Merinding, Upacara Bersih Darah Dayak Menumpas Tentara Belanda dan Jepang

Sabtu, 29 Januari 2022 - 07:07 WIB
Ilustrasi meniup sumpit. Foto: Istimewa
SUMPIT merupakan alat perang paling ditakuti Belanda dari suku Dayak Punan, di Kalimantan Barat (Kalbar). Kepada pasukan sumpit ini, mereka bahkan menyebutnya dengan julukan yang juga menyeramkan, yakni Pasukan Hantu.

Senjata ini menjadi sangat ditakuti, karena bergerak dalam senyap dan memiliki racun yang sangat mematikan. Sekali kena, hanya dalam hitungan menit musuh akan lumpuh dan akhirnya mati.



Demikian Cerita Pagi kali ini akan mengulas secara singkat senjata tradisional suku Dayak Punan, di Kalimantan, dalam perangmelawan penjajah Belanda dan Jepang.

Baca juga: Tuah Sakti Panglima Burung, Sosok Gaib yang Jaga Suku Dayak saat Teraniaya dan Perang

Perang Belanda dengan suku Dayak Punan, di Kalimantan, ternyata membuktikan bahwa tidak semua senjata modern bisa menang dalam perang. Senjata tradisional, ternyata menjadi jauh mematikan dan menakuti musuh.

Sumpit merupakan senjata khas suku Dayak Punan, selain mandau. Senjata ini telah lama digunakan oleh suku Dayak Punan. Awalnya, senjata ini digunakan untuk berburu hewan. Lalu, berkembang digunakan untuk perang suku.

Saat penjajah Belanda datang, senjata ini digunakan untuk memukul balik musuh dan berhasil memberikan rasa takut.

Dalam perang di dalam hutan, suku Dayak Punan sangat unggul dari Belanda. Hutan merupakan rumah tinggal mereka, tempat tumpah darah mereka, dan masa depan mereka yang setiap incinya dikenal dengan sangat baik.

Baca: Kisah Mantan Kapolri Jenderal Hoegeng Pernah Ditempeleng Perwira Jepang

Sumpit perang suku Dayak Punan memiliki tiga bagian. Pertama batang sumpit yang bentuknya seperti pipa besi. Lalu anak sumpit atau uyan yang beracun pada matanya. Kemudian mata tombak yang terbuat dari besi.

Mata tombak pada ujung sumpit membuat sumpit Dayak Punan menjadi istimewa. Sehingga, saat mata sumpit habis, sumpit bisa tetap digunakan untuk menyerang seperti tombak. Batang sumpit dibuat dengan menggunakan kayu ulin.

Sedangkan anak panahnya dibuat dengan menggunakan kayu tulang yang dibuat lebar pada bagian pangkalnya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!