HPSN 2022, PKT Perkuat Komitmen Atasi Persoalan Sampah
Senin, 21 Februari 2022 - 20:17 WIB
Pengembangan program TPST Bessai Berinta juga langkah PKT memberdayakan masyarakat, khususnya di lima Kelurahan dan satu Kecamatan di Bontang. Di antaranya Kelurahan Tanjung Laut, Tanjung Laut Indah, Gunung Elai, Api-api, Bontang Kuala serta Kecamatan Bontang Utara secara umum.
Program ini juga melakukan pendampingan bagi Bank Sampah Unit (BSU) di tiap Kelurahan Kota Bontang, dengan mendorong masyarakat memilah langsung sampah rumah tangga untuk memperoleh manfaat berupa tabungan, dikonversi dari total sampah yang dikumpulkan setiap hari.
Saat ini sudah terdapat 22 BSU di seluruh Kelurahan Kota Bontang, dengan produktivitas yang terbilang tinggi untuk jenis sampah organik hingga anorganik.
Mulai 2020, implementasi program tersebut ditingkatkan melalui inovasi pengolahan sampah sisa makanan dengan budidaya Black Soldier Fly (BSF), guna memunculkan nilai ekonomi tambahan dengan target peningkatan produksi yang lebih besar.
Hal ini mengingat BSF mampu menghasilkan berbagai produk seperti kasgot (kompos padat), lindi (kompos cair) hingga larva yang bermanfaat untuk pakan ternak.
"Pengembangan program BSF berhasil membina dua kelompok baru di Kelurahan Loktuan dan Api-api Bontang Utara, serta mampu mengolah 974.538 Kilogram (Kg) sampah sisa makanan dan 16,69 Kg larva maggot dalam satu tahun," kata Rahmad.
Guna memperkuat program, pada pertengahan 2021 kelompok pengelola TPST Bessai Berinta juga dibekali peluang pembuatan Dry Maggot sebagai turunan BSF, sehingga bisa dikembangkan pada produk yang lebih bernilai karena mengandung asam amino dan protein.
Melalui bekal yang diberikan, potensi maggot didorong lebih optimal untuk dikelola mulai skala rumahan, menengah hingga industri yang bisa memberi dampak serta nilai ekonomi bagi masyarakat.
Hal ini sekaligus memotivasi pengembangan pengolahan limbah organik untuk kepentingan lingkungan, sekaligus upaya pengurangan emisi Gas Rumah Kaca (GRK), karena jika sampah organik dibiarkan cukup lama dapat menghasilkan gas metan yang berpengaruh terhadap ozon.
Program ini juga melakukan pendampingan bagi Bank Sampah Unit (BSU) di tiap Kelurahan Kota Bontang, dengan mendorong masyarakat memilah langsung sampah rumah tangga untuk memperoleh manfaat berupa tabungan, dikonversi dari total sampah yang dikumpulkan setiap hari.
Saat ini sudah terdapat 22 BSU di seluruh Kelurahan Kota Bontang, dengan produktivitas yang terbilang tinggi untuk jenis sampah organik hingga anorganik.
Mulai 2020, implementasi program tersebut ditingkatkan melalui inovasi pengolahan sampah sisa makanan dengan budidaya Black Soldier Fly (BSF), guna memunculkan nilai ekonomi tambahan dengan target peningkatan produksi yang lebih besar.
Hal ini mengingat BSF mampu menghasilkan berbagai produk seperti kasgot (kompos padat), lindi (kompos cair) hingga larva yang bermanfaat untuk pakan ternak.
"Pengembangan program BSF berhasil membina dua kelompok baru di Kelurahan Loktuan dan Api-api Bontang Utara, serta mampu mengolah 974.538 Kilogram (Kg) sampah sisa makanan dan 16,69 Kg larva maggot dalam satu tahun," kata Rahmad.
Guna memperkuat program, pada pertengahan 2021 kelompok pengelola TPST Bessai Berinta juga dibekali peluang pembuatan Dry Maggot sebagai turunan BSF, sehingga bisa dikembangkan pada produk yang lebih bernilai karena mengandung asam amino dan protein.
Melalui bekal yang diberikan, potensi maggot didorong lebih optimal untuk dikelola mulai skala rumahan, menengah hingga industri yang bisa memberi dampak serta nilai ekonomi bagi masyarakat.
Hal ini sekaligus memotivasi pengembangan pengolahan limbah organik untuk kepentingan lingkungan, sekaligus upaya pengurangan emisi Gas Rumah Kaca (GRK), karena jika sampah organik dibiarkan cukup lama dapat menghasilkan gas metan yang berpengaruh terhadap ozon.
Lihat Juga :