Titik Nadir Pekerja Hiburan Malam di Masa Pandemi Corona
Rabu, 22 Juli 2020 - 08:04 WIB
loading...
A
A
A
Kehilangan pendapatan di tengah pandemi juga membuat Muti banting stir. Wanita berusia 26 tahun ini nekat menjajakan pesonannya kepada lelaki hidung belang melalui situs online. “Biasanya Rp750.000 sekali kencan sekarang Rp500.000 oke,” katanya. (Baca juga: Untuk Bertahan Hidup, Pemandu Lagu Jajakan Diri Lewat Online)
Jauh sebelum terjun ke prostitusi, profesi Muti merupakan pemandu lagu di salah satu tempat karaoke eksekutif di Jakarta Barat. Penghasilannya cukup melimpah dengan pendapatan bersih per minggu Rp 4-5 juta belum di tambah penghasilan bulanan dari pemilik karoke.
Pendapatan berubah usai tempat kerja tutup awal Maret 2020. Kesulitan membayar kontrakan Rp 1,2 juta per bulan, cicilan kendaraan, hingga lainnya membuatnya terpaksa menjajakan diri. “Waktu awal awal engga mau. Tapi lama kelamaan butuh untuk bertahan hidup,” ungkapnya.
Muti mengaku prostitusi online jauh lebih menguntungkan dibandingkan harus bekerja di tempat hiburan. Setiap harinya dia bisa menggaet tiga pelanggan dengan penghasilan paling sedikit Rp1 juta. “Belum yang lain-lainnya,” katanya.
Tidak semua wanita pekerja malam terjun bebas ke dunia prostitusi untuk menutupi kebutuhan hidupnya. Misalnya Bule. Pemandu lagu yang kerap disapa LC (Ladies Companion) di kawasan Jakarta Pusat ini bertahan hidup dengan menjual harta bendanya. Perhiasan, barang elektronik, termasuk tabungan, semua bures.
Berbagai cara dilakukan wanita berusia 28 tahun ini untuk dapat menyambung hidup. Sewa tempat tinggal atau kosan yang ditempatinya pun belum terbayar. Harta benda, mulai perhiasan hingga barang elektronik dan tabungan pun sudah bures. “Selama 5 bulan ini tidak ada kerjaan. Di kosan saja. Bayarnya jual emas, jual TV, sama tabungan. Sekarang semuanya udah habis," ungkapnya.
Kehidupan para pemandu lagu di tempat karaoke memang terbilang glamor. Bagaimana tidak, setiap malam mereka disuguhkan dengan kenikmatan gemerlapnya dunia malam. Kini, wanita berambut pirang ini hanya bisa pasrah menerima keadaan dan tak bisa berbuat banyak.
Bekerja sebagai LC, kata dia adalah sesuatu yang paling mudah karena tidak banyak membutuhkan keterampilan. Bermodal paras cantik dan bodi semampai sudah lebih dari cukup seorang pemandu lagu di tempat karaoke. "Saya sudah bekerja di tempat hiburan malam sejak 2011, sekarang enggak punya pekerjaan alias nganggur, enggak ada pemasukan," katanya. (Baca juga: Ada Video Dugaan Penyiksaan Uighur, China Masih Berkelit)
Jauh sebelum terjun ke prostitusi, profesi Muti merupakan pemandu lagu di salah satu tempat karaoke eksekutif di Jakarta Barat. Penghasilannya cukup melimpah dengan pendapatan bersih per minggu Rp 4-5 juta belum di tambah penghasilan bulanan dari pemilik karoke.
Pendapatan berubah usai tempat kerja tutup awal Maret 2020. Kesulitan membayar kontrakan Rp 1,2 juta per bulan, cicilan kendaraan, hingga lainnya membuatnya terpaksa menjajakan diri. “Waktu awal awal engga mau. Tapi lama kelamaan butuh untuk bertahan hidup,” ungkapnya.
Muti mengaku prostitusi online jauh lebih menguntungkan dibandingkan harus bekerja di tempat hiburan. Setiap harinya dia bisa menggaet tiga pelanggan dengan penghasilan paling sedikit Rp1 juta. “Belum yang lain-lainnya,” katanya.
Tidak semua wanita pekerja malam terjun bebas ke dunia prostitusi untuk menutupi kebutuhan hidupnya. Misalnya Bule. Pemandu lagu yang kerap disapa LC (Ladies Companion) di kawasan Jakarta Pusat ini bertahan hidup dengan menjual harta bendanya. Perhiasan, barang elektronik, termasuk tabungan, semua bures.
Berbagai cara dilakukan wanita berusia 28 tahun ini untuk dapat menyambung hidup. Sewa tempat tinggal atau kosan yang ditempatinya pun belum terbayar. Harta benda, mulai perhiasan hingga barang elektronik dan tabungan pun sudah bures. “Selama 5 bulan ini tidak ada kerjaan. Di kosan saja. Bayarnya jual emas, jual TV, sama tabungan. Sekarang semuanya udah habis," ungkapnya.
Kehidupan para pemandu lagu di tempat karaoke memang terbilang glamor. Bagaimana tidak, setiap malam mereka disuguhkan dengan kenikmatan gemerlapnya dunia malam. Kini, wanita berambut pirang ini hanya bisa pasrah menerima keadaan dan tak bisa berbuat banyak.
Bekerja sebagai LC, kata dia adalah sesuatu yang paling mudah karena tidak banyak membutuhkan keterampilan. Bermodal paras cantik dan bodi semampai sudah lebih dari cukup seorang pemandu lagu di tempat karaoke. "Saya sudah bekerja di tempat hiburan malam sejak 2011, sekarang enggak punya pekerjaan alias nganggur, enggak ada pemasukan," katanya. (Baca juga: Ada Video Dugaan Penyiksaan Uighur, China Masih Berkelit)
Lihat Juga :