Asal Usul dan Sejarah Pamekasan, Wilayah di Madura yang Jadi Pangkalan Pemberontak Mataram
Jum'at, 24 Februari 2023 - 20:46 WIB
loading...
A
A
A
Pada masa VOC, Daendels (1808-1811), dan Raffles (1811-1816) bentuk kerajaan dipertahankan dan dikenakan sistem upeti.
Kemudian, pada tahun 1857 dibentuklah Karesidenan Madura dengan Pamekasan sebagai ibu kotanya dengan pejabat residen Belanda. Pada tahun 1928-1931 dibentuk Karesidenan Madura Timur meliputi Pamekasan dan Sumenep, beribukota di Pamekasan.
Pada tahun 1831 Belanda membentuk Korps Barisan Madura sebagai bagian dari Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL) yang direkrut dari pribumi.
Bagi Belanda Pamekasan dianggap punya nilai ekonomis sebagai salah satu sentra garam di Madura. Para kolonial mengontrol langsung produksi dan memonopoli perdagangan garam, yang kerap memicu konflik dengan petani garam.
Masa pergerakan nasional mencatat peran putra Pamekasan, Mohammad Tabrani (1904-1984), seorang jurnalis dan tokoh Jong Java. Mohammad Tabrani menjadi Ketua Kongres Pemuda I pada tahun 1926 di Batavia.
Dalam kongres tersebut Tabrani mengusulkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, sedangkan Mohammad Yamin mengusulkan Bahasa Melayu.
Kemudian, pada tahun 1857 dibentuklah Karesidenan Madura dengan Pamekasan sebagai ibu kotanya dengan pejabat residen Belanda. Pada tahun 1928-1931 dibentuk Karesidenan Madura Timur meliputi Pamekasan dan Sumenep, beribukota di Pamekasan.
Pada tahun 1831 Belanda membentuk Korps Barisan Madura sebagai bagian dari Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL) yang direkrut dari pribumi.
Bagi Belanda Pamekasan dianggap punya nilai ekonomis sebagai salah satu sentra garam di Madura. Para kolonial mengontrol langsung produksi dan memonopoli perdagangan garam, yang kerap memicu konflik dengan petani garam.
Masa pergerakan nasional mencatat peran putra Pamekasan, Mohammad Tabrani (1904-1984), seorang jurnalis dan tokoh Jong Java. Mohammad Tabrani menjadi Ketua Kongres Pemuda I pada tahun 1926 di Batavia.
Dalam kongres tersebut Tabrani mengusulkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, sedangkan Mohammad Yamin mengusulkan Bahasa Melayu.
(bim)
Lihat Juga :