Keluarga Korban Tragedi Kanjuruhan: FIFA Mewakili Perasaan Kami
Jum'at, 31 Maret 2023 - 09:44 WIB
loading...
Keputusan FIFA yang membatalkan Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 disebut keluarga korban tragedi Kanjuruhan sebagai tamparan keras ke pemerintah. (Ist)
A
A
A
MALANG - Keputusan FIFA yang membatalkan Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 disebut keluarga korban tragedi Kanjuruhan sebagai tamparan keras ke pemerintah. Pasalnya selama ini nasib keluarga korban tragedi Kanjuruhan untuk mencari keadilan pada proses hukum masih belum ada titik temu.
Juariyah selaku ibu dari korban tragedi Kanjuruhan menyatakan, pembatalan Indonesia jadi tuan rumah Piala Dunia U-20 menjadi tamparan keras ke pemerintah. Ia mengaku FIFA melihat kebijakan pemerintah dalam penanganan perkara Kanjuruhan yang belum selesai.
"(Pembatalan itu) mewakili perasaan kami, para korban, dan keluarga korban tragedi Kanjuruhan. Ini sebagai pengingat bahwa ada hal yang belum selesai di negeri ini," tegas Juariyah, ibu dari korban bernama Shifwa Dinar Artamevia, melalui keterangan tertulisnya pada Jumat pagi (31/3/2023).
Juariyah mengaku selama ini pemerintah tampaknya mulai melupakan para keluarga korban Tragedi Kanjuruhan. Apalagi dengan penegakan hukum yang masih jauh dari yang diinginkan keluar.
“Suara kami sudah mulai serak dan habis. Perhatian dan keadilan yang kami perjuangkan selama ini sepertinya tak didengarkan Pemerintah. Ini terlihat pada putusan-putusan pengadilan yang sungguh menyakiti hati dan merusak rasa keadilan kami," ungkapnya.
Juariyah selaku ibu dari korban tragedi Kanjuruhan menyatakan, pembatalan Indonesia jadi tuan rumah Piala Dunia U-20 menjadi tamparan keras ke pemerintah. Ia mengaku FIFA melihat kebijakan pemerintah dalam penanganan perkara Kanjuruhan yang belum selesai.
"(Pembatalan itu) mewakili perasaan kami, para korban, dan keluarga korban tragedi Kanjuruhan. Ini sebagai pengingat bahwa ada hal yang belum selesai di negeri ini," tegas Juariyah, ibu dari korban bernama Shifwa Dinar Artamevia, melalui keterangan tertulisnya pada Jumat pagi (31/3/2023).
Juariyah mengaku selama ini pemerintah tampaknya mulai melupakan para keluarga korban Tragedi Kanjuruhan. Apalagi dengan penegakan hukum yang masih jauh dari yang diinginkan keluar.
“Suara kami sudah mulai serak dan habis. Perhatian dan keadilan yang kami perjuangkan selama ini sepertinya tak didengarkan Pemerintah. Ini terlihat pada putusan-putusan pengadilan yang sungguh menyakiti hati dan merusak rasa keadilan kami," ungkapnya.
Lihat Juga :