IKAPPI: Penutupan Pasar Keputran Adalah Cara Premanisme Pemkot Surabaya
Sabtu, 25 Juli 2020 - 20:11 WIB
loading...
Humas DPP Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) Reynaldi menyoroti aksi penutupan Pasar Keputran Surabaya yang dilakukan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya selama satu pekan ke depan. Dokumen/SINDOnews
A
A
A
SURABAYA - Humas DPP Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) Reynaldi menyoroti aksi penutupan Pasar Keputran Surabaya yang dilakukan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya selama satu pekan ke depan. Ia pun amat menyayangkan bahwa cara yang diambil oleh Pemkot terlalu berlebihan.
“Tidak harus ditutup. Cara menutup seperti ini adalah cara-cara premanisme yang dilakukan,” ujar Reynaldi yang diwawancarai via sambungan telepon, Jumat (25/07/2020).
Reynaldi pun menjelaskan, bahwasannya dalam transaksi jual beli di tengah situasi pandemi akibat Covid-19 saat ini, aktivitas seperti itu lebih aman dilakukan di pasar tradisional, namun dengan syarat bahwa pasar mengetatkan protokol kesehatannya dengan baik.
“Hal itu akan jauh lebih efektif untuk dikunjungi dan juga untuk aktivitas sehari-hari. Karena ada 92% pasar yang aman untuk dikunjungi saat ini, termasuk Pasar Keputran Surabaya,” tambahnya.
Oleh karenanya, penutupan Pasar Keputran yang dilakukan oleh Pemkot Surabaya adalah sebuah langkah tergesa-gesa. Mengingat efek dari adanya pandemi global ini akan memukul segala lini kehidupan, terutama perekonomian bangsa yang tengah carut marut dibuatnya.
“Ekonomi kita sudah anjlok. Jangan karena 37 orang, atau 1 orang terpapar, lantas pasar ditutup, Ini akan menjadi beban untuk Pemda terkait,” sambung Reynaldi.
Menurutnya, masih banyak cara lain yang dapat diambil oleh Pemkot, mulai dari melakukan penyemprotan cairan disinfektan pada saat jam operasional pasar tutup, isolasi mandiri jika ada yang terjangkit, larikan ke RS rujukan, lantas sterilisasi lapak si terjangkitnya, bukan malah menutup aktivitas pasar seluruhnya, yang tentunya akan mematikan laju perputaran ekonomi.
“Tidak harus ditutup. Cara menutup seperti ini adalah cara-cara premanisme yang dilakukan,” ujar Reynaldi yang diwawancarai via sambungan telepon, Jumat (25/07/2020).
Reynaldi pun menjelaskan, bahwasannya dalam transaksi jual beli di tengah situasi pandemi akibat Covid-19 saat ini, aktivitas seperti itu lebih aman dilakukan di pasar tradisional, namun dengan syarat bahwa pasar mengetatkan protokol kesehatannya dengan baik.
“Hal itu akan jauh lebih efektif untuk dikunjungi dan juga untuk aktivitas sehari-hari. Karena ada 92% pasar yang aman untuk dikunjungi saat ini, termasuk Pasar Keputran Surabaya,” tambahnya.
Oleh karenanya, penutupan Pasar Keputran yang dilakukan oleh Pemkot Surabaya adalah sebuah langkah tergesa-gesa. Mengingat efek dari adanya pandemi global ini akan memukul segala lini kehidupan, terutama perekonomian bangsa yang tengah carut marut dibuatnya.
“Ekonomi kita sudah anjlok. Jangan karena 37 orang, atau 1 orang terpapar, lantas pasar ditutup, Ini akan menjadi beban untuk Pemda terkait,” sambung Reynaldi.
Menurutnya, masih banyak cara lain yang dapat diambil oleh Pemkot, mulai dari melakukan penyemprotan cairan disinfektan pada saat jam operasional pasar tutup, isolasi mandiri jika ada yang terjangkit, larikan ke RS rujukan, lantas sterilisasi lapak si terjangkitnya, bukan malah menutup aktivitas pasar seluruhnya, yang tentunya akan mematikan laju perputaran ekonomi.
Lihat Juga :