alexametrics

Cerita Pagi

Hari-hari Terakhir Pangeran Diponegoro di Pengasingan

loading...
Penjagaan bagi Diponegoro semakin diperketat ketika berada di Makassar. Jika di Fort Nieuw Amsterdam pangerah masih diperkenankan untuk keluar benteng, namun di Fort Rotterdam pangeran dan pengikutnya tidak sama sekali diizinkan untuk keluar.

Pangeran pun dibatasi ruang geraknya karena berita-berita mengenai dirinya bisa bocor ke luar, di mana dia masih bisa berkorespondensi dengan kerabatnya di Yogya. Pangeran pun tidak diizinkan untuk menulis surat, namun dia diperbolehkan menulis untuk kesenangan sendiri dengan buku-buku dan naskah-naskah Jawa yang disalinkan baginya atas biaya pemerintah.

Pada 1838 pangeram mulai menyusun dua naskah dengan aksara pegon yaitu Sejarah Ratu Tanah Jawa dan Hikayat Tanah Jawa.

Sejarah Ratu Tanah Jawa bercerita tentang sejarah Jawa dan legenda-legenda sejarah Jawa, mulai dari Nabi
Adam hingga jatuhnya Majapahit pada sekitar 1510 dan kedatangan Islam. Sementara Hikayat Tanah Jawa isinya seputar pemahaman pangeran tentang Islam, pengalaman-pengalaman religiusnya, doa-doa sufi dan berbagai teknik meditasi serta denah denah mistik.

Dalam dekade terakhir hidupnya pangeran mulai mempersiapkan saat kematiannya dengan apa yang dalam tradisi mistrik Syatariah dikenal dengan plawanganing pati atau membuka pintu gerbang kematian.

Sehingga pada akhir 1848 dia meminta pada Gubernur Jenderal agar diizinkan bertemu lagi dengan kedua putranya Pangeran Dipokusumo dan Raden Mas Raib. Namun hal itu tidak dikabulkan oleh Pemerintah Hindia Belanda.

Pangeran pun mulai diisolasi di dalam Benteng Fort Rotterdam. Karena pengaruh Diponegoro masih dirasakan sehingga ada kekhawatiran pangeran akan coba melarikan diri mengingat Makassar adalah pelabuhan bebas.

Pada 11 Mei 1849 Gubernur Jenderal di Batavia mengirimkan surat rahasia yang memerintahkan bahwa Diponegoro harus tetap menghabiskan sisa hidupnya di dalam benteng. Sampai pada Senin 8 Januari 1855 Pangeran wafat, di mana penyebab kematiannya adalah kondisi fisik yang terus menurun lantaran usia lanjut. Pangeran lalu dimakamkan di Kampung Melayu bersama dengan keris pusakanya Kanjeng Kiai Bondoyudo.

Sumber :
- Buku Takdir Riwayat Pangeran Diponegoro 1785-1855, Peter Carey
- Wikipedia
 


 
halaman ke-2 dari 3
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak