Sejarawan Ungkap Kerajaan Bercorak Hindu-Budha Terakhir Ternyata Ada di Malang

Minggu, 07 Mei 2023 - 08:40 WIB
loading...
Sejarawan Ungkap Kerajaan...
Bendungan Sengguruh di Kecamatan Kepanjen, jadi wilayah kerajaan Hindu Buddha terakhir di nusantara (istimewa)
A A A
MALANG - Kerajaan bercorak Hindu-Budha yang terakhir di nusantara bukanlah Majapahit, melainkan kerajaan di Malang. Ya, selama ini nama Kerajaan Majapahit dalam sejarah memang kerap disebut sebagai kerajaan terakhir bercorak Hindu-Budha sebelum masuknya Islam dan kuatnya pengaruh Kesultanan Demak.

Namun sejarawan Universitas Negeri Malang Muzakir Dwi Cahyono mengatakan, satu kerajaan Hindu Buddha terakhir yang berdiri justru berada di Malang. Kerajaan ini bernama Sengguruh, awalnya memang menjadi salah satu wilayah di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit.

"Ya boleh dikatakan memang yang (kerajaan Hindu Buddha) terakhir, lokasinya di daerah Malang selatan yakni Kerajaan Sengguruh," ucap Muzakir Dwi Cahyono dikonfirmasi MNC Portal.

Baca juga: Legenda Gunung Merapi, Kutukan Mpu Sakti dan Lenyapnya Mataram Kuno

Dwi Cahyono menuturkan, bila Kerajaan Sengguruh ini tercatat dari beberapa temuan sejarah dan penelitian yang ada mengalami keruntuhan pada tahun 1545. Saat itu Kesultanan Demak di bawah pimpinan Sultan Trenggono melakukan ekspansi ke timur dari Kerajaan Majapahit, yang telah berhasil ditaklukan.

"Itu kerajaan dari era akhir masa Hindu Budha, akhir abad 15 sampai awal abad 16. Kerajaan itu baru mengalami keruntuhan tahun 1545 baru runtuh, ketika diekspansi Demak di bawah perintah pimpinan Sultan Trenggono," jelasnya.

Nama Sengguruh sendiri dikisahkan pada naskah kuno yang ditulis di era Kerajaan Majapahit akhir berjudul Panji Margasemara sekitar tahun 1470-an. Di naskah itu Kerajaan Sengguruh dan beberapa nama daerah di wilayah Malang disebutkan dengan jelas oleh pengarangnya.

"Kitab Panji Margasemara menyebut juga tentang banyak desa-desa, tempat-tempat yang ada di wilayah Malang raya sekarang. Disebut banyak tempat, nama Kidal disebut, Gunung Gondomayet disebut, Kagenengan disebut, Singasari disebut, macam-macam, banyak tempat disebut, salah satu yang disebut adalah Sangguruh, yang ada di selatan," paparnya.

Dirinya menuturkan, berdasarkan naskah kuno itu ada seorang perempuan bernama Ken Candrawati yang bersembunyi dan melakukan kawin lari dengan kekasihnya. Disebutkan Ken Candrawati ini kabur ke sebuah wilayah di Malang selatan yang disebut pada naskah itu bernama Bale.

Selanjutnya kata Bale itu akhirnya mengingatkannya pada sebuah tempat bernama Balekambang, yang kini terkenal keindahan pantai di Desa Srigonco, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang. Usai dari Bale, perempuan cantik ini terus bergerak untuk menghindari pernikahan.

"Setelah dari bale menuju Sangguruh. Ini Nama kunonya adalah Sangguruh, bacanya jadi Sengguruh. Dulu sering kali dalam catatan Belanda, sering kali salah tulis, disebut Senggoro. Yang dimaksud Senggoro itu ya Sengguruh ini. Sering kali dituliskan hanya Senggoro. Kalau ditanya lokasinya dimana ya di selatan, di Malang bagian selatan," ungkapnya.

Penamaan nama Sangguruh atau Sengguruh disebutnya, itu yang akhirnya kini menjadi nama Desa Sengguruh, yang berada di Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang. Bahkan bendungan yang ada di sana pun dinamakan Bendungan Sengguruh sesuai nama daerahnya.

Namun dirinya memprediksi bahwa wilayah Kerajaan Sengguruh ini bukan hanya sekitar area Desa Sengguruh saat ini saja, melainkan meluas dan dipecah menjadi dua atau tiga desa.

"Bisa saja sengguruh dan sekitarnya, karena desa sengguruh itu semula desa yang luas. Kemudian pecah mekar menjadi dua dua desa atau tiga desa. Tapi paling tidak kalau kita lihat lokasi temuannya, selain di Desa Sengguruh sendiri temuan-temuan ini kita dapati di Desa Jenggolo, tetangganya itu hanya berseberangan jalan saja, Sengguruh di timur jalan, Jenggolo di barat jalan," kata dia.
(msd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Rayakan Nyepi, Warga...
Rayakan Nyepi, Warga Binaan Lapas Lombok Barat Gelar Pawai Ogoh-ogoh
Kisah Pilu Mpu Prapanca,...
Kisah Pilu Mpu Prapanca, Difitnah Kaum Bangsawan dan Diusir dari Istana Majapahit
Kisah Moksa Mahapatih...
Kisah Moksa Mahapatih Gajah Mada di Air Terjun Madakaripura
Harmonisasi Majapahit...
Harmonisasi Majapahit dan Campa Mulai dari Pernikahan Politik hingga Pemberian Suaka ke Raja
Kisah Raja Tribhuwana...
Kisah Raja Tribhuwana Tunggadewi Mempercayakan Perempuan Memimpin di Majapahit
Tiga Saran Gayatri Wujudkan...
Tiga Saran Gayatri Wujudkan Sumpah Palapa Gajah Mada
Vesak Festival 2026,...
Vesak Festival 2026, Stafsus Menag Doakan Presiden Prabowo Diberi Kekuatan Memimpin Bangsa
Indonesia di Antara...
Indonesia di Antara Quantum Warfare dan Multipolaritas
Hadiri Gema Waisak Pindapata...
Hadiri Gema Waisak Pindapata Nasional, Menag: Kita Belajar Kesederhanaan dan Kebijaksanaan
Rekomendasi
Cornelio Sunny Ungkap...
Cornelio Sunny Ungkap Alasan Somasi Keluarga Ratu Sofya, Singgung Pelanggaran Privasi
KPK Periksa Mantan Stafsus...
KPK Periksa Mantan Stafsus Menag Gus Yaqut terkait Kasus Kuota Haji
Betrand Peto Mengaku...
Betrand Peto Mengaku Pernah Ditampar Keluarga Sarwendah, KPAI Sarankan Segera Lapor Polisi
Berita Terkini
Gading Serpong Perkuat...
Gading Serpong Perkuat Posisi sebagai Koridor Komersial
Little Star Fun Run...
Little Star Fun Run di Surabaya, Ajang Lari Anak Tumbuhkan Kepercayaan Diri
Tiyo Ardianto Dilaporkan...
Tiyo Ardianto Dilaporkan ke Polres Tangsel, Pelapornya Pernah Ngaku-ngaku Punya Gunung Parung
Aliansi Masyarakat Jakarta...
Aliansi Masyarakat Jakarta Timur Minta Program MBG Dilanjutkan
Polisi Persilakan Tiyo...
Polisi Persilakan Tiyo Ardianto Bikin Laporan Dugaan Temuan Alat Pelacak di Mobil
Kasus Andrie Yunus,...
Kasus Andrie Yunus, Koordinator Kontras Penuhi Panggilan Polda Metro Jaya
Infografis
Ranking FIFA Terbaru:...
Ranking FIFA Terbaru: Argentina Gusur Spanyol di Puncak, Indonesia Meroket 4 Tingkat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved