Aktivis Lingkungan Ramai-ramai Serukan Penggunaan Kemasan Guna Ulang

Senin, 18 Juli 2022 - 16:09 WIB
Koordinator Program Break Free From Plastic Asia Pasifik, Miko Aliño, menyebutkan bahwa beberapa daerah di Indonesia dan Asia pada umumnya memiliki kapasitas terbatas untuk menangani limbah sachet plastik dengan aman, dan seringkali memaksa pemerintah daerah untuk memilih opsi penanganan yang sangat berpolusi seperti teknologi insinerasi. Alhasil, katanya, penanganan yang diberikan hanya sebatas solusi semu yang pada akhirnya tidak menyelesaikan masalah.

“Kami meminta perusahaan untuk berhenti memproduksi dan membakar sachet, dan sebaliknya berinvestasi secara signifikan dalam sistem penggunaan kembali dan isi ulang,” pungkas Miko.

Sebelumnya, hasil brand audit GreenpeaceIndonesia Juni 2022 mengungkap tiga merek pencemar terbesar di Pulau Tidung. Sedang tipe sampah tidak bermerek yang paling banyak ditemukanadalah puntung rokok, sedotan plastik, dan kantong plastik/kresek.

Baca Juga: Ingatkan Bahaya Plastik, Ecoton Bangun Museum Botol Plastik Bekas

Greenpeace menyebutkan pencegahan sampah plastik ini tidak hanya tanggung jawab konsumen yang membuang sampah di pinggir pantai saja, tapi sudah saatnya produsen juga bertanggung jawab dengan polusi plastik dengan mengurangi penggunaan kemasan plastik sekali pakai untuk produknya. “Kami akan terus mengkampanyekan pemakaian guna ulang ini melalui sosial media,” ujar Juru Kampanye Urban Greenpeace Indonesia, MuharramAthaRasyadi.

Dia mengatakan kampanyeGreenpeacesaat ini juga lebih mendorong ke arah produsen dengan mengajak masyarakat ikut meminta mereka agar beralih ke produk-produk refil dan mengurangi produk sekali pakai.
(tri)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!