pada 10 September 1945, Badan Keamanan Rakyat (BKR) Laut Pusat terbentuk. RE Martadinata ditunjuk sebagai pimpinan BKR-Laut Banten yang bertugas membendung tentara Serikat ke Jawa Barat lewat laut.

Menyusul Maklumat Pemerintah pada tanggal 5 Oktober 1945 tentang lahirnya Tentara Keamanan Rakyat (TKR), secara otomatis organisasi BKR-Laut menjadi TKR-Laut. Saat Markas Besar MBU TKR-Laut dipindahkan dari Jakarta ke Yogyakarta, RE Martadinata diperintahkan supaya pindah ke Yogyakarta untuk membantu pimpinan MBU TKR-Laut. Selain itu, dia mendapat tugas sebagai Perwira Pendidikan MBU TKR-Laut.

Pada 25 Januari 1946, TKR diganti menjadi TRI. TKR-Laut pun menjadi TRI-Laut. Sebulan kemudian menjadi Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI). Pada Maret 1946, RE Martadinata menjadi Kepala Staf Operasi V (KSO V/Bagian Perencana) di MBU ALRI.
halaman ke-1 dari 3
loading gif
Top