Bos Densus 88 Bongkar Cara Kerja Teroris Kuasai Medsos untuk Rekrutmen
Selasa, 21 Maret 2023 - 07:53 WIB
loading...
A
A
A
Tujuan propagandis radikal teror itu pun bertahap setelah melakuan serangkaian mekanisme menguasai tren media sosial. Pertama adalah rekrutmen dengan cara membaca perilaku masyarakat, penguatan ideologi yakni mempengaruhi kepercayaan dan perilaku masyarakat, penguatan finansial yakni mengurangi kepercayaan pada suatu negara, penguatan organisasi dengan merugikan suatu pemerintahan negara hingga penguatan opini publik dengan mendiskreditkan insitusi publik dan swasta dan menabur perselisihan domestik.
Marthinus mengatakan, pada konteks media sosial, kelompok teror ISIS cerdas memanfaatkan momentum-momentum tertentu.
“Contohnya pada 2014, mereka memanfaatkan momentum World Cup (Piala Dunia) Brasil yang sedang tren dalam pencarian di media sosial, mereka (propagandis radikal-teror) menyisipkan berita-berita propaganda ke dalam tren (pencarian). Klik untuk diarahkan ke propaganda-propaganda medsos,” sambungnya.
Perekrutan di tingkat lokal, sangat dipengaruhi tren yang terjadi di ranah global. Marthinus mencontohkan isu trending lainnya yang dimanfaatkan propagandis radikal teror adalah kemenangan Donald Trump jadi Presiden Amerika Serikat pada tahun 2016 hingga Brexit tahun 2020.
“Twitter dan Facebook yang paling banyak digunakan (sebagai sarana propaganda radikal teror), karena di sana memiliki algoritma yang sedang tren,” jelasnya.
Marthinus mengatakan, pada konteks media sosial, kelompok teror ISIS cerdas memanfaatkan momentum-momentum tertentu.
“Contohnya pada 2014, mereka memanfaatkan momentum World Cup (Piala Dunia) Brasil yang sedang tren dalam pencarian di media sosial, mereka (propagandis radikal-teror) menyisipkan berita-berita propaganda ke dalam tren (pencarian). Klik untuk diarahkan ke propaganda-propaganda medsos,” sambungnya.
Perekrutan di tingkat lokal, sangat dipengaruhi tren yang terjadi di ranah global. Marthinus mencontohkan isu trending lainnya yang dimanfaatkan propagandis radikal teror adalah kemenangan Donald Trump jadi Presiden Amerika Serikat pada tahun 2016 hingga Brexit tahun 2020.
“Twitter dan Facebook yang paling banyak digunakan (sebagai sarana propaganda radikal teror), karena di sana memiliki algoritma yang sedang tren,” jelasnya.
Lihat Juga :