Bisa Picu Klaster Baru, Orientasi Siswa Baru Disarankan Digelar Secara Virtual
Senin, 27 Juli 2020 - 17:27 WIB
loading...
A
A
A
Saharuddin menjelaskan bahwa belum ada urgensi memaksakan anak-anak ke sekolah di tengah pandemi. Kalau pun kalendar pendidikan harus berjalan, lanjut dia, ada baiknya mengoptimalkan teknologi. Bisa melaksanakan belajar maupun orientasi siswa secara virtual.
"Di tengah pandemi ini, tidak bisa kita seenaknya mau pengenalan sekolah langsung tatap muka. Nanti bisa jadi masalah, lagi pula pengenalan sekolah bisa lewat internet, itu saja yang dioptimalkan," ucapnya.
Baca Juga: Disdik Makassar Diminta Data Siswa yang Tak Tertampung Sekolah Negeri
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Bidang Pendidikan Dasar Disdik Makassar, Ahmad Hidayat, membenarkan orientasi siswa baru memang lebih baik dilakukan secara virtual. Namun, pihaknya memberikan kewenangan sekolah menggelar pertemuan langsung untuk MPLS karena ada anak-anak dengan tingkat ekonomi rendah yang tak memiliki gadget, semisal smartphone.
Hidayat menambahkan kalau pun ada tatap muka dalam MPLS, pastinya dilakukan dengan protokol kesehatan. Jumlah siswa yang hadir dibatasi misalnya cuma 10 orang dan hanya berada di sekolah selama dua jam. Selanjutnya, nanti ada lagi gelombang berikutnya. Sekolah pun dipastikannya mesti steril dan menyiapkan tempat cuci tangan.
"Di tengah pandemi ini, tidak bisa kita seenaknya mau pengenalan sekolah langsung tatap muka. Nanti bisa jadi masalah, lagi pula pengenalan sekolah bisa lewat internet, itu saja yang dioptimalkan," ucapnya.
Baca Juga: Disdik Makassar Diminta Data Siswa yang Tak Tertampung Sekolah Negeri
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Bidang Pendidikan Dasar Disdik Makassar, Ahmad Hidayat, membenarkan orientasi siswa baru memang lebih baik dilakukan secara virtual. Namun, pihaknya memberikan kewenangan sekolah menggelar pertemuan langsung untuk MPLS karena ada anak-anak dengan tingkat ekonomi rendah yang tak memiliki gadget, semisal smartphone.
Hidayat menambahkan kalau pun ada tatap muka dalam MPLS, pastinya dilakukan dengan protokol kesehatan. Jumlah siswa yang hadir dibatasi misalnya cuma 10 orang dan hanya berada di sekolah selama dua jam. Selanjutnya, nanti ada lagi gelombang berikutnya. Sekolah pun dipastikannya mesti steril dan menyiapkan tempat cuci tangan.
(tri)
Lihat Juga :