Kematian Akibat Jantung Tinggi, Dokter Sebut Mayoritas Pasien Datang Terlambat
Senin, 01 Agustus 2022 - 12:20 WIB
BANDUNG - Mayoritas pasien penyakit jantung terlambat dalam mengakses fasilitas kesehatan. Padahal, penyakit jantung menjadi penyakit dengan jumlah kematian cukup tinggi di Indonesia dan dunia.
"Yang datang untuk melakukan pencegahan itu hampir tidak ada atau minim. Kami ini para dokter, sibuk melakukan pelayanan pengobatan, bukan pelayanan pencegahan," kata dokter penyakit jantung Agus Thosin, Senin (1/8/2022).
Diketahui, Indonesia merupakan negara dengan jumlah populasi penduduk terbanyak ke-empat di dunia, dengan total kurang lebih sebanyak 274 juta jiwa. Dari sekian banyak jumlah penduduk di Indonesia, sebanyak 2,7 juta penduduk di Indonesia menderita penyakit jantung.
Baca juga: Demam Citayam Fashion Week Menular ke Majalengka, Emak-emak Lenggak-lenggok di Jembatan Bambu
Menurut dia, pasien yang datang ke rumah sakit atau dokter jantung mayoritas sudah bergejala atau dalam kondisi telah sakit jantung. Apalagi untuk kategori serangan jantung (attack jantung) saat ini semakin banyak menyerang masyarakat. Bahkan, pasiennya semakin muda, bukan kalangan usia tua.
"Untuk attack (serangan) jantung sekarang makin muda. Usia produktif makin naik. Ini karena beberapa faktor risiko. Parahnya lagi, kadang sudah terasa ada kelainan, dia tidak ke UGD tapi ke klinik karena khawatir divonis jantung," katanya.
Dia berharap, masyarakat tidak sungkan melakukan deteksi dini penyakit jantung. Apalagi saat ini ada aplikasi Jantungku. Saat ini, aplikasi pendeteksi penyakit kesehatan jantung Jantungku terus meningkatkan layanan dengan memaksimalkan teknologi Artificial Intelligence (AI). Penggunaan teknologi ini diharapkan akan menambah fitur kesehatan bagi penggunanya, di tengah kasus kematian akibat jantung yang masih cukup tinggi.
Agus yang juga salah satu co-founder Jantungku mengatakan, Jantungku memiliki fitur yang merupakan sebuah terobosan baru dalam aplikasi kesehatan ini. Sejauh ini terdapat penyimpanan catatan medis digital yang dapat menyimpan data kesehatan penggunanya dengan aman.
"Yang datang untuk melakukan pencegahan itu hampir tidak ada atau minim. Kami ini para dokter, sibuk melakukan pelayanan pengobatan, bukan pelayanan pencegahan," kata dokter penyakit jantung Agus Thosin, Senin (1/8/2022).
Diketahui, Indonesia merupakan negara dengan jumlah populasi penduduk terbanyak ke-empat di dunia, dengan total kurang lebih sebanyak 274 juta jiwa. Dari sekian banyak jumlah penduduk di Indonesia, sebanyak 2,7 juta penduduk di Indonesia menderita penyakit jantung.
Baca juga: Demam Citayam Fashion Week Menular ke Majalengka, Emak-emak Lenggak-lenggok di Jembatan Bambu
Menurut dia, pasien yang datang ke rumah sakit atau dokter jantung mayoritas sudah bergejala atau dalam kondisi telah sakit jantung. Apalagi untuk kategori serangan jantung (attack jantung) saat ini semakin banyak menyerang masyarakat. Bahkan, pasiennya semakin muda, bukan kalangan usia tua.
"Untuk attack (serangan) jantung sekarang makin muda. Usia produktif makin naik. Ini karena beberapa faktor risiko. Parahnya lagi, kadang sudah terasa ada kelainan, dia tidak ke UGD tapi ke klinik karena khawatir divonis jantung," katanya.
Dia berharap, masyarakat tidak sungkan melakukan deteksi dini penyakit jantung. Apalagi saat ini ada aplikasi Jantungku. Saat ini, aplikasi pendeteksi penyakit kesehatan jantung Jantungku terus meningkatkan layanan dengan memaksimalkan teknologi Artificial Intelligence (AI). Penggunaan teknologi ini diharapkan akan menambah fitur kesehatan bagi penggunanya, di tengah kasus kematian akibat jantung yang masih cukup tinggi.
Agus yang juga salah satu co-founder Jantungku mengatakan, Jantungku memiliki fitur yang merupakan sebuah terobosan baru dalam aplikasi kesehatan ini. Sejauh ini terdapat penyimpanan catatan medis digital yang dapat menyimpan data kesehatan penggunanya dengan aman.
tulis komentar anda