Kisah Singa Barong, Kereta Keramat Peninggalan Kesultanan Cirebon
Selasa, 11 Juli 2023 - 09:34 WIB
loading...
A
A
A
Roda tersebut pada masa sekarang akrab disebut dengan velg racing. Fungsi roda tersebut untuk membuang bobot kereta agar tidak terlalu berat. Fungsi 4 roda dengan ukuran berbeda agar kereta bisa berputar 90 derajat sehingga mudah untuk dibelokkan.
Tidak hanya itu, saat ada angin, sayap akan bergerak ke dalam, sehingga orang yang ada di dalam kereta kencana kepanasan. Penutup pada bagian atas kereta kencana juga bisa dibuka, disesuaikan dengan keinginan sultan.Baca Juga: Kisah Maksum Jauhari, Ulama dan Pendekar Silat Legendaris NU yang Miliki Berbagai Karamah
Bahkan di bagian belakang dilengkapi dengan bagasi. Konon semua mobil canggih buatan Eropa mengadopsi teknologi yang ada di Kereta Singa Barong.
Sultan Sepuh XIV Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat mengatakan hampir semua kereta di keraton-keraton Indonesia merupakan buatan Eropa. Berbeda dengan Kereta Singa Barong yang dibuat oleh cicit Sunan Gunung Jati.
Cicitnya itu yakni Panembahan Losari dan ahli ukirnya berasal dari Kaliwulu, Kabupaten Cirebon, pada abad ke-15. Arief merinci, burung menggambarkan budaya Timur Tengah dalam hal ini agama Islam; Gajah menggambarkan India atau Hindu.
Kemudian Naga menggambarkan Tiongkok atau Buddha. Dengan kata lain, kereta yang ditarik oleh empat kerbau putih atau kebo bule ini menggambarkan adanya tiga budaya dari tiga agama dan bangsa yang berbeda.
Baca Juga: Kisah Karomah Abah Guru Sekumpul Mendengar Suara Hati Habib Maksum
Konon, lambang negara Indonesia berupa Garuda Pancasila, salah satunya mengambil nilai kearifan lokal dari gambaran Singa Barong tersebut.
Tidak hanya itu, saat ada angin, sayap akan bergerak ke dalam, sehingga orang yang ada di dalam kereta kencana kepanasan. Penutup pada bagian atas kereta kencana juga bisa dibuka, disesuaikan dengan keinginan sultan.Baca Juga: Kisah Maksum Jauhari, Ulama dan Pendekar Silat Legendaris NU yang Miliki Berbagai Karamah
Bahkan di bagian belakang dilengkapi dengan bagasi. Konon semua mobil canggih buatan Eropa mengadopsi teknologi yang ada di Kereta Singa Barong.
Sultan Sepuh XIV Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat mengatakan hampir semua kereta di keraton-keraton Indonesia merupakan buatan Eropa. Berbeda dengan Kereta Singa Barong yang dibuat oleh cicit Sunan Gunung Jati.
Cicitnya itu yakni Panembahan Losari dan ahli ukirnya berasal dari Kaliwulu, Kabupaten Cirebon, pada abad ke-15. Arief merinci, burung menggambarkan budaya Timur Tengah dalam hal ini agama Islam; Gajah menggambarkan India atau Hindu.
Kemudian Naga menggambarkan Tiongkok atau Buddha. Dengan kata lain, kereta yang ditarik oleh empat kerbau putih atau kebo bule ini menggambarkan adanya tiga budaya dari tiga agama dan bangsa yang berbeda.
Baca Juga: Kisah Karomah Abah Guru Sekumpul Mendengar Suara Hati Habib Maksum
Konon, lambang negara Indonesia berupa Garuda Pancasila, salah satunya mengambil nilai kearifan lokal dari gambaran Singa Barong tersebut.
Lihat Juga :