Kisah Tragis Pengkhianat Erberveld di Balik Nama Kampung Pecah Kulit Jakbar
Minggu, 09 Juli 2023 - 12:08 WIB
loading...
A
A
A
Tubuh Erberveld dan pengikut lainnya diikat pada kayu salib. Tali-tali kayu dihubungkan dengan 4 kuda yang menghadap ke arah berlawanan. Ketika 4 kuda ditarik, kulit Erberveld dan anggota tubuh lainnya terbelah atau terpecah.
Daging-daging mereka dibiarkan sebagai santapan burung-burung pemakan bangkai. Bahkan sebelum mereka benar-benar meninggal, tubuh mereka disayat-sayat berkali-kali dengan senjata tajam.
Eksekusi sadis ini sebagai pesan dari VOC kepada masyarakat agar mereka tidak melakukan tindakan yang melawan hukum. Tempat eksekusi tersebut saat ini dikenal sebagai Kampung Pecah Kulit.
Dikutip dari portal resmi Pemprov DKI Jakarta, di Kampung Pecah Kulit dibuatkan monumen yang di atasnya terdapat tengkorak seperti kepala Pieter Erberveld. Monumen Erberveld dibangun dengan tulisan dua bahasa yaitu bahasa Belanda dan Jawa dengan tulisan cat putih.
Monumen itu bertuliskan “Sebagai kenangan dari pengkhianat Pieter Erberveld, tidak seorang pun kini boleh membangun, membuat, meletakkan bata atau menanam di tempat ini. Batavia, 14 April 1722”. Kini, prasasti asli berada di Museum Sejarah Jakarta.
MG/Vanya Aisy Nourzaki
Daging-daging mereka dibiarkan sebagai santapan burung-burung pemakan bangkai. Bahkan sebelum mereka benar-benar meninggal, tubuh mereka disayat-sayat berkali-kali dengan senjata tajam.
Eksekusi sadis ini sebagai pesan dari VOC kepada masyarakat agar mereka tidak melakukan tindakan yang melawan hukum. Tempat eksekusi tersebut saat ini dikenal sebagai Kampung Pecah Kulit.
Dikutip dari portal resmi Pemprov DKI Jakarta, di Kampung Pecah Kulit dibuatkan monumen yang di atasnya terdapat tengkorak seperti kepala Pieter Erberveld. Monumen Erberveld dibangun dengan tulisan dua bahasa yaitu bahasa Belanda dan Jawa dengan tulisan cat putih.
Monumen itu bertuliskan “Sebagai kenangan dari pengkhianat Pieter Erberveld, tidak seorang pun kini boleh membangun, membuat, meletakkan bata atau menanam di tempat ini. Batavia, 14 April 1722”. Kini, prasasti asli berada di Museum Sejarah Jakarta.
MG/Vanya Aisy Nourzaki
(jon)
Lihat Juga :