Milenial Muhammadiyah Kesengsem dengan Bobby Nasution, Ada Apa?
Sabtu, 25 Juli 2020 - 07:39 WIB
loading...
A
A
A
"Sifat Bobby yang egaliter terbuka memudahkan dialog dalam pembangunan. Di sisi lain, organisasi seperti Muhammadiyah merupakan organisasi yang bersejarah, sepak terjang dalam memberdayakan umat sudah seabad lebih. Karena itu organisasi ini sangat dewasa dan terbuka dalam membangun kerjasama," pungkas Faisal Riza.
Pengamat politik dan pemerintahan Universitas Sumatera Utara (USU), Dadang Darmawan pun mengamati hal itu sebagai langkah positif Bobby Nasution. Dukungan program dari berbagai kalangan, termasuk milenial, adalah nilai positif yang kelak memudahkan kerja. (BACA JUGA: Peretas Akun Twitter Tokoh Dunia Intip Direct Messages 36 Akun)
"Dalam konteks Idealis, saya menduga gagasan kolaborasi atau pelibatan publik dalam pembangunan yang ditawarkan Bobby Nasution telah ditangkap sebagai gagasan yang maju dan produktif bagi ortom Muhammadiyah. Sehingga, ortom Muhammadiyah bisa turut mewarnai jalannya pembangunan Kota Medan ke depan," papar Dadang.
Secara pragmatis, menurut Dadang, kaum milenial umumnya berfikir realistis dimana mereka akan memutuskan untuk berkolaborasi dengan mitra mereka yang bisa menyahuti keinginan dan kebutuhan mereka. "Di samping itu mereka juga membaca siapa yang akan nantinya memimpin Kota di Medan di masa depan," tandasnya.
Pengamat politik dan pemerintahan Universitas Sumatera Utara (USU), Dadang Darmawan pun mengamati hal itu sebagai langkah positif Bobby Nasution. Dukungan program dari berbagai kalangan, termasuk milenial, adalah nilai positif yang kelak memudahkan kerja. (BACA JUGA: Peretas Akun Twitter Tokoh Dunia Intip Direct Messages 36 Akun)
"Dalam konteks Idealis, saya menduga gagasan kolaborasi atau pelibatan publik dalam pembangunan yang ditawarkan Bobby Nasution telah ditangkap sebagai gagasan yang maju dan produktif bagi ortom Muhammadiyah. Sehingga, ortom Muhammadiyah bisa turut mewarnai jalannya pembangunan Kota Medan ke depan," papar Dadang.
Secara pragmatis, menurut Dadang, kaum milenial umumnya berfikir realistis dimana mereka akan memutuskan untuk berkolaborasi dengan mitra mereka yang bisa menyahuti keinginan dan kebutuhan mereka. "Di samping itu mereka juga membaca siapa yang akan nantinya memimpin Kota di Medan di masa depan," tandasnya.
(vit)
Lihat Juga :